ini tahun ke dua
ia tidak bersama kami
tinggal sendirian dilantai tiga kantornya
yang jaraknya
cuma 3 kilo dari rumah kami.
akhirnya memang tidak ada perasaaan apa apa lagi. TIdak ada rasa kangen ,marah , sedih atau kecewa. Semua jadi sangat biasa saja. Sesekali dia datang kerumah , melihat lihat lalu kembali ke kantor yang sekaligus jadi rumah tinggalnya. Kami sudah tidak pernah lagi ngobrol asyik , atau bicara basa basi. Ia tidak pernah menanyakan kabarku aku juga tidak bertanya tentang dia.
tapi ia tetap menafkahi kami
tapi ia tetap membeayai anak anak dengan sangat baik
kami cuma tidak saling bicara
Pernikahan ini memang masih layak diteruskan. Setidak tidaknya karena ada lima anak yang harus kami hantarkan untuk siap mengarungi kehidupannya.Ia tetap harus bekerja untuk membeayai semua kebutuhan hidup kami dan aku tetap harus mengawal putra putriku agar tidak terjadi hal halburuk yang tidak diimgimkam.
kmi tetap setia dengan tugas tugas kami
kami cuma tidak saling bicara
tapi kami tiak saling memusuhi
sejatinya , aku malu pada diri sendiri. Tidak punya keberanian untuk melakukan hal hal besar yang punya prodpek untuk memerbaiki keadaan. misalnya dengan terus melakukan pendekatan, minta tolomg pihak yang bisa membantu , membicarakannya dengan serius, atau kalau perlu memperjuangkannya sampai darah titik penghabisan. Tujuannya satu " agar kami bisa saling mengasihi dan mendukung " seperti cita cita keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Belum belum aku sudah patah arang. Dimataku , bahkan sampai sekarang , ia adalah laki laki yang tidak suka dibantah , selalu yakin pemikirannya selalu benar , pekerja keras dan bertanggung jawab dengan tugasnya.Nyaliku sudah ciut setiap mendengar dia bicara , berpendapat apalagi kalau sedang marah.Rasanya , tidak ada kata lembut dan penuh cinta yang pernah dia ucapkan.TIdak ada tindakan manis dan menuh kebijakan yang dia perlihatkan.
sebetulnya yang membuatku selalu " diam " karena aku nerasa itu zona aman bagiku. Dengan diam , ia tidak bisa menumpahkan energi marahnya dengan maksimal.Atau bahkan akhirnya dia yang harus diam karena aku tidak meresponnya sama sekali. DEngan diam aku juga sebenarnya bisa berteriak dengan kencang , bersikap lebih garang dan berucap dengan kata kata yang lebih tidak manusiawi. Yang lebih penting dengan diam aku tidak perlu mengeluarkan energi sebesar dia untuk menata hati kembali.Tidak perlu menyakiti orang lain , meski tidak bisa menghindari menyakilti diri sendiri.
Skarang ia nampaknya lebih memiih Rani. Tidak lagi memikirkan kan kewajiban " adil ". Jelas sekali ia nampak lebih memihak Rani.
Aku juga tidak berminat menggugat " keadilan" itu.
Bagaimana cerita rumah tangga ini kan berakhir , itu sesungguhnya yang menggelisahkan aku. Pada saatnya nanti ,aku akan sendirian.Menghadapi hari hari sepiku.
seperti apa ya
seperti apa
pasti sangat lara
lalu
aku mesti menyiapkan apa mulai saat ini?
ahhhhhhhhhhhh
Sda,17 maret 2010
24.15