5
kataku pagi itu di sms untuk lima ibu di komplekku " di dalam hati kita , ada ke kacauan yang tidak dapat dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah juga ada kegelisahan yang tidak dapat di tenangkan kecuali menyatu dengan Allah"
Puluhan hari aku dikepung oleh rasa bersalah. Takut terjadi apa apa dengan Abel.Aku takut anak itu stress.Aku takut kalau terus terusan ia dalam kondisi kekerasan hati kami , ia juga akan berkembang menjada anak keras hati dan keras kepala. Aku takut , kalau ia selalu dalam asuhan ibu yang tak pandai berbuat damai bahkan dengan hatinya , ia akan tumbuh menjadi gadis yang pintar mencaci dan memberontak terhadap semua tatanan. Aku ingin ia jadi gadis yang lembut hati dan penuh pengertian. Aku juga ingin ia menjadi gadis yang mampu bertahan dan mampu mengatasi kesulitan.Aku sangat ingin ia tumbuh dan nantinya menjadi gadis dan pantai menata hati. Jelas Rani tidak punya rencana matang untuk pengambil alihan Abel. Rani jelas cuma emosi saja. Ia ambil Abel dengan paksa , lalu bingung harus apa setelah Abel ada ditangannya.Dia bukan memilih bicara denga aku , minta maaf karena telah menghancurkan hatiku dan hati anak anakkku. Ia pilih berdiam dan beraksi. Aku yakin ia berani seperti itu karena dia memang tidak merasa bersalah denga apa yang dia telah lakukan, juga karena Amran selalu ada di pihaknya.
Aku mencoba memahami jalan pikirannya. Kurasa , ia merasa benar membiarkan dirinya terus terlibat dan mengembangkan rasa cintanya pada Amranku.Cinta tidak pernah diundang bukan?Ia bisa datang kepada siapapun yang ia mau.Seperti gadis lain , barangkali ia juga merasa harus memperjuangkan cintanya itu. ia tidak merasa menyakiti siapapun, bahkan meski ia tahu amran itu laki laki beranak empat.
Sekarang , yang ia sebut cinta itu telah berbuah. Persoalnnya bukan karena Abel sudah lahir , tetapi Amran tidak juga menikahinya. Ia tidak bisa bicara dengan bundanya kalau ia punya anak dari lakilaki yang sudah beristri. Meski disemua rekan bisnisnya dia diperkenalkan sebagai NY. Amran, aku yakin hatinya juga menangis. Ia sangat sadar m hidupnya bukan " baik baik saja ".
Yang paling menakjubkan dari persoalan ini , Amran dan Rani bisa menjalaninya seolah tanpa beban. Begitukah?. Apa betul yang mereka lakukan itu cinta?, " perempuan ini telah menjebakku!", kata amran ketika di rumah duka Yoyok dulu. Menjebakku! terjebak! atau menjebak!. Apa bedanya sekarang?.Hubungan mereka tidak terpisahkan karena sudah lahir Abel. Apapun status perkawinan mereka , Abel tidak bisa dihilangkan. Pernahkan kalian menangisi diri sendiri?.
Bohong kalau mereka tidak pernah menangisi diri sendiri! aku tidak yakin dia terus bisa tegak dan merasa menang. Siapa tahu hati manusia?.
Kesamaannya , mereka berdua selalu jaga image , tidak mau di salahkan dan tidak mau kalah. Selalu merasa benar dan teliti.Kupikir kalau harus beradu argumen , aku jelas kalah. Ia bisa sajamengeluarkan semua simpanan sumpah serapahnya , sementara aku tidak akan pernah tega membalasnya.Tapi lihat , lagu lagu yang mereka selalu stell di mobilnya..... lagu lagu yang mendayu dayu dengan lirik konyol dan cengeng.Itu bukti kecil , bahwa sikap kerasnya cuma sok saja. Ada yang dia harus lindungi, yakni hatinya yang rapuh.
