Sudah tiga minggu Rani tidak datang kerumah. Itu artinya sudah tiga minggu dia tidak bertemu dengan Abel. Setidaknya secara physik. Kalau suaranya , aku yakin dia masih sering bisa mendengarnya. Aku tidak Yakin kalau Buk Su tidak berpihak pada dia. Sejak umur 1 tahun buk Su jadi pengasuhnya. Enam bulan bersama sikecil itu pasti sudah membuatnya sangat terikat secara batiniah. Apalagi Rani sering juga memberinya uang lelah.
" Buk Su , gak main sampeyan iki!"
" Oh alah dik, bayangno ta , sampeyan gak iso ketemu anak anakmu. Iso iso stress sampeyan, " begitu katanya dengan senyum senyum kecil
" gak lucu , buk Su "
" sepurane , dik , sepurane "
" tambah ngelamak , buk su, mamae"
" lha.... lek wani nglamak nang sampeyan, idonono ae.... "
" setuju!"
" Iyo, tak idonane!"
Buk Su betul betul penolong Rani. Dia bahkan menelpon Rani kalau aku sedang tidak dirumah. Tujuannya supaya Rani bisa bertemu Abel. Wah!. Dan konyolnya , Buk Su itu tidak pernah takut kalau aku tahu akal akalannya lalu marah padanya. Dia yakin, aku cuma akan marah sedikit. Ia tahu , aku tidak akan tega misuhi dia atu menyuruhnya cuti untuk selamanya.
Kalau cuma main kucing kucingan begitu , barang kali akan aman aman saja.Suatu hari Ketika pulang dari puskesmas ngantar Alya yang dari pagi mencret terus , Buk Su menghadangku di pintu pagar sambil menangis. Ia berdandan rapi seperti mau pergi.
" Dik, Abel dibawa pergi mamanya, yok opo iki..."
" lho yo , akhirnya..... ",kataku dengan suara tenang. " mati kau!" tawaku dalam hati. Aku sudah mengira hal begini suatu hari pasti terjadi,"yok opo ceritane , buk Su...aduh sampeyan iki... "
" gini lho , dik. Tadi itu mamanya datang. Katanya mau lihat Abel. Abelnya masih tidur. Terus dia bilang kalau nanti Abelbangun mau diajak jalan jalan. Aku wis ngomong, dik, aku gak wani kalau gak ada ijin dari sampeyan. Terus dia bilang , tadi sudah telepon sampeyan. Katanya boleh.Terus aku disuruh dandan.Aku turun eh...... Abel sama mamanya sudah tidak ada."
" oh.... yo wis lho gak popo buk Su "
" Sepurane yo, dik, sepurane"
" yoh..... "
"Dik Abel ilang ya , mah. Dik Abel Ilang ya......", Alya malah menangis meraung raung," ayo,ma, cari.Ayo ma,cari...!" Alya menarik narik tanganku. Mengajak keluar rumah mencari adiknya.
" Dik Abel , bukan ilang ya. Dia dipinjam mamanya. Mamanya itu kangen sama Abel. nanti sore dikembalikan. Sekarang Alya bubuk saja. Mama bikinkan bubur ya, biar nanti perutnya tidak sakit"
" Wis Buk Su gak popo. Kan jelas Abel digowo mama-e. Gak popo wis. Sekarang sampeyan ya bisa istirahat"
" sepurane yo,dik.Sepurane "
" Yoh.... ". Aku lalu menidurkan Alya. Nekad juga ya Rani.
Siang itu aku tidak menelpon Amran. Aku yakin dia sudah tahu kalau Rani mengambil Abel. Tidak mungkin dia tidak terlibat. Bisa bisa semua ini asalnya dari ide dia. Jadi ketika malam dan dia tanya kok tidak ada suara Abel, aku katakan kalau Abel sedang bersama Rani. Amran terkejut dan menelpon Rani. Aku tertawa dalam hati. "itu sih sandiwara!".Mereka satu kantor dan lengket seperti perangko. Apa yang tidak meereka saling tidak tahu?. Sekarang merekapun berkonspirasi jahat padaku. Ok. Aku juga tidak akan terkejut bos!. Itu toh permainan kalian. Aku tidak akan ambil bagian.jadi aku tidak menanggapi keterkejutannya itu. Kubiarkan dia pura pura kaget dan merasa misinya berhasil. Apa yang harus kususahkan?. Abel itu anak mereka. Sekarang ada ditangan ibunya. Tempat yang aman dan semestinya bukan?.Jadi aku tidak akan ribut. Pasti enak tidak diganggu dengan teriakan teriakan minta susunya atau harus bangun tengah malam karena harus mengganti pempersnya yang penuh urine.
