RSS

" syukurlah , dek", kata ibuku dengan nada riang diujung sana ketika aku mengabarinya tentang "perdamaaian" kami." dari dulu aku dan adik adikmu pengen bertanya banyak sama kamu tapi gak jadi jadi. Tak lihat kamu ya baik baik saja toh.... gak stress juga gak gendeng..... ya syukuran, deka. Gak usah mikir sing tuektuek. Anggepen ae nandur apik, nak.yo... yoooo tak dongakno apik apik ae", katanya lagi.

Ibuku itu perempuan paling istimewa dalam hidupku. Belum pernah sekalipun beliau membujuk bujuk aku atau menyarankan sesuatu yang tidak baik, terutama dalam persoalan aku dan Rani. Beliau juga tidak pernah menyalahkan Amran soal ini. Ia diam dan melihat, seolah semua baik baik saja, bahkan ketika anak anakku curhat tentang orang tuanya , ia sibuk membesarkan hati mereka. Memberi gambaran yang positif tentang semua masalah yang muncul dalam keluarga kami.
katanya,Kalau Tuhan masih memberi ujian atau musibah kepada kita , itu artinya Tuhan masih sayang kepada kita. Ia tidak membiarkan kita lalai dan berbuat kesalahan.Apapun yang terjadi dalam hidup kita sekarang, pasti sudah ada dalam pengetahuanNya.Ia sudah memperhitungkan mana yang layak dan mana yang tidak bagi kita. Semua yang terjadi adalah peluang emas untuk menunjukkan cinta kepadaNya,

Ibu jugalah yang selalu menjadi penolong saat anakanak bermasalah dengan papanya. Seperti ketika mobil baru dea dicoret coret teman kampusnya, ibukulah yang mengatasinya dengan membayar beaya perbaikan hingga ketika pulang ke rumah mobilnya cling lagi. Atau ketika anak anak pulang malam dan tidak berani pulang kerumah.Atau ketika bete disekolah dan ingin membolos.

Aku juga mengabarkan "perdamaian " itu kepada mertuaku.Beliau juga harus mendengar kabar baik ini setelah lama mengira ira apa yang sudah terjadi pada aku dan anaknya."Deka", katanya lembut,' siapapun perempuan dalam hidup momox aku idak tahu. Yang ku tahu cuma kamu itulah menantu aku".

Lalu aku memberitahukan keputusan damai itu kepada anak2ku. Mereka tidak masalah dengan pilihan damai itu. bagi mereka yang penting aku bisa satu dalam ucapan dan perbuatan. Dalam hati aku juga jadi sedikit gamang. Apa betul aku menjalani pilihan hidup ini dengan segala konskwensinya, Pasti tidak mudah. Pasti tidak mudah. Aku tahu itu.
" mama sudah tahu kan Rani itu seperti apa. Pribadinya kayak apa.... jadi mama setidaknya tahu mau kemana arah semua ini kan...." kata dea
Hehhh... aku menghela nafas, menatapnya tanpa bicara apa apa.
" aku, ma memang belum bisa memaafkan dia.tapi itu jelas urusanku sendiri. Mungkin nanti..... dihari lain"
"kamu , De, piye?!" tanyaku ke anak keduaku
"Semua pilihan itu ada resikonya. Aku berdoa ,pilihan itu baik nantinya"
"kalau aku sih ma.... ," sela anak ketigaku," gak masalah. kayaknya kita akan tetap baik baik kok ma.Apapun pilihan mama , kita harus tetap baik baik kan ma. Musuhan itu ngabisin energi, energi itu mahal , ma. masih banyak yang harus kita pikirkan. jangan berhenti di situ thok. Sudah biar Saja papa dan Rani itu. Mau apa kek.......kita baik baik saja sama mereka. Biar papa sehat..... tetap bisa cari duit buat kita. Soal abel ya, kan sekarang sudah baikan ya mamanya suruh nguruni mama beli susunya, beaya perawatan.... "
" gitu ya... "
" terus melangkah , ma....ntar ketinggalan sepur"
" gitu ya.... "
" Ah , mama iki....... "
" iya ya..... masih banyak yang harus dipikirkan dan di perjuangkan. kenapa cuma terfoku"s masalah Rani...... ". Anak ketigaku itu sering punya jawabam dan pemikiran diluar dugaan.Ceplas ceplos tapi sering mengena.
"ma , ada bakso ma... tak panggil ya "
" iya ,iya "
" yessss!"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6