Sekarang , aku bisa lebih faham , kenapa Rani bisa membanting semua barangnya kalau marah. Atau Amran yang bisa merasa panik dan tidak bisa bernafas karena merasa takut dengan hal hal yang tidak jelas.Mereka harus melindungi diri sendiri dengan keras karena yakin tidak mau terhina!.
" Apa yang aku inginkan?," tanyaku pada diri sendiri. Sudah jelas , Amran tidak akan melepas Rani dan ada hanya untuk kami sekeluarga. Apapun yang berhubungan dengan Abel , tidak mungkin dia tidak melibatkan Rani. " oh, aku cuma ingin tahu apa dia masih cinta aku!", jawabku pasti. kalau saja pertanyaan itu aku lontarkan ke Amran dan ia menjawabnya " ya ", terus aku mau apa?. " Apa dia bisa tidak berhubungan dengan Rani?, tanyaku dalam hati lagi. tidak! pasti tidak !.
Semua pekerjaaan Amran ada hubungannya dengan Rani. ia tangan kanan dan orang yang paling pintar menerjemahkan maunya Amran. Jelas mereka akan terus saling mendukung dan saling membantu. Amran akan frustasi jika tidak punya teman yang bisa diajaknya membicarakan ide ide barunya. Aku bisa apa?. Aku ngerti apa?.Yah, mestinya aku tidak merasa bodoh ya. tapi kenyataannya memeng begitu. Aku merasa sering tidak cukup cekatan mengejawantahkan semua ide dan impiannya( wadow!). Rani , kalau misalnya Amran mau buka travel dan hari ini mereka bicara soal itu maka besok Rani akan datang dengan semua informasi yang diperlukan , misalnya berapa rate kamar hotel partisipan , perjanjian perjanjian yang perlu dilakukan. Ia juga bahkan sudah menghubungi hotel hotel partisipan itu, mengawali pembicaraan dan janji untuk menindak lanjuti semua pembicaraannya. Sedang aku , kalau hari itu Amran bilang KTPnya habis masa berlakunya , seminggu lagi ia menanyakan apalah KTPnya sudah jadi, biasanya malah aku belum jalan kemana mana. Karena sibuk dengan anak anak?.Ah, aku lho masih bisa ke warnet satu dua jam tiap hari, aku juga masih bisa berjam jam nongkrong di toko buku. Aku juga masih bisa datang di arisam RT dan pengajian RW, juga masih nisa jualan nasi bungkus , empek2 dan donat siap saji, yang bisa ku lakukan berjam jam.Artinya aku selalu punya waktu.
" apa yang aku inginkan?" tanyaku pada diriku sendiri sekali lagi!. Aku ingin Amran kembali cuma untuk kami jelas tidak mungkin lagi . kalaupun ada opsi misalnya , aku akan terus mengasuh Abel asal dia tidak muncul lagi dalam kehidupan kami , aku tidak yakin itu bisa berjalan baik. Amran dan Rani pasti terus akan berhubungan. Mereka sudah saling merasa memiliki. Memiliki?.lalu , Aku dan Amran, apa tidak juga saling memiliki?. Ini soal hati. Siapa yang bisa mendeteksi?.Ok , harus ada yang lebih rasional untuk dipakai sebagai pijakan.Bukan cuma bermain hati!.
" anak anak!".Ya , anak anak. Itu fokus dalam hidupku!. Tumpuanku! Permataku! dan hartaku!.Anak anak , adalah amanah dari Tuhanku. Apapun kwalitasku saat ini , sedang frustasikah aku dengan kondisi keluargaku , bodoh atu pintarkah aku , berpengalaman atau tidakkah aku sebagai ibu , bahkan sedang bahagia atau tidakkah aku , itu bukan alasan untuk menyia nyiakan dan tidak peduli dengan amanah itu.Karena perlawinan itu adalah sebuah perjanjian. janji antara manusia dengan manusia , janji antara manusia dengan Tuhan dan janji Tuhan dengan hambanya. Kami berjanjia untuk saling menghormati, membahagiakan dan saling mendukung. Kami berjanji untuk saling mencintai dalam susah dan senang , sakit dan sehat. Tuhan berjanjia akan menambah rizki untuk menjalankan kehidupan kami. Jika kemudian lahir anak anak , Tuhan juga menjanjiakan memberikan rizki bagi mereka. kami berjanji pada Tuhan , menjadikan anak anak ini anak yang sholeh. Jika kami tidak memenuhi janji itu , artinya kami wan prestasi . Selalu ada sanksi atas wan prestasi kita itu.jadi perkawinan kami berkembang rumit dan menyakitkan , oasti karena begitu banyak kesalahan yang aku perbuat.Banyak kersalahan yang kami perbuat!.
Gila kalau aku membiarkan semuanya hancur bukan?. Aku punya suami yang pinter kerja dan banyak menghasilkan uang. Aku punya anak anak yang sehat , semangat untuk sekolah dan baru memasuki masa remaja. Gila kalau akau membiarkan semua hancur!.Apa iya aku akan hancur dengan perselingkuhan ini?.Tidak!. Barangkali aku akan menangis , tapi itu tidak mungkin aku lakukan berhari hari. Soal rasa memiliki?.Oh Tuhan..... tidak ada lagi masalah saling memiliki diantara kami . Dimanapun kami , sedang sendiri sendiri atau sedang bersama , kami tetap saling memiliki. Orang akan menyebutku " bodoh", " istri tua" atau apalah istilahnya.Alah.....emang gua pikirin! Harga diri , status sosial dan sejenisnya , tidak lebih dari predikat sempit kesepakatan sosial. Belum tentu dihadapan Allah hal itu mulia.Allah menilai seorang hambanya dari tingkat takwanya.
maka aku memilih diam. Tidak mencaci maki Rani dan Amran. Tidak mmenggugat mereka. Tidak merecoki kerja Amran. Tidak membahas apapun tentang hubungan mereka. Terserah mereka mau apa. Aku yakin ..... dengan begitu mereka lebih bisa berfikir tentang aku dan anak anak. Tidak ada pertengkaran. Anak anak tetap harus dijaga hati dan hidupnya. Aku yakin , selama aku baik baik, saja , tidak stress dan tetap bisa menjalani hidup sehat , anak anakku juga akan baik baik saja.
alah, sebetulnya aku juga faham bahwa tidak ada cerita yang semaunya terjadi. Mengalir begitu saja. Semua yang ada dalam hidup kita sesungguhnya adalah suatu petualangan yang mengagumkan.Semua dalam genggamanNya dan juga senantiasa dipantaunya. Tidak ada hal terlewatkan , meski sekecil zahra.Sebagaimana Ia mengatur kita sebelum kita ada, Ia juga mengatur kita setelah kita ada. Maka barangkali, bijaksana untuk selalu jadi seperti yang dikehendakiNya, agar kitapun mendapatkanNya seperti yang kita kehendaki.
Hari hari selanjutnya, jelas bukan hari yang mudah. Rani selalu ingin bertemu anaknya dan aku tidak peduli dengan keinginannya. Jujur aku gelisah menjalani hidup macam ini. Ada sisi hati yang menjuluikiku sebagai orang yang "tidak punya perasaaan", bahkan kejam. Apalagi kalau ingat bayi itu tidak salah apa apa. lagi pula aku juga mau apa dengan Abel?. Anakku sendiri sudah empat. yang paling kecil, Alya , sudah berumur 2 tahun. Mestinya aku sekarang bisa tidur malam lebih panjang karena tidak lagi terlalu banyak diganggu. Lha, sekarang malah cari pekerjaan lagi. Tapi itulah, aku ngeyel tetap mempertahankan Abel( tidak jelas untuk apa). dan jadi lebih jahat dan jadi pintar mengelak. Amran sampai memohon mohon supaya Rani boleh menemui anaknya. Kadang tanpa kompromi , tiba tiba saja Rani sudah ada di kantor kami , di hotel simpang dan Amran minta aku menjemput Abel agarmereka bisa jalan jalan bersama ke Tunjungan Plaza , yang dari kantor kami cuma berjarak ratusan meter saja itu.Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak lagi.
Meski tidak yakin Amran akan berpihak padaku , permusuhan tetap berlangsung. Kami , dua orang perempuan yang sama sama sudah gila. Bagaimana tidak , meski aku sadar , bahwa kalaupun aku minta suamiku itu memilih diantara kami , ia tidak akan memilih aku ( oh sedihnya), aku bersikeras dengan ide awal bahwa ibu dan anak itu tidak boleh bertemu. Padahal, kalau toh Abel sudah besar , ia juga kan mencari ibunya.Apalagi Rani dan Amran kan tetap terus berhubungan.Barangkali Rani juga berpikir bahwa suatu saat Amran alan jadi miliknya seutuhnya. Apalagi kalau Abel bisa ada di dia , perjalanan untuk itu pasti lebih lancar nantinya.
makin lama aku makin tidak yakin dengan sikapku itu. Rasa berdosa karena memutuskan tali silaturrahmi ibu dan anak sangat sering menyerangku. lagi lagi aku tidak bisa mengkomunikasikan pada Amran . Aku tidak sanggup melihat wajah bahagianya kalau aku mencabut larangan itu. ranipun pasti makin besar kepala.Pedih rasanya, tapi aku tak ingin membahasnya. jadi aku cuma berdiam diri saja.
Sepertinya Rani juga sudah bosan minta minta pada Amran untuk merayuku. Oktober 2004,Abel masuk rumah sakit Darmo setelah dua hari menghilang dari rumah. Saat diambil ibunya, Abel memang sedang Diare. Mungkin karena rewel , dia tidak mau minum susu dan makan , terus menangis karena bingung dengan kondisinya. bayi itu mungkin Stress dan ibunya sangat bingung. Amannya , Ia opname di rumah sakit.
Meski aku tahu Abel ada di rumah sakit , aku sengaja tidak menengoknya. Aku juga tidak peduli dengan permintaan Amran, agar akumau menemui Abel.Teman teman rani yang datang menjenguk , juga memintaku untk datang ke rumah sakit." sakno, mbak.Abel nangis terus. Sing di celuki sampeyan....", kata mereka. Aku tetap bertahan untuk tidak datang. Padahal , setiap malam aku gelisah dan tidak bisa tidur. Aku takut Abel mati!.
Alya bikin ulah , beberapa hari ini dia sering duduk di pojok kamar sambil menangis.Dia ingin bertemu dengan adiknya . Ini jelas membuat pertahananku hancur.
" gak ngono sih , dek. Koen iku jik gelem ta ngurus Abel!", tanya Amran dengan suara keras."alah , mase , harusnya kamu itu kan merayu aku , gitu. kamu sangat butuh pertolonganku kan.... mbok ada manis manise ngono pok-o cak!", kataku dalam hati.
"kamu kuatir ta....."
" Abel iku iso mati. Tahu kamu!"
" gak usah di dramatisir ta... Abel itu ada di mama kandungnya, dekat dengan banyak dokter spesialis. Apanya yang ditakutkan. Dia aman kok"
" matamu!"
Oh.... luput suwuk tenan. Kok ada ya orang nggatheli ( maaf) kayak gitu.Gusti..... pasti banyak dosaku , sampai engkau pilih aku bersuamikan laki laki seperti itu.Atau ini proyek suargo.Sedih banget aku!
Paginya aku ke rumah sakit dengan Alya. Rasanya tidak ada artinya aku bertahan seperti itu. Aku cuma ingin dikenang Abel sebagai ibu yang baik. Cukup dia saja. Tidak untuk yang lain.
Begitu bertemu , Alya langsung naik ke tempat tidur Abel. Mereka berangkulan , seolah sudah tidak bertemu bertahun tahun. Abel terus berteriak teriak senang. pagi itu , mereka berdua bahkan bisa menghabiskan dua mangkok bubur mc D yang kami bawa.
Sorenya , aku minta ijin untuk membawa pulang. karena hari itu Minggu dan bag administrasi sudah tutup , kami meninggalkan sejumlah uang dan mengurus kekurangannya esok hari.Berempat kami naik taksi. Rani turun di tempat kos lamanya ,kami bertiga langsung pulang kerumah.