" Abel kok gak pulang ya, ma," tanya alya ketika kami tiduran.Dia sudah sangat kehilangan. Alya, dengan kakaknya sangat jauh jaraknya. Hampir 10 tahun. baginya Abel betul betul adik dan teman bermain. Alya juga sangat mengalah dengan Abel. Dia yahu , Abel itu masih kecil dan belum pintar. Dia tidak pernah marah meski abel merusak mainannya, menyobek buku gambarnya, menumpahkan kuenya nahkan ia juga tidak menangis kalau abel minta gendong aku dan dia harus duduk manis sendiri.Justru kakaknya yang protes kalau aku menyuruh Alya mengalah demi Abel.Kata mereka aku tidak adil.
" gak usah tanya tanya," jawabku kesel, " biar saja dia gak pulang!"
" jangan ma, jangan.... aku temannya siapa. Jangan ma, jangan. KIta cari ma... kita Cari.... "
ya Tuhan , aku ini ngomong apa sih ya. Aku kaget bisa ngomong seketus itu. Salah apa Abelia itu.
" iya, alya.... sekarang bobok saja ya. Sudah malam. Besok kita cari kerumah tante Rani.OK?!"
" kalau nggak ada gimana, ma... "
" kita cari terus. Kita minta tolong papa untuk ngembil dik Abel...."
" iya ya . mah. Kita telepon dulu supaya dik Abelnya nggak dibawa kerja "
" iya... yuk bobok yuk. Kita berdoa dulu, ok"
" Ok"
" tos dulu" lalu kami menepukkan telapan tangan.
3.
Hari ini aku telat bangun. Sholat subuh juga kesiangan. waadow,nyenyak sekali tidurku. Ternyata enak ya tidak ngurus bayi. Jam sembilan pagi semua pekerjaasn dirumah itu sudah selesai. Buk Su sudah nyuci dan membersihkan kamar mandi. Mbak Nur sudah juga bebenah kamar2 dan masak untuk hari itu. Anak anakku tidak berkomentar apa apa ketika tahu Abel dibawa mamanya mulai kemarin. Amran juga tidak pura pura bingung lagi. Kami tidak membicarakan kepergian Abelia. Sebenarnya , saling menahan hati dan mulut untuk tidak bicara soal dia.
Jujur akui sedikit gelisah. Menebak nebak apa yang sedang dikerjakan Rani dan Abel. Terbayang Abel terus menangis. Dia pasti heran dan tidak terbiasa denga Rani. Dan bisa ditebak , Rani segera akan merasa frustasi karena Abel minta apa apa dengan mengandalkan tangisnya dan Rani tidak bisa menterjemahklan tangisnya.Ah.Sukurin!kataku dalam hati. Memang gampang ngurusi anak!.Aku yakin itu akan terjadi. Abel baru berusia satu setengah tahun. Bicaranya juga masih terbatas. pasti sulit m,engurusnya kalau tidak biasa dengan dia. belum lagi sifat marahnya. Abel, bahkan bisa sangat frustasi dan membentuk bentukkan kepalanya ke tembok kalau sedang marah.
Ingat itu , aku jadi terenyuh. Biasanya aku merayu rayu cukup lama agar dia bisa tenang kembali.Mungkin anak anak yang dilahirkan oleh mama yang penuh ketakutan dan kegalauan selalu jadi bayi yang rewel. Ibunya pasti wsedih selama mengandung dia. Status yang tidak jelas. Ketakutan ketahuan, malu dengan cemooh orang orang disekitar dan perasaan berdosa karena sudah menjadi perusah rumah tangga orang lain.
Aku tidak yakin hati rani menangis. tapi kalaupun dia bisa mentang mentang tetap bisa tertawa karena aku melindunginya. Aku tidak ketus padanya. Tetap menerimanya untuk datang dirumahku. Memberinya perlindungan untuk tidak merasa malu. Orang boleh berteriak " kamu pengkhianat!" atau " kamu gendakanne Amran ", tapi dia tertolong untuk tidak terus merasa malu dan pedih karena anaknya di urus aku, istri Amran. Dia bisa berkata pada dunia... dia menang!. Kami baik baik saja!.lalu mereka leluasa berkencan.Sialan lu!
Tapi sekarang lain ceritanya. Untuk bertemu dengan Abel, dia harus mencurinya. Mengambil dengan paksa.Aku yakin sekarang dia puas. Pasti menurutnya , setelah Abel ada ditangannya , Amran juga akan jadi " segalanya untukku ". Berpikir begitu hatiku jadi pedih. Kok teganya ya mereka melakukan ini. Aku tidak yakin Rani menjebak Amran. Mereka terlalu sering dugem . Disana pasti mereka menenggak minuman atu pil setan, lalu segalanya tidak terkendali lagi. Tetapi lepas dari itu semua. menurutku karena memang Amran sudah jatuh hati padanya.
Suntuk dirumah , aku pergi ke Mg,salon langgananku. Ini waktunya memanjakan diri. Aku bukan cuma facial saja. Aku malah potong rambut dan creambath sekalian. Biar fress dan bugar.Sesuatu yang jarang kulalukan secara bersamaan. Terutama karena tidak bisa meninggalkan anak anak terlalu lama.
Selama di salon, Hp ku bergetar berkali kali. Aku sengaja mengacuhkannya.Itu miscall dari Amran. Alah.... biar saja. Biar dia tahu rasanya nggak di reken!.
Sampai dirumah lagi sudah jam 2 siang. Pembantu tetangga sebelah datang menyampaikan pesan pak Amran.
" bu, disuruh telepon bapak. Katanya tadi ditelepon tidak bisa"
" oh, iya. suwun ya mbak"
" inggih"
Lalau aku menghubungi suamiku.
"Assalamualaikum bos! ada apa kok telepon terus"
" jancuk kamu!nang endhi ae koen!"
" gak athik misioh pok-o bos!"
" kesini kamu!. Abel nangis terus iki lho...!"
" lho, kan ada mamahnya...!"
" mama-e nangis pisan.Bingung! Areke gak iso meneng"
" yo . iyo aku kesana.....!"
" cepetan! "
" inggih ndoro ,inggih.... , nang kantor ta nang kos kosan?!"
" kos kosan . Numpak-o taksi'
Akupun pergi ke kosannya dengan Alya. Sepanjang jalan Alya bernyanyi.Oh... riang sekali. Sebentar lagi ia akan bertemu si adik. Aku jadi iri dengan alya.... senengnya ya, tidak ada beban, riang terus, tidak ada masalah..... Dik, dik.... mama ini rasanya mau semaput! kamu malah nyanyi terus.
Rani kos di jalan ketintang III. Rumah kos itu milik seorang dokter yang lebih memilih untuk tinggal di tulung agung dari pada menunggui putra putranya disurabaya. Karena banyak kamarnya ,jadinya dipakai kos anak perempuan. Sekalian menemani putrinya yang masih kuliah di Unesa yang kampusnya di sekitar ketintang juga.Kebayang saat dia hamil di rumah kos itu. Apa kata mereka yang ada disana. ah.... pernah menangiskah dia dan merasa hina?. Sekarang mereka semua tahu ,bahwa anaknya diasuh istri lanangannnya( kasar sekali ya !). Sekarang mereka juga tahu kalau anaknya menangis terus karena dia ambil dariku dan dia tidak bisa mengatasi. Terhinakah dia?atau bahkan merasa bangga bisa mengoyak hidup kami?.
Sekitar dua puluh menit kami sudah sampai di rumah kosnya. Ketika kami masuk , Rani sedang menggendong Abel diruang tamu. Wajahnya kusut. Pasti karena semalaman tidak bisa tidur. Sekitar matanya berwarna kemerahan dan sembab.Rasanya betul Amran. Dia habis menangis. barangkali frustasi karena tidak bisa mendiamkan Abel.
Begitu melihat aku dan alya , tangis Abel pecah lagi. Ia berteriak teriak sambil mencondongkan tubuhnya kearahku. Alya mengelun tangan kecilnya dan menempelkan di pipinya. " Abel..... ini mbak Alya.jangan menangis. Abel....<" rayunya. tapi Abel terus menangis.Aku langsungmemintanya dan menggendongnya dengan selendang yang tadi di pakai Rani menggendongnya.
" nanmgis terusi mbak," kata rani memecahkan kebisuan kami
" belum biasa ae mbak....." jawabku ramah. Aku tidak tega bicara ketus padanya," langsung tak bawa pulang ya... "
" iya mbak...". Rani lalu masuk kedalam. Semua yang dibawanya kemarin disatukan dalam kresek besar warna merah dan dia masukkan ke taksi yang kami bawa tadi.
" Oke... dada mama..." kataku sambil mengacungkan tangan abel untuk melambai kepadanya.Didalam taksi ,Alya terus memegangi kaki Abel. Sesekali dia ciumi dan mengusap usapnya.Anakku itu sangat kehilangan . Sepertinya dia sangat kangen dengan Abel. Abel sendiri malah tidur di dadaku. Ia lelah menangis dan sekarang merasa aman dalam dekapanku.
Read User's Comments(0)
Langganan:
Postingan (Atom)