" Orang kuat itu . bukan orang yang bisa membalas tetapi orang yang berkuasa untukmembalas tetapi ia memilih untuk memafkan". Ku smskan kata kata manis ini untuk anak anakku.

Dipenghujung malam, akuberdiri tegak diatas sajadahku. Gusti , kataku pedih. Kuniatkan sholat ini sebagai sholat tahajut, juga sebagai sholat istikharohku. Kuniatkan ia juga sebagai sholat taubat dan sholat hajatku. Aku cinta padaMu. Aku cinta padaMu.
Setelah hatiku tenang , baru kuangkat tanganku untuk takbir.Tak ada hal lain yang lebih penting dari pada menyerahkan diri padaNya.Menyerahkan seluruh persoalan , meminta agar diberi kepandaian membaca keputusanNya dan ikhlas menerima apa yang telah Dia putuskan.Membiarkan Allah yang maha pengatur itu , mengatur kita sehendakNya. Ia maha Pengasih , Ia tidak pernah mengingkari janjiaNya. Ia akan selalu memberi apa yang telah hilang, Ia memberi lebih dari yang kita minta,Ia memberi dengan sesuatu yang baru dan penuh berkah.Aku yakin itu.Hakkul yakin!

Setelah subuh , aku mengirim sms ke Rani." mbak, kita gencatan senjata ya.Kamu bekerja saja baik baik dan abel tak openane . Kamu boleh kerumahku kapanpun kamu mau. Melihat atau mengajak Abel kemana kamu suka. tq ya... ". Rani membalas smsku . Ia berterima kasih. Aku merasa plong........... gatiku terasa terbuka sangat lebar...... damai sekali.Kemarahan yang tersimpan dan mengarat , pagi ini terasa terkeruk dengan sangat bersih.

Jadi ingat bapakku almarhum.laki laki sederhana itu pernah bilang, bahwa dalam kehidupan ini yang paling sulit adalah memaafkan orang yang mendlolimi kita , memberi kepada orang yang pelit kepada kita dan berbuat baik kepada mereka yang berlaku jahat kepada kita.
Ternyata , ketika aku menjalani salah satu ajaran itu,ada rasa lega yang luar biasa di hati.Kepala rasanya terbuka lecar. Badan rasanya ringan dan enak sekali.Tidak lagi merasai kegetiran dalam hati karena tidak usah lagi merasa marah dan jengkel.Musuhan itu ternyata capek sekali. capek hati tentunya. Setiap mendengar nama dia disebut , rasa jengkel itu muncul . Bahkan ketika bukan dia orang yang dimaksud .Begitu pedihnya hatiku sampai sampai aku bilang kepada anak2ku untuk tidak menamai anak anak mereka dengan nama Rani , Yeni , Ning dan Mery. Aku wanti wanti..... sebab aku akan membancinya.Wah!

Sepanjang hari itu kurasakan hatiku riang dan hidupku ringan. Kukabarkan kemana mana bahwa kami telah gencatan senjata. Sudah berdamai. Artinya , aku sudah siap untuk hidup dengan segala konskwensinya atas perdamaian ini. Tuhan tetap bimbing aku.Sebab episode berikutnya pasti tambah rumit dan makan hati. Engkau pelindungku gusti... dan cuma engkau. Kutitipkan suami dan anak anakku padaMu. Kutitipkan hidup kami padaMu. Maafkan kami ya ghoffar... beri maaf kami. Teruslah bimbing kami.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS