Sasana rumah jelas berbeda sejak itu.Rani makin masuk dan berani mendekat. merewncanakan sejumlah perjalanan dengan Bram. Aku pelit komentar .Anak anakkku tidak ikut nimbrung menanggapi. Yang paling ceria ya Alya dan Abel. baginya itu acara paling asyik.Pergi , makan makan , main dan beli beli... ah dasar anak anak.
Sekarang langkahku , mengabari keluarga palembang dan ibuku. Ini rencana besar dan berpotensi nenbuat perubahan besar. Jadi semua keluarga harus resmi tahu.
" kalau menurut kamu itu benar banyak berdoa , bersabar dengan semua proses dan istiqomah terhadap niatmu. Biarkan Allah mengatur untuk semua itu. Nanti jatuhnya pasti enak disemua pihak", kata ibuku ketika rencana itu ku sampaikan padanya.
Pihak keluarga Palembang tidak mengusulkan apa apa. beliau ingin bertemu dengan Rani. jadi ketika ayuk kami sakit dan masuk rumah sakit , Bram pergi kepalembang , berangkat dari surabaya dan menyuruh Rani juga kepalembang , berangkat dari semarang.
Aku sendiri merasa hambar hambar saja. Semoga ini salah satu tanda keikhlasan yang ku kondisikan sedang berjalan. Subhanalloh.
Pulang dari Palembangpun , Bram tidak bercerita apa apa. Bagaiamna komentar ayah ibunya atau bagaimana tanggapan keluarganya sama sekali tidak dia ceritakan. Aku juga tidak menanyakannya. Barangkali menurutnya aku tidak penting tahu. Barangkali cerita yang dia simpan sesuatu yang tidak enak bagi dia , entahlah. Aku lebih tidak suka mencuru curi dengar ... servav itu akan merusah hatiku sendiri. Bagaimanapun kami ini " saingan bukan ". karena sudah pasti kehilangan cinta suami , ada rasa ingin memenangkan cinta mertua dan keluarganya.
tapi kata anak anak tidak perlu lagi berjuang. karena kalau sekarang menunjukkan cinta yang berlebihan malah nggak ethis dan norak.
"cukup kami , anak anak mama yang jadi saksi perjalanan dan perjuangan mama untuk tetap bertahan , nggak perlu saksi lain.' kata anak anak
" nyai ... yai ... bukan orang bodoh , ma "
"kalau mama menunjuk nunjukkan , perhatian atau apa yang berlebih malah nggak baik . Itu artinya mama sedang berburu merek " menantu yang baik ", lha.... itu kan artinya mama gak ikhlas melakukannya cuma karena ingin disebut seperti itu aja...biasa biasa saja. kalau biasanya telepon kalau ada kabar penting , ya nggak usah sekarang jadi tiap minggu telepon. Ada waktunya yang mam pengen dengar akan mama dengar nantinya..."
" aku tetap sayang mama,"
" iya , soal papa . selama itu membuatnya bahagia , ya biar saja dilakukan. Kita sudah tidak usah melarang larang. Soale ma , type papa itu kalau dilarang larang malah nekat. Dibiarin ae.... ntar kan kelihatan semua. Marahnya , sesalnya.....lagian ma , Rani memang siapa yang mau ngawin kalau tidak papa. Gadis kok punya anak. Dengan laki laki anaknya empat... wah.... lha dia itu lho ma , anak desa di sukoharjo solo. nang ndesone ae yo wis di encepi masyarakat.....jadi kita ini mengangkat martabatnya, hehe... "
" Rani , papa , pasti lebih sengsara hatinya ma dari pada mama atau kita anak anak mama "
" setiap dia lihat mama ..... hatinya langsung nuding " he pengkhianat!".... jadi setiap ketemu mama atine soro ma.... wis ta.... dia lebih menderita kok "
"gitu ya "
" sak iki ma ..... bener tante seta.Kita harus menerim cara orang mencintai kita. Nggak bisa di paksa. Yakin aja pasti papa ya lebih berat berat dengan kita , kan ma. .... tapi ojok salah.rani itu imtens banget. kalau nelpon papa ngejem gak mari mari. Kalau memaksakan kehendaknya yo terus terussan gak onok mandege. tapi papa yo gak goblok ma.... masio cinta gak apene ngorbankan keluarga. Aku yakin itu , ma. Aku yakin !"
Seneng rasanya berada ditengah tengah orang orang yang optimis. Yakin tetap bisa bertahan dan akan baik baik saja. Tetanggaku di Bungurasih juga , alhamdulillah bukan orang orang yang resek. Teman temanku samrih , pkk atau pengajian juga bukan orang orang yang suka bikin muka merah padam. Alhamdulillah, wasyukurilah....
Dalam hukum harapan,setiap yang kita harapkan secara total, akan menjadi kenyataan dalam hidup kita. jadi harapan itu harus digantungkan pada yang maha kekal. Dia tidak pernah mengecewakan siapapun yang berharap hanya kepadanya.
Aku berharap , setelah Bram menikahi Rani secara resmi , dia tidak perlu lagi punya hati yang gelisah karena harus bikin alasan yang masuk akal untuk semua hubungannya dengan Rani. sekarang ia bisa l;ebih tenang. Tidak usah lagi jadi pasien Dr, Nalini, tidak perlu menelan pil sanax. Dengan tidak mengungkit ungkit dan sama sama tidak dalam kondisi marah , aku b erharap Bram lebih sehat , bisa berpikir lebih baik dan Allah melapangkan rizkinya. Dengan begitu , hubungan dengan anak anak tetap baik dan anak anakku bisa menyelesaikan tugasnya sebagai anak degan baik pula.
Dengan kondisi yang ramah dan enak ini .Aku berharap anak anak tumbuh dengan baik ,menyelesaikan pendidikan dengan baik dan punya prilaku yang baik pula. Kelak kalau mereka merindukan seseorang , aku juga berharap mereka dari golongan orang orang yang selalu merindukan Tuhan agar rindu kami terhadapNya makin menggila. Atau jika mereka menetapkan hati untuk mencintainya , aku berharap semoga yang mereka cintai berasal dari golongan orang orang yang mencintai Tuhan agar cinta kami padaNya makin menjadi jadi.
Tuhan ,
Aku serahkan padamu
aku akan mendengarkannya
aku akan melaksanakannya
samikna waathokna
beri aku yang terbaik bagi kami semua
amin
3
malam ini kukirim sms untuk 15 orang temanku " pinta lah kebutuhan yang paling mendesak. Ia maha memberi dan maha menepati janji, Ia tidak suka kita minta pada yang lain.Siapapun kita "
Yang kubutuhkan , adalah kemampuan menata hati. Pagi ini , kami akan menjalani sidang berkenaan permohonan poligami Bram di kantor pengadilan agama Sidoarjo. kami berangkat berlima. Aku,bram, Rani , Zaenal dan Anton. Dua nama yang terakhir itu sebagai saksi dipersidangan kami.
Begitu turun dari mobil , aku merasakan badanku panas dingin. Tidak jelas yang kurasakan. Sedih bercampur gamang. Aku terus melangkah masuk ke gedung pengadilan Agama itu. Menyerahkan surat panggilan ke bag administrasi lalu mengambil tempat duduk di ruang tunggu. Sebentar kenudian mereka berempat menyusulku duduk di ruangan itu.
Ruagan itu terbuka , berisi deretan kursi panjang. Ada sekitar sua puluh lima kirsi berukuran 2,5 meter. Semuanya penuh.
Perasaan sedihku sedikit sedikit berkurang. Aku tidak sendiri disana. Meski masalah kami berbeda , tetapi yang hadir disana semuanya adalah mereka yang punya masalah rumah tangga.
Aku duduk bersebelahan dengan Rani. Tapi sengaja ku irit bicara. Selain tidak enak dengan beliau yang duduk disebelah kiriku , rasanya memang tidak pantas di ruang yang penuh dengan orang bermasalah , ngobrol bukan?.
Yang dipamggil duluan untuk masuk ruangan , aku dan Bram. Yang di sebut ruang sidang itu ternyata tidak lebih dari ruangan yang berukuran empat meter kali empat meter.Meja hakim dan paniteranya memanjang dan bertaplak hijau. yang istimewa kursi2nya. Berukir dan sandarannya tinggi. Aku jadi sedikit ingin tertawa karena dibenakku ruangan itu mestinya lebih besar dan seram seperti yang sering nampak di layar televisi.Ternyata hanya seperti ruangan rapat di RW kami saja.Yang membuat suasana agak kaku dan tegang , selain karena kursinya yang bersamdaran tinggi , karena petugas pengadilannya mengenakan jubah hitam itu.
Pertama mereka mengecek identitas diri kami masing masing. Dan tujuan sidang pagi itu.Lalu ibu hakim dan wakilnya bergantian mengajukan pertanyaan.
" jadi ibu yakin mengijinkan bapak untuk menikah lagi?"
" Yakin bu hakim," jawabku sedikit bergetar. Badanku mulai panas dingin lagi, " saya yakin." kataku mengulangi jawabanku sambil menganggukkan kepala.
" ikhlas ya , bu "
" Iya "
"Ibu bisa memberi alasannya"
"Untuk kebaikan kami semua"
Ketika pertanyaan yang sama diajukan ke Bram , ia mengatakan kepada bu Hakim bahwa ia bermaksud menikah lagi karena aku sudah sepuluh rahun tidak mau tidur dengan dia. Pernyataannya itu ku iyakan, Sebetulnya sedih juga dia bicara begitu. Itu kan sama dengan " membebankan kesalahan cuma padaku "
" lha , kenapa iobu tidak mau tidur dengan bapak ?"
" karena... tidak ingin "
"Kalau toh mau , ya kayak gedebok gitu bu ," sahut Bram.
Subhanalloh. Laki laki ini tega ya , bilang begitu. Setengah mati aku menahan tangis. Kalau ikhlas , tidak boleh ada airmata.Itu tekatku. Dan aku tidak menangis , meski terasa perih dan mataku terasa berair.Aku terus berzikir. Tidak boleh menangis! tidak boleh!.
Lalu , Rani dipanggil masuk.Beberapa pertanyaan yang sama diajukan kepadanya.
" sudah lama kenal pakAmran?"
' Sudah sepuluh tahunan , bu "
" tahu kalau pak bram sudah punya istri dan empat orang anak"
" sudah , bu"
" itu artinya bapak nantinya harus berbagi apa saja, seperti pendapatan , waktu dan perhatian dengan bu deka dan putranya juga anda "
"iya , bu "
"Sudah lama pacaran dengan pak bram?"
" sudah , bu "
" sudah pernah tidur bersama?"
" sering "
Subhanalloh , subhanalloh, subhanalloh,subhanalloh............
"tahu kenapa pak Bram berpoligami?"
" tahu , bu , karena bu deka tidak mau tidur dengan bapak."
" sudah punya anak?"
" sudah "
" sekarang dibawa?"
" tidak , tinggal dengan bu Deka "
" Oh.... "
Lalu Anton dan Zaenal masuk , bercerita tentang yang mereka tahu perihal hubunganku dan Bram. Intinya mereka mau mencocokkan data saja.
Ketika palu di ketok dan aku harus menandatangani surat berita acara , aku tidak gemetar sama sekali. Aku yakin langkahku tidak salah. Bram dan Rani bukan orang yang bisa kujadikan sandaran, Caranya membicarakanku yang tidak menghargai niat baikku dan membebankan semua yang " buruk " atasku membuatku sadar , aku pantas mengikhlaskannya.
Didalam mobil yang membawa kami pulang , mereka berempat malah membicarakan jalannya sidang tadi dengan gayeng. Tertawa dan mengomentari pertanyaan hakimnya. Mereka bahkan tidak sadar bahwa selama perjalanan aku cuma diam dan menahan perih karena merasa tersingkir.Merasa sendirian.
Ia bukan sandaran hatiku.
Gusti Allah ,aku cinta padamu,
Aku cinta padamu,
aku,
cinta.
padamu.
"
'
ide pernikahan justru jadi maslah serius ketika aku lontar ke Rani. Ia sangat setuju bahkan sekarang dialah yang paling semangat merealisasikannya. Entah bagaimana , Bram juga jadi ikutan sangat semangat. Dia yang dulunya menentang , sekarang terus terusan menanyakan , bagaimana merealisasikan ide itu.
" gawe pengacara ta , deka?", tanyanya , " Rani nguber terus, niy"
" gitu , ya " jawabku datar. wah sepertinya aku sendiri sudah tidak bisa mundur. " pertama ya ngurus surat pengantar rt rw sampai kelurahan dan KUa, ntar tak tanyakan orang kelurahan"
" koen ae dek sing ngurus. Aku gak usah melok!"
"Malu ta "
" gak enak ae... "
" ok "
Besoknya aku langsung ke kelurahan menemui pak Muhammad , Modin dikelurahan kami. Dari sana syarat syarat dipenuhi . Semua aku serahkan Pak modin untuk di proses. langkah pertama akan ada sidang poligami dahulu. Sidang itu untuk sebagai dasar untuk pengabulan ijin poligami. Surat keputusan ijin itu nantinya bisa dipakai Bram untuk menikahi Rani secara syah.
Jujur gamang juga aku menjalani semua ini. Ada rasa sedih tapi merasa harus tetap diteruskan. Islam memang mengatur poligami. laki laki muslim , boleh menikah dua tiga atau empat. Tetapi jika mereka takut tidak bisa adil , sebaiknya satu saja. Alquran itu pedoman hidup. Sebagai orang islam , kami memang diwajibkan menerima isi alquran secara menyeluruh. Setuju atau tidak , poligami memang ada diatur dalam alquran. Syarat dan kondisi berlaku.
Bagiku , poligami ini jalan untuk berdamai dengan seluruh masalah dalam hidupku. Karena hubungan yang tersamar dan tidak jelas telah kurasakan selama hampir sepuluh tahun. Masa panjang yang menyesakkan hati. meluluh lantakkan pertahanan. Membuatku tersungkur bermalam malam, melolong mencari perlindungannya. Berharap Allah turun dan mengusap semua lukaku. Mengusap semua luka anak anakku yang selama ini kami biarkan terbuka dan berdarah.
Di satu sisi , kami juga sangat mengerti bahwa Bram dan Rani tidak mungkin lagi bisa dipisahkan. Apalagi Abel juga makin besar.Ia akan mempertanyakan semua yang berkenaan dengan keberadaannya. Kami akan kesulitan menerangkan dengan benar dan apa adanya.Untungnya selama ini kami sekeluarga menceritakan apa adanya .Abel faham bahwa mama Rani adalah ibu yang melahirkannya dan aku adalah ibu yang mengasuhnya. memang baru itu yang ia fahami. tetapi nantinya ia butuh banyak hal lagi yang harus difahami sebagai pijakan melanjutkan hidupnya.
Kata ayahandaku , salah satu kenapa islam menganjurkan pernikahan yang legal dan bukan sirri ( disembunyikan ) atau kumpul kebo karena berkenaan dengan kepastian keberadaan manusia , penghindaran dari segala macam penyakit phisik akibat rasa khawatir atu penyakit hati lainnya akibat " perasan dibohongi atau membohingi " pasangan hidup kita.
Dengan pernikahan yangilegal , laki laki akan lebih sehat , perempuan juga akan lebih sehat . Sehat lahar bathin. Dengan penerimaan pasangan dan tambahan pasangan dalam hidup , insya allah , semua kan baik baik saja ( tentu saja jika dibandingkan perkawinan yang disembunyikan).
Aku mulai intens membicarakan bersama anak anakku pernikahan Bram dengan Rani. Terakhir kami duduk bersama dengan Bram dan Rani. Anak anak punya permintaan , Rani tidak boleh menginap dirumah , tidak semata mata bermesra mesraan denganpapanya, tidak menggantikan kedudukanku sebagai mama( jadi misalnya aku meninggal , Rani tidak boleh tinggal dirumah kami ).Rani juga tidak mempermasalahkan harta papanya selama ini. Aku sendiri tidak mengajukan syarat apa apa. Kenapa? karena menurutku , bram bukan orang yang pintar berbuat adil.Egonya besar dan sangat tega untuk " tidak peduli ". kalau akau punya syarat yang harus ia penuhi , nanti dia akn kesulitan memenuhinya dan itu akan membuatnya jadi penghuni neraka jahanam. Jadi biar saja tidak ada syarat dariku. Aku juga tidak butuh apa apa lagi. Bahkan membicaraknnyapun aku tidak lagi merasa perlu.
Rani setuju semua syarat anak anakku. Malam itu di rumah makan Primarasa , Dea anakku menangis tersedu. Ia tidak berucap sepatahpun. Pada dasarnya kami mengikhlaskan papanya menikahi Rani. Dan siap dengan semua perubahan yang akan terjadi. Aku tetap merasa harus lebih ramah dari pada anak anakku.Jadi ku ajak Ngobrol Rani seperti biasanya sambil memohon maaf karena tiodak bisa menawarinya menginap dirumah malam itu. oh!
" kesenenegen dia ma , itu kan yang ditunggu tunggu"
" biar orang tidak sebelah mata sama kita . Oh.... meskipun papanya menikah lagi , mereka baik baik saja kok.Gitu lho nak.Papa juga biar lebih sehat . Kan gak usah curi waktu dan kesempatan. Biar sehat semua . KIta juga gak kemerungsung terus, piye?"
" mama yakin , ta, gak apa apa?"
" yakin "
" sumpah?!"
" insya Allah !"
" kok insya Allah. Ntar nyesel lho. Kita berhadapan dengan manusia manusia yang suka main hati tapi terus terusan nusuk hati. yakin , ta ma "
" yakin"
" sumpah?!"
" iya.... sumpah "
" yah.... si mama "
2.
Bram tidak setuju dengan ide " pernikahan ".Menurut dia tidak perlu. Nanti malah bikin stress dia. Katanya lagi , urusan dengan Rani tidak pernah sederhana. Menurutku dia muna. Tidak setuju dengan ide ku tapi menjalaninya terus menerus. Menghabiskan waktu dengan bicara di telepon seharian seperti seorang yang lagi kasmaran ( dan memang sedang kasmaran !), selalu berdua kemana mana.Tidak peduli dengan rasanan orang kampung , teman dan saudara. Aku juga yakin dia melakukan zina terus menerus.
Lebih dari tiga bulan aku sengaka tidak pernah mengangkat kepermukaan tupik " pernikahan itu " sampai suatu hari , ketika kami hendak mengantar Rani pulang ke semarang. Dalam perjalanan ke stasiun Pasar turi bram membuka topik itu lagi
" Ran , jare mbak Deka yok opo kalau kita menikah "
hening tidak ada tanggapan. Rani sibuk memencet mencet hpnya dan menelpon koleganya.
" Ran , koen iku di jak ngomong , telpon ae! yok opo Jawabmu!"
"iyo . mas, aku gelem "
Hening lagi. Aku tidak bicara apa apa. Meski ide itu aku yang melontarkan , ternyata ketika Rani mengiyakan , hatiku perih juga.
"Terus yok opo , dek!"
" ya , diurus..." , jawabku dengan perasaan semburat
" Sopo sing ngurus "
" ya kalian , to .Masak aku . mase!"
"ngono ta , Ran ?"
"Iyo , mas "
Malam itu aku tidak bicara apa apa lagi. Bahkan sampai kereta berangkat aku terus menjauh dari mereka berdua. Pasti ada yang ingin mereka bicarakan tanpa aku. Kusibukkan diriku dengan abel dan Alya yang minta diantar ke kamar mandi , minta donut dunkin , minta mainan pedang yang dapat bersinar. sampai duduk dikursi panjang menikmati alunan musik yang di sajikan dengan elektone diteras stasiun dalam itu.
Tak urung juga aku merasakan kepedihan yang menyayat, ketika mataku menangkap adegan , Rani mencium tangan bram sesaat kereta mau berangkat.Ah.... ternyata!
Tidak selalu dengan diam kemudian semua jadi beres. Kadang diam malah bikin sengsara. Sekali waktu Bram bisa meledak , marah marah tidak karuan, Bicaranya meracaui dengan piliohan kata kata yang sangat menyakitkan dan buruk. Masalahnya ,kalau sudahj begitu yang terbaik malah diamdan tidak meledeninya . BIsabisa kita dikiramenantang dia dan itu bisa membuatnya lebih marah. Di situasi seperti itu , sebaiknya kita memang diam tetapi rautmuka tidak berkesan memboyakkan apalagi sinis. jadi air muka harus tetap landai dan terkesan mendengarkan juga sedikit takut!.( ini perlu latihan panjang...... dan serius. sebab terkadang kami gagal beraktying seperti itu karena marahnya kepanjangan dan hati sudah terasapenuh dan sebal.Kalau kami bisabertahan , biasanya Bram akan pergi meninggalkan kami. Kamipun tidak boleh buru buru senang..... harus menunggu sampai dia benarbenar pergi!)
Karena tidak pernah dibantahi , bram juga tidak pernah tahu apa yang sedang ada di pikiran istri dan anak anaknya. Menurutnya , yang dia pikirkan itulah yang benar benar terjadi. Itu bisamemicu marahnya terulang lagi.Dengan topik yang sama dan sangat menyebalkan!.Biasanya kalau sudah begini ,kami intens sms. Menjelaskan permasalahan yang sebenarnya. Puluhan kali terkirim tidak akan pernah di balas.Tetapi setidaknya , ia baca dan nanti kalau lagi enak hati dia baca dan pikirkan.
Rani sangat intens menghubungi , bicara dan menelpon Bram. Tentu itu dibandingkan kami yang kalau sudah tahu Bram sedang marah , malah tidak berani mendekat. Rani , sipemberanbi itu memang haruys diacungi jempol. Semakin Bram marah , semakin dia rajin mendekat. Aku mahfum kalau Rani jadi lebih dekat dibandingkan aku. Pendapat pendapatnya jadi sering lebih di dengar dan usul usul nya lebih banyak di kabulkan. Ini membuat kami kadang tambah jauh.....!
Kedekatan yang yang semua orang bisa memastikan akan berujung kemana. Bram mulai memancing rasa pekewuhku. Ia memanfaatkan rasa risihku melihat mereka berdua ke jakarta , ke solo dengan abel dan alya , keyogya , kebali atau tempat tempat yang menyebabkan mereka " harus berdua". Rasatidak enak dan perih bercampurjadi satu. Belum lagi kalau harus berakting " tenang " karena harus menenangkan hati anak anak yang protes terus!.
" gimana ya dik , klau kita nikahkan saja papa itu dengan Rani "
" gendeng , mama iki!"
"lha runtang runtung kayak gitu , malah jadi fitnah dong..."
" Iya , nggilani!"
"kamu juga sudah mulai pacaran.... gimana caranya menyembunyikan story ini , mbak"
" kan gak harus cerita to , mah
"nantinya mereka juga harus tahu , kan "
" iya.... kalau jadi kan ma. kalau masih pacaran dan belum jelas kemana.... ya gakusah cerita"
"emang lebih enak lihat papa seperti itu , dik "
"malu sih.Tapi karena gak bisamelarang ya terus bagaimana. Mama juga... baik baik sama Rani. Kita kan jadi susah juga bersikap "
" dulunya sih demi Abel.... agar dia jugabisa tumbuh dan berkembang dengan baik "
"toh nantinya abeljuga akan tahu , ma. Biarpun sekarang dia baik baik saja dirumah kita ,nantinya dia juga akan muncul muncul pertanyaan pertanyaan, misalnya ,kenapa dia tinggal disini dan mamanya disana. ...."
" ya ,maksudku , biar kalau saatnya dia bertanya tanya itu , dia tidak terlalu kaget gitu!"
" terus... "
komunikasi yang macet menyulitkan kami untuk lebih dekat. Pulang dari kantor biasanya sudah malam .Selesai mandi , ia akan terus berada di kamarnya sambil terus menelpon. Diantara banyak telepon , telepon ranilah yang paling sering masuk dan terlibat pembicaraan yang paling lama. Rani juga yang paling tahu apa yang sedang , akan dan apa yang ingin dilakukan Bram. Jelas aaku tidak pernah terlibat dengan pembicaraan serius dengan mereka.
Sekarang , aku bukan saja benar benar tersisih , Aku bahkan sudah dianggap tidak ada. Tololnya aku cuma merasai dan membiarkan semua berlarut. Aku juga merasa tidak penting lagi melibatkan Bram , bahkan ke urusan yang paling kecilpun. Kalau jari itu aku harus mengambil rapot anak anak , misalnya , aku tinggal berangkat saja. Lalu kalau rapot sudah aku terima , ya tidak ada laporan untuk dia. Biasanya dia juga tidak bertanya banyak. Paling paling berapa nilai kamu dan nilai rata rata kelas. kalau anak anak milainya dibawah rata rata kelas dia akan ngomel panjang lebar. Seperti biasanya , kami juga akan cuma mendengarkan dengan takzim dan tidak membahasnya lebih lanjut.
Begitu dinginnya hubungan kami. Karena dinginnya berlarut larut , kami jadi piawai beradaptasi dengan kedinginan itu. Akhirnya , terasa enak saja dengan kondisi itu. Semua terasa biasa saja.Sudah tidak aneh aku dan ke lima anakku itu pergi tanpa keikut sertaan sang si papa. Ke undangan pengantin, pertemuan keluarga , ke mol bahkan kerumah sakit atau melayat kerabat yang meninggal.
Dia tidak pernah pamit kemanapun pergi.Aku juga beradaptasi dengan cepat. Jadi kalau dia datang dari pergi itu dan ternyata baik baik saja.Aku tidak mempertanyakan kepergiannya.
Bohong kalau kami nyaman dengan kondisi ini.Di aku bentuknya memang bukan protes yang menggebu atau kemarahan yang membara. Ayahandaku punya cara yang jitu untuk melampiskan kemarahan hati. Ambil kertas hvs dan spidol besar warna merah. Tulis unek unek dengan spidol itu. Dengan huruf kapital dan tebali. Bahkan caci makipun dihalalkan. potong potong dengan kater, diumel uwel uwel. belum puas , cacah dan injak injak. Setelah itu dibuang. Kurang puas juga?,afdruk fotonya 10R dan coret coret lalu gunting gunting!. Dijamin setelah itu kita bisa menghadapi, bukan cuma dia tetapi juga anak anak dengan energi baru dan bersih.Tanpa marah dan lebih bisa berkata lebih enak untuk di dengar!.
Kesibukan dengan anak anak dan sibuk dengan urusan per pkkan juga banyak menolong para perempuan untuk mengatasi stress di dalam kehidupan. Kita paraperempuan sudah sejak awal di cipta dengan berbagai kemampuan. Kita , bisa mendengarkan radio sambil mengetik makalah. Kita bisa memasak sambil mengasuh anak. Kita pandai menata hati yang jengkel dan resah sambil menina bobokan putra putri kita. Seolah semua punya piktu keluar sendiri sendiri. Bandingkan dengan laki laki yang menangispun tidak bisa karena merasa tidak pantas. Yang jika merasa terpojok malah berteriak teriak membela diri. Yang jika merasa terhina malah membawa parang untuk membunuh. Sebagai perempuan aku merasa lebih beruntung karena punya banyak cara untuk menyelesaikan kemelut dalam hati. Punya air mata yang mampu menghisap semua rasa pedih dan tidak pernah malu untuk datang bersimpuh meminta maaf.
Sejak pengakuannya di acara pemakaman ibu yoyok, aku tidak lagi pernah bicara gayeng dengan bram. Tidak pernah mengajukan usulan atau protes dengan apapun yang dilakukannya. Ia boleh datang dan pergi kapanpun dia mau. Ketika tidak pulangpun , bahkan untuk beberapa hari, saat dia pulang kerumah , aku juga tidak menanyakan tentang kepergiannya itu. Aku merasa dia tidak nyaman setiap berdekatan denganku. jadi akupun tidak mendekat padanya.Menurutku , dia juga tidak suka aku ikut pergi dia. Jadi akupun tifak pernah ikut kemanapun dia pergi. Ketika hari raya dan dia memutuskan pulang ke palembang, dan dia tidak bicara apa apa padaku, maka akupun memilih tidak menanyakan dan ikut dia.
Ini perang dingin.Ya ini perang dingin. Sudah tidak ada lagi permainan siapa memiliki siapa. Aku juga cuma teman hidup yang bisa dia lupakan kapanpun dia mau. Aku tidak lagi perlu sakit hati. Ini pilihan hati. Ketika dia diam. Aku juga diam saja. Diam juga bisa jadi memiliki kebebasan yang tak terbatas. Karena dengan diam , aku bisa berteriak dengan lantang tanpa menyakiti seseorang.
Kondisi kami gambarannya seperti ini. kami sedang mengendarai kendaraan , kami harus menyeberangi sebuah jembatan dan kami berada di dua kutub yangberbeda. Ia berada di arah utara dan hendak keselatan sedang aku ada di ujung selatan dan bermaksud ke utara. Tidak ada salah satu dari kami yang menyingkir kesamping dan membiarkan salah satu lewat lebih dulu agar kitapun bisa melewati jembatan itu dan bisa sampai ke tujuan. Jadi mandek dan fakum.
Aku faham ini suatu kebodohan.Dan aku memilih jadi si bodoh.
Abel makin mahfum dengan mamanya. Dia sudah hafal dengan suara dan kebiasaan mamanya. Dia misalnya sangat tahu kapan harus mendekat dengan mama Rani dan kapan harus mendekat dengan mama Deka. Naluri keanakannya , terlatih.
Kalau kami sedang berjalan bertiga atau berempat ,kalau ia butuh kekamar kecil atau ingin makan ice cream atau roty boy ia akan langsung memegang tanganku, menariknya sampai ke counter yang dituju. Ia tahu aku tidak akan menolak keinginannya. Tapi kalau ia ingin mainan yang lumayan mahal ( diatas harga 150 ribu ) atau baju cantik punya barbie , dia tahu yang digandeng harus tangan mama Raninya.
Memang bisa ditebak , Abel makin dekat dengna mamanya. papanya juga makin dekat dengan mamanya. Sepertinya aku tinggal menghitung hari , biduk dengan layar yang sudah terkembang ini akan sampai dan bersandar di pelabuhan mana.Seperti apa kondisi biduk ini ketika berlabuhpun makin tergambar jelas.Rani , abel dan Bram makin tak terpisahkan.Tidak ada satupun masalhpun yang menyangkut abel atau Rani atau Bram yang tidak melibatkan kami semua.
misalnya,Ketika eyang solonya ingin melihat sudah seberapa besar Abel sekarang , aku harus menyiapkan mereka untuk pergi mengunjunginya. Aku juga berkembang makin resek dan mau tahu apa saja yang mereka lakukan disana. (kadang malah sangat kelihatan dan tidak bisa disimpan cukup dalam hati)
dari cerita Abel dan Alya , mereka ke borobudur misdalnya. Menginap di hotel dan tidak di rumah eyang solonya. Sekamar berempat?. Ambil yang twin? siapa tidur dengan siapa?.Alah.... benar benar merusak hati.
" tidak usah main hati , ma" usul ade
" iya !" kataku. Tapi ternyata sangat sulit dan selalu gagal.
" gak usah dipikir , to" usul anakkku yang lain
" iya !" jawabku .Ternyata sangat sulit dijalani dan selalu gagal .
" harus satu pikiran dan tindakan , ma" kata bungsuku
" iya!" aku akan lakukan itu.Dan selalu gagal.
Artinya , selalu ada rasa sakit yang muncul dan untuk menghilangkannya aku butuh lebih banyak hari,lebih banyak air mata dan lebih banyak energi. Gebleknya tidak aku komunuikasikan dengan Bram. Jatuh bangun aku mempertahankan hati agar bisa ikhlas. Aku jelas makin tersisih. atau yang benar , merasa tersisih. Sebab belum tentu mereka menyisihkanku bukan?. kami memang tidak pernah bicara soal siapa menyisihkan siapa. Semua kami biarkan berlangsung terus.... mengalir.
Komunikasiku dengan Bram macet total. Aku tidak bisa bercerita tentang apapun yang menyangkut diriku , perasaanku dan harapanku. Obrolan kami terbatas tentang apa yang "harus dilakukan " . Apa lagi yang m,enyangkut pembeayaan. Yang ia ingin tahu cuma berapa jumlahnya dan kapan pembayaran terakhir. Ini sebetulnya asyik. Sebab untuk yang satu itu kami tidak diribetkan sama sekali. Mau tes dimana , mau daftar apa , mau bayar apa , tinggal mengajukan ke papa dan papa akan memberitahukan kapan dananya bisa cair.
Kadang Bram juga protes.Ia merasa seperti kuda perasan. Biasanya kami tidak membantah. Itu akan muncul setiap kali dia stress dengan pekerjaannya atau merasa dia cuma berkutat dengan Rani dan segala permasalahnnya , merasa tidak banyak terlibat dengan anak anak atau ketika tiba tiba dia merasa kesepian dan jauh dengan anak anaknya.Mungkin kecuali dengan aku! ( kasihan ya aku!)entahlah.
Mulanya , datang jam 9 pagi dan pulang jam 4 sore , dirasa cukup setiap pertemuan. makin lama makin butuh waktu panjang. Dengan alasam pekerjaan yang harus di jalani esok harinya. Bram mulai menawari Rani menginap di rumah.
Ia tidur dengan aku dan Abel dikamar bawah. Ia jadi tamu yang harus aku temani ngobrol dan temani pergi. Tidak ada pembicaraan sebelumnya. Bram main pasti saja , bahwa itu baik baik saja dan sangat wajar untuk dilakukan.
Bram semaunya membuat keputusan. Ia begitu yakin aku akan menerima keputusan itu.Nyatanya aku tidak pernah menolak memang. Bram sudah sangat terbiasa dengan sikapku yang tidak berkomentar atau bereaksi negatif dengan semua hal yang dia putuskan.jadi kalau sekarang dia membuat keputusan bahwa Rani menginap dirumah , dia pasti yakin aku tidak akan keberatan dengan itu.
Bram mestinya tahu ini beda kasus. kalau kemarin misalnya dia memberikan sepatu barunya ke karyawannya atau mengirim uang untuk ibundanya atau membebaskan hutang temannya tanpa rembukan dengan aku, itu bukan masalah besar. Tapi ini masalah Rani. Perempuan yang memporak porandakan hati kami. BIsanya ya dia menanggap aku dan hatiku baik baik saja.
Akhirnya kupilih untuk tidak mempermasalahkannya. karena pasti lebih buruk lagi kalau misalnya Rani menginap di Hotel dan dia menemani!.Ini jelas masih lumayan. Rani jelas tidur dengan aku dan Bram tidur dikamar atas, Setidaknya pikiranku tidak usah terlalu kusut. Setidaknya begitu!
Aku juga tidak membicarakannya dengan anak anak. Kami menghadapi manusia manusia yang tidak punya hati. Jadi tidak usah bermain dengan hati.Dan aku sudah dapat dipastikan "tidak biusa!"buktinya , meski Bram tidak bicara apa apa. Tapi karena Rani sampai malam ada dirumah kami , maka aku tawari dia daster untuk tidur. Meski esoknya setelah mandi dia ganti baju lain dan itu adalah indikasi bahwa menginapnya sudah direncanakan dari sejak sebelum berangkat ke Surabaya juga berarti Bram sudah tahu dan setuju , aku tidak bertanya apa apa.
Bagiku itu adalah sinyal , bahwa mereka tidak menganggapku penting. lebih menyedihkan lagi bagiku itu juga berarti mereka makin dekat!.
Rasa pedih itu muncul lagi. bahkan sekarang lebih sering. Niat baik untuk " gencatan senjata " itu ternyata tidak membuahkan perdamaian di hati. Sekarang Bram dan rani makin berani terang terangan pergi berdua , berangkat dari rumah. kalau rani ada di semarang , bram sudah tidak lagi sungkan untuk mengangkat dan bicara atau bertengkar didepan kami.Bram juga dengan entengnya mengkritikku dan membicarakannya dengan Rani meski aku dan anak anak ada disitu.
Aku mencium aroma busuk dan aku memboyakkannya!
U TO P I S
1
" sebagaimana Allah mengatur kita sebelum kita lahir, Ia juga mengatur kita sesudah kita lahir. Dialah yang sangat faham mana yang layak untuk kita dan mana yang tidak layak untuk kita. ia maha adil dan maha mengetahui "
Mudah ditebak. Begitu gencatan senjata , Rani jadi sangat sering ke Surabaya. Hampir setiap ,imggu. Bahkan sesekali bisa seminggu dua kali . Alasan utamanya tentu untuk bertemu dengan anaknya, Abel.
Sementara ini aku betul betul menjadi inang pengasuh kedua anak balita itu. Kemana mana kalau kami pergi ( aku , alya ,abel, rani dan Bram ) , pembagian tugasnya tidak pernah berubah. Bram akan ngobrol dengan Rani sepanjang pertemuan itu akumengasuh dua balita itu . Sorenya kami akan antar Rani ke juanda untuk pulang ke semarang lagi.
Ini pertemuan yang sangat banyak memakan energi positifku. Rasanya aku tetap harus menjaga hati semua orang. Hati Abel , hati Alya , hati Bram dan hati Rani. Tujuannya agar pertemuan ini tetap enak untuk dijalani. Agar tidak ada perselisihan atau suasananya rusak dan Semua berakhir happy.
Harus menjaga hati mereka?!. Siapa yang mengharuskan?. gak ada! . Ini cuma komitmen aku dan hatiku sendiri. Bahwa menurutku ini adalah konskwensi dari " gencatan senjata" yang aku prakarsai sendiri. Menurutku , memang Abel tidak boleh kehilangan moment pertemuan dengan mamanya yang tidak setiap hari ada. Ia harus belajar merasakan kehadiran mamanya. Perempuan yang melahirkannya.
SEmua orang bilang aku bodoh!. Hari gini cuma berbekal " niat baik" jelas tidak cukup. Anak anakkupun tidak setuju dengan sikapku itu.
" ma , ma.... mbleset bleset ma.... mama gak faham faham yo. Mama itu berhadapan dengan siapa?!
" sak no Abel , dik "
" sak no Abel , sakno Rani , sakno papa , sakno alya.... terus sing ngesakno mama sopo?"
" gusti Allah , yo .."
" jogo atine papa , jogo atine Abel , jogo atine Rani .Lha sing jogo atine mama sopo..?!"
" gusti Allah , yo "
" gusti Allah , gusti Allah.... lha pikire mama gaweane gusti Allah mek jogo atine mama ta...!!!"
' koen iku rek rek !!!"
" gak usum , ma.gak usum !!"
"lha menurutmu , dik "
" mama terlalu polos. Rodok bodo.maaf lho ma.... tapi memang mama rodok bodo!. masih yakin ta , kalau papa gak sengaja menghamili Rani?. Masih yakin ta , kalau Rani gak duwe strategi nguasai papa?. Mama yakin ta , kalau mereka tidak berkonspirasi... walah , mama ngerti ta karepku?"
" koen iku , dik , dik ?"
" yo , wis.... mama itu orang yang mudah ditebak. Istilahe , untuk agar mama bilang " ya " orang gak perlu usaha banyak. Dasare gak isoan. Percoyoan.Yo wis lah ma , kita lihat nanti aja..... "
" biar waktu yang bicara!"
" Iyo . ma.mama wis bener kok. Gondelane gusti Allah. "
" gitu , ya ?"
" yo wis lho.orang baik itu pasti ketemu dengan orang baik "
" gitu , ya"
Dua menit kemudan aku sudah ada diatas sepeda motor. Melaju ke sekolah Alya yang berjarak dua kilo meter dari rumah. Alya , anak ke empatku itu sekolah di tk bermain alwahyu. Biasanya Abel juga ikutan menjemput. tapi hari ini dia tidak ikut.
Sampai dirumah kembalipun Abel tidak sedang tidak da di rumah. ia sedang jaln jalan diosekitar peruahan kami dengan buk Su. jadi aku putuskan untuk mencarinya dan mengajak dia pulang ke rumah. Dasar anak anak!.
" ini lho , mama Rani , bel," kataku sambil mendekatkan badannya ke Rani
" moh!"
" yeh... elek, gak boleh gitu. Salim lagi deh...," kataku memaksanya mengulurkan tangan ke mamanya. Sambil tertawa dia mengulurkan tangan. Ranipun menyalaminya.
" sini , duduk sama mama." ajak Rani sambil mau mengambilnya dari gendonganku
" moh " lalu abel menyembunyikan wajahnya dipundakku
" ok.... masih malu ya , bel "
" yo wis yo wis ... duduk sama mama sajalah "
" jam piro teko semarang , mbak "
" bording jam 6 mbak"
"wich, mari subuh lak wis budal "
" iyo... '
Ketika akhirnya Amran bergabung di raung keluarga , aku punya alasan untuk meninggalkan tempat.Ini basa basi yang betul betul basi. Mereka bicara gayeng tentang peketjaan mereka. Aklu betul betul tidak masuk hitungan. Lalu aku masuk kamar mandi. Rencananya cuma mau buang air kecil Tapi karena ingin lebih lama dikamar mandi . akhirnya aku mandi lagi. Kelakuan yang eneh dan bodoh karena aku sudah mandi sebelumnya.
Aku cari kesibukan dengan abel dan alya. Yang menyuapilah , yang ambilkan mainannyalah. Betul betul ngagak lucu. Dirumah sendiri kok kikuk. Mereka mendominasi pembicaraan. thema obrolannya bisnis dan keuntungan yang sudah mereka dapat. Aku lholhak lholok. Bener bener lholha lholhok!.
" mau kemana . bel , kok pakai baju bagus," sapa bram ke Abel
" dirumah , kan ada mama Rani datang... ." aku mewakilinya
" gak jalan jalan , ta "
" enggak!," kataku lagi
" jalan jalan , bel! kan ulang tahun sekarang. Beli beli sama mama Rani. Duitnya buat apa!"
" iya . mbak. Jalan jalan yuk ," ajak Rani
" nang endi yo... "
" Tp ma , TP ma ...!" teriak alya
" Tp ma TP ma... ! abel juga ikutan berteriak
" please.... please... !" Alya menakupkan kedua telapan tangannya dan bersikap memohon padaku
" Pis.... pis...!" abel menirunya
" Ok! pakai sepatunya. Bawa susu dan pempers!"
Keduanya jadi girang sekali.Berlima kami masuk mobil , mampir ke kantor Bram dulu sebentar lalu kami pergi ke TP.
Banyak sekali yang kami beli hari itu. Semua bertajuk " hadiah ulang tahun".
keputusan untuk berdamai membawa banyak perubahan. Pertama yang kurasakan hatiku jadi terasa lapang. Ada perasaan lega yang sulit diterangkan dengan kata kata. Kepalaku terasa ringan. Rasanya seperti habis membawabeban berat dan sekarang beban itu kuturunkan.Ploong!.
setelah ini akan banyak yang harus direlakan untuk dijalani bersama. MIsalnya , Rani boleh kapan saja kerumah untuk menjenguk , mengajak atau merencanakan sesuatu untuk anaknya. Aku tidak boleh kompline!. Bisa jadi hubungan kami makin dekat karena jelas akan banyak hal yang harus kami lakukan bersamasama demi kelancaran hubungan ibu anak itu.Dikemudian hari , bisasaja hubungannya denga Braaam akan makin dekat. Sampai di sini hatiku kembali terasa perih.... dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang setidaknya tidak hari ini.
membuktikan diri bahwaaku serius denga keputrusan itu , setip pagi aku mengajari Abeluntuk telpon mamanya. "Obrolan dipagihari " ini sepertinya mengasyikkan. Abel belajarmengenal suaraibunya dan Rani belajar mendengar suara anaknya. Mereka berdua sedang belajar menyambung tali siulaturrahmi ibu dan anak.
saat ini ,Abel berusia 22 bulan.Momen yang pas. Ia sedang suka menempelkan apa saja ditelinga dan menjadikannya seperti HP.Ia bicara apa saja. Bahkan kadang dia menyanyi dengan irama yang tidak jelas. Bicara yang tidak jelas. Lucu!.Badannya yang bontet dengan potongan rambut ngebob di bawah telinganga, ia betul betul terlihat bundar.Bontet!.
Rani juga sepertinya menahan hati. Ia tidak berani telepon duluan kalau aku tidak telepon. Aku berharap dia memang sedang menahan hati sebab kalau tidak itu berarti dia memang cuek terhadap anaknya.Itu berarti ,usahanya untuk bertemu anaknya sampai harus " menculiknya " bukan didasari oleh "cinta setengah mati psadaAbel" tetapi cuma ingin uji nyali dan mengganggu. Target utamanya cuma "bram". Itu cara dia mengetahui ada dipihak mana Bram itu.
Bram sendiri tidak bertanya apa apa. Aku tahu , ia sudah mendengar semuanya dari Rani. Bahkan lebih lengkap. Aku juga tidak berniatmengabarinya tentang ini. Diam diam aku juga kesal dengan sikapnya. Dia memang tidak suka bermain hati. Dia tidak suka melihat kami menangis atau tertawa terbahak bahak. baginya ini momen biasaaaaasaja. Tidak perlu di dramatisir. Abelmemang anaknya Rani. Jadi kalau sekarang Rani bisa bersama anaknya , ya itu wajardan manusiawi. Tidak ada yang istimewa.
Pedih juga direspon seperti ini.Karena menurutku , ia bukan saja tidakpeduli dengan kemajuan hubungan ini . tetapi ia sama sekali tidakmenganggapku , membiarkan lukaku terbuka dan menganga basah.Membiarkan aku mencari sendiri penutup dan pemulih luka.Ia sama sekali tidak peduli dengan kedaanku. Dia menganggap semua biasabiasa saja.Dia main yakin saja ,bahwa aku akan baikbaik saja.
Dulu ketika dia mengakui kalau Abel itu anaknya , ia juga yakin kalau itu tidak akan melukaiku atau akan menyebabkan aku bunuh diri atau membawa parang dan mengancamnya.Ia bahkan belum pernahminta maaf karena telah wan prestasi terhadap perjanjian pernikahan kami. Ia tidak melakukan aksi apa apa. Ia membiarkan kami mersasaimsemua sendiri.Ia sama sekali tidak pernah membahasnya. Barangkali , baginya ini tidakterlalu penting kecuali sebagai bagian darikehidupan yang harus dilalui.
Rani , setali tiga uang.Sama saja. Ia belum pernah minta maaf karena masuk kedalam lingkaran rumah tanggaku. Ia curang dan berkhianat. Ia juga tidak pernah berterima kasih karena aku telah merawat abel dan tidak meracuninya. Ia juga menganggap semua ini biasa biasa saja. emh..... andai sekal isekali dia melihat acara patroli jam 12 siang di RCTI. Biar dia tahu bahwa perempuan2 pengkhianat itu adayang di mutilasi atau di rajah wajahnya. Jadi dia bisa bersyukur kalau sampai saat ini dia baikbaik saja. Tidak dicaci maki atau wajah nya tetap ayu dan tidak mengelupas karena disiram air raksa!
Aku sendiri tidak ingin membahas dengan mereka berdua. Aku yakin semua akan percuma saja.aku juga tidak ingin jadi pecundang!. Mereka tidak punya hati lagi. Tidak suka bermain hati.Kalau yang aku inginkan , Bram bersimpu dan minta maaf. Mengakui kersalahannya atau barangkali menyediakan konpensasi buat aku. Diam diam aku malah berfikir ... itu barangkali cara mereka mengatasi perih hati mereka.Aku yakin , ia tidak bisa menikmatinya selamanya. Suatu hari nanti , suatu saat nanti ...... mereka akan dibuat gelisah oleh semua sikapmereka. Aku memutuskan diri untuk menjadi pendengar dan pengamat saja. jujur aku berharap , mereka tersiksa setiap melihatku. bah!
7
Ulang tahun kedua bagi abel, 12 Desember 2004.Hari ini untuk pertama kali ibu dan anak akan bertemu.
sejak seminggu yang lalu , aku mulai mengajarkan bagaimana Abel harus bersikap manis , menyapa ibunya seperti kalau didalam telepon. Sudah sebulan ini dia bisabicara bahwa mamanya adadua. Mama Rani dan mama Deka.Dikepalanya mungkin itu cuma sebuah kata tanpa makna apa apa.Tapi kalau ditanya siapa saja , dia bisa menjawab seperti itu.
Pagi ini Rani berangkat dari semarang jam 7.30. Dengan pesawat mandala , setengah jam kemudian dia sudah akan sampai diSurabaya.Jarak rumah kami dengan lanuda Juanda sekitar setengah jam jika ditempuh dengan taksi.
Sudah sejak pagi Abel mandi dan berpakaian rapi.Kami duduk diteras rumah kami untuk menyambut mamanya. Sepanjang kami menunggu , aku mengajari abel apa yang harus dilakukannya jika mamanya datang.Meski dia menjawab "ya" terus, tapi sepertinya dia tidak akan melaksanakan petunjuk itu karena setiap kali dia selalu menyela nya dengan berkata " hah , apa?!".Wah kayaknya dia belum faham bahwa ini momen istimewa dalam hidupnya.
Aku sendiri panas dingin menungguinya. Pagi ini untuk pertama kali kami akan bertemu tidak sebagai " sateru ".
Keika ada taksi bluebird berhenti didepan rumah , aku segera menggandeng Abel untukmendekatinya. Rani turun dengan membawa boneka kodok besar warna hijau lembut. Itu hadiah ulang tahun Abel pertama darinya. Mukakami sama tegangnya. Aku bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama. Dan benar.... abel curang. Dia memegangi celana panjangku dari belakang. Dia tidak mau bersalaman dengan ammanya. Jadi aku main paksa. Tangannya ku tarik dan badannya ku sorongkan ke mamanya. Rani beroingkok sambil berusaha memeluknya.Abel berkelit dan lari.
Suasananya memang kaku. Sejenakkami diam karena tidak tahu harus berbincang tentang apa. Kubiarkan dia di ruang keluarga bersama Abel.Aku naik keatas membangunkan Bram yang aku yakin cuma cuma pura pura tidur karena bingung harus bersikap apa.Ia memilih tiduran karena dengan itu dia tidakusah berpikir harus memasang raut wajah seperti apa sebaiknya.Aslinya sih dia senang!aku yakin itu. Yang dia pikirkan cuma dirinya sendiri. Baginya, aku ini , sampai hari ini adalah pihak yang harus tetap tidak bikin masalah. Harus tetap bersikap bijak dan santun.Sialan!
" ada mbakRani," kataku sambil mengetok pintu kamarnya
" iyo "sahutnya dari dalam.Meski suaranya seperti bangun tidur, aku yakin dia memasang telinga sepanjang pagi ini untuk tahu Rani sudah datang atau belum.Dia cuma pura pura cuek.Aku tahu pasti kemarin mereka sudah ngomong panjang lebar bahkan strata menghadapi aku dan Abel. Dasar!
Aku kembali kebawah. Disana cuma adaRani yang sedang nonton TV. Abel sudah melarikan diri dan main dengan buk Su , pembantu kami.
" pak Amran lagi mandi , mbak"
" oh iya mbak"
kami sama sama pelit omongan. Aku kedapur membuat minuman untuknya lalu membawanya keruangan.
" diminum mbak, pak amran lagi mandi!"
" ya ,mbak"
" mbak , sambil nunggu pak amran ya , aku mau jemput alya dulu "
" iyo ,mbak "
" syukurlah , dek", kata ibuku dengan nada riang diujung sana ketika aku mengabarinya tentang "perdamaaian" kami." dari dulu aku dan adik adikmu pengen bertanya banyak sama kamu tapi gak jadi jadi. Tak lihat kamu ya baik baik saja toh.... gak stress juga gak gendeng..... ya syukuran, deka. Gak usah mikir sing tuektuek. Anggepen ae nandur apik, nak.yo... yoooo tak dongakno apik apik ae", katanya lagi.
Ibuku itu perempuan paling istimewa dalam hidupku. Belum pernah sekalipun beliau membujuk bujuk aku atau menyarankan sesuatu yang tidak baik, terutama dalam persoalan aku dan Rani. Beliau juga tidak pernah menyalahkan Amran soal ini. Ia diam dan melihat, seolah semua baik baik saja, bahkan ketika anak anakku curhat tentang orang tuanya , ia sibuk membesarkan hati mereka. Memberi gambaran yang positif tentang semua masalah yang muncul dalam keluarga kami.
katanya,Kalau Tuhan masih memberi ujian atau musibah kepada kita , itu artinya Tuhan masih sayang kepada kita. Ia tidak membiarkan kita lalai dan berbuat kesalahan.Apapun yang terjadi dalam hidup kita sekarang, pasti sudah ada dalam pengetahuanNya.Ia sudah memperhitungkan mana yang layak dan mana yang tidak bagi kita. Semua yang terjadi adalah peluang emas untuk menunjukkan cinta kepadaNya,
Ibu jugalah yang selalu menjadi penolong saat anakanak bermasalah dengan papanya. Seperti ketika mobil baru dea dicoret coret teman kampusnya, ibukulah yang mengatasinya dengan membayar beaya perbaikan hingga ketika pulang ke rumah mobilnya cling lagi. Atau ketika anak anak pulang malam dan tidak berani pulang kerumah.Atau ketika bete disekolah dan ingin membolos.
Aku juga mengabarkan "perdamaian " itu kepada mertuaku.Beliau juga harus mendengar kabar baik ini setelah lama mengira ira apa yang sudah terjadi pada aku dan anaknya."Deka", katanya lembut,' siapapun perempuan dalam hidup momox aku idak tahu. Yang ku tahu cuma kamu itulah menantu aku".
Lalu aku memberitahukan keputusan damai itu kepada anak2ku. Mereka tidak masalah dengan pilihan damai itu. bagi mereka yang penting aku bisa satu dalam ucapan dan perbuatan. Dalam hati aku juga jadi sedikit gamang. Apa betul aku menjalani pilihan hidup ini dengan segala konskwensinya, Pasti tidak mudah. Pasti tidak mudah. Aku tahu itu.
" mama sudah tahu kan Rani itu seperti apa. Pribadinya kayak apa.... jadi mama setidaknya tahu mau kemana arah semua ini kan...." kata dea
Hehhh... aku menghela nafas, menatapnya tanpa bicara apa apa.
" aku, ma memang belum bisa memaafkan dia.tapi itu jelas urusanku sendiri. Mungkin nanti..... dihari lain"
"kamu , De, piye?!" tanyaku ke anak keduaku
"Semua pilihan itu ada resikonya. Aku berdoa ,pilihan itu baik nantinya"
"kalau aku sih ma.... ," sela anak ketigaku," gak masalah. kayaknya kita akan tetap baik baik kok ma.Apapun pilihan mama , kita harus tetap baik baik kan ma. Musuhan itu ngabisin energi, energi itu mahal , ma. masih banyak yang harus kita pikirkan. jangan berhenti di situ thok. Sudah biar Saja papa dan Rani itu. Mau apa kek.......kita baik baik saja sama mereka. Biar papa sehat..... tetap bisa cari duit buat kita. Soal abel ya, kan sekarang sudah baikan ya mamanya suruh nguruni mama beli susunya, beaya perawatan.... "
" gitu ya... "
" terus melangkah , ma....ntar ketinggalan sepur"
" gitu ya.... "
" Ah , mama iki....... "
" iya ya..... masih banyak yang harus dipikirkan dan di perjuangkan. kenapa cuma terfoku"s masalah Rani...... ". Anak ketigaku itu sering punya jawabam dan pemikiran diluar dugaan.Ceplas ceplos tapi sering mengena.
"ma , ada bakso ma... tak panggil ya "
" iya ,iya "
" yessss!"
6
" Orang kuat itu . bukan orang yang bisa membalas tetapi orang yang berkuasa untukmembalas tetapi ia memilih untuk memafkan". Ku smskan kata kata manis ini untuk anak anakku.
Dipenghujung malam, akuberdiri tegak diatas sajadahku. Gusti , kataku pedih. Kuniatkan sholat ini sebagai sholat tahajut, juga sebagai sholat istikharohku. Kuniatkan ia juga sebagai sholat taubat dan sholat hajatku. Aku cinta padaMu. Aku cinta padaMu.
Setelah hatiku tenang , baru kuangkat tanganku untuk takbir.Tak ada hal lain yang lebih penting dari pada menyerahkan diri padaNya.Menyerahkan seluruh persoalan , meminta agar diberi kepandaian membaca keputusanNya dan ikhlas menerima apa yang telah Dia putuskan.Membiarkan Allah yang maha pengatur itu , mengatur kita sehendakNya. Ia maha Pengasih , Ia tidak pernah mengingkari janjiaNya. Ia akan selalu memberi apa yang telah hilang, Ia memberi lebih dari yang kita minta,Ia memberi dengan sesuatu yang baru dan penuh berkah.Aku yakin itu.Hakkul yakin!
Setelah subuh , aku mengirim sms ke Rani." mbak, kita gencatan senjata ya.Kamu bekerja saja baik baik dan abel tak openane . Kamu boleh kerumahku kapanpun kamu mau. Melihat atau mengajak Abel kemana kamu suka. tq ya... ". Rani membalas smsku . Ia berterima kasih. Aku merasa plong........... gatiku terasa terbuka sangat lebar...... damai sekali.Kemarahan yang tersimpan dan mengarat , pagi ini terasa terkeruk dengan sangat bersih.
Jadi ingat bapakku almarhum.laki laki sederhana itu pernah bilang, bahwa dalam kehidupan ini yang paling sulit adalah memaafkan orang yang mendlolimi kita , memberi kepada orang yang pelit kepada kita dan berbuat baik kepada mereka yang berlaku jahat kepada kita.
Ternyata , ketika aku menjalani salah satu ajaran itu,ada rasa lega yang luar biasa di hati.Kepala rasanya terbuka lecar. Badan rasanya ringan dan enak sekali.Tidak lagi merasai kegetiran dalam hati karena tidak usah lagi merasa marah dan jengkel.Musuhan itu ternyata capek sekali. capek hati tentunya. Setiap mendengar nama dia disebut , rasa jengkel itu muncul . Bahkan ketika bukan dia orang yang dimaksud .Begitu pedihnya hatiku sampai sampai aku bilang kepada anak2ku untuk tidak menamai anak anak mereka dengan nama Rani , Yeni , Ning dan Mery. Aku wanti wanti..... sebab aku akan membancinya.Wah!
Sepanjang hari itu kurasakan hatiku riang dan hidupku ringan. Kukabarkan kemana mana bahwa kami telah gencatan senjata. Sudah berdamai. Artinya , aku sudah siap untuk hidup dengan segala konskwensinya atas perdamaian ini. Tuhan tetap bimbing aku.Sebab episode berikutnya pasti tambah rumit dan makan hati. Engkau pelindungku gusti... dan cuma engkau. Kutitipkan suami dan anak anakku padaMu. Kutitipkan hidup kami padaMu. Maafkan kami ya ghoffar... beri maaf kami. Teruslah bimbing kami.
5
kataku pagi itu di sms untuk lima ibu di komplekku " di dalam hati kita , ada ke kacauan yang tidak dapat dirapikan kecuali dengan menghadap kepada Allah juga ada kegelisahan yang tidak dapat di tenangkan kecuali menyatu dengan Allah"
Puluhan hari aku dikepung oleh rasa bersalah. Takut terjadi apa apa dengan Abel.Aku takut anak itu stress.Aku takut kalau terus terusan ia dalam kondisi kekerasan hati kami , ia juga akan berkembang menjada anak keras hati dan keras kepala. Aku takut , kalau ia selalu dalam asuhan ibu yang tak pandai berbuat damai bahkan dengan hatinya , ia akan tumbuh menjadi gadis yang pintar mencaci dan memberontak terhadap semua tatanan. Aku ingin ia jadi gadis yang lembut hati dan penuh pengertian. Aku juga ingin ia menjadi gadis yang mampu bertahan dan mampu mengatasi kesulitan.Aku sangat ingin ia tumbuh dan nantinya menjadi gadis dan pantai menata hati. Jelas Rani tidak punya rencana matang untuk pengambil alihan Abel. Rani jelas cuma emosi saja. Ia ambil Abel dengan paksa , lalu bingung harus apa setelah Abel ada ditangannya.Dia bukan memilih bicara denga aku , minta maaf karena telah menghancurkan hatiku dan hati anak anakkku. Ia pilih berdiam dan beraksi. Aku yakin ia berani seperti itu karena dia memang tidak merasa bersalah denga apa yang dia telah lakukan, juga karena Amran selalu ada di pihaknya.
Aku mencoba memahami jalan pikirannya. Kurasa , ia merasa benar membiarkan dirinya terus terlibat dan mengembangkan rasa cintanya pada Amranku.Cinta tidak pernah diundang bukan?Ia bisa datang kepada siapapun yang ia mau.Seperti gadis lain , barangkali ia juga merasa harus memperjuangkan cintanya itu. ia tidak merasa menyakiti siapapun, bahkan meski ia tahu amran itu laki laki beranak empat.
Sekarang , yang ia sebut cinta itu telah berbuah. Persoalnnya bukan karena Abel sudah lahir , tetapi Amran tidak juga menikahinya. Ia tidak bisa bicara dengan bundanya kalau ia punya anak dari lakilaki yang sudah beristri. Meski disemua rekan bisnisnya dia diperkenalkan sebagai NY. Amran, aku yakin hatinya juga menangis. Ia sangat sadar m hidupnya bukan " baik baik saja ".
Yang paling menakjubkan dari persoalan ini , Amran dan Rani bisa menjalaninya seolah tanpa beban. Begitukah?. Apa betul yang mereka lakukan itu cinta?, " perempuan ini telah menjebakku!", kata amran ketika di rumah duka Yoyok dulu. Menjebakku! terjebak! atau menjebak!. Apa bedanya sekarang?.Hubungan mereka tidak terpisahkan karena sudah lahir Abel. Apapun status perkawinan mereka , Abel tidak bisa dihilangkan. Pernahkan kalian menangisi diri sendiri?.
Bohong kalau mereka tidak pernah menangisi diri sendiri! aku tidak yakin dia terus bisa tegak dan merasa menang. Siapa tahu hati manusia?.
Kesamaannya , mereka berdua selalu jaga image , tidak mau di salahkan dan tidak mau kalah. Selalu merasa benar dan teliti.Kupikir kalau harus beradu argumen , aku jelas kalah. Ia bisa sajamengeluarkan semua simpanan sumpah serapahnya , sementara aku tidak akan pernah tega membalasnya.Tapi lihat , lagu lagu yang mereka selalu stell di mobilnya..... lagu lagu yang mendayu dayu dengan lirik konyol dan cengeng.Itu bukti kecil , bahwa sikap kerasnya cuma sok saja. Ada yang dia harus lindungi, yakni hatinya yang rapuh.
Sekarang , aku bisa lebih faham , kenapa Rani bisa membanting semua barangnya kalau marah. Atau Amran yang bisa merasa panik dan tidak bisa bernafas karena merasa takut dengan hal hal yang tidak jelas.Mereka harus melindungi diri sendiri dengan keras karena yakin tidak mau terhina!.
" Apa yang aku inginkan?," tanyaku pada diri sendiri. Sudah jelas , Amran tidak akan melepas Rani dan ada hanya untuk kami sekeluarga. Apapun yang berhubungan dengan Abel , tidak mungkin dia tidak melibatkan Rani. " oh, aku cuma ingin tahu apa dia masih cinta aku!", jawabku pasti. kalau saja pertanyaan itu aku lontarkan ke Amran dan ia menjawabnya " ya ", terus aku mau apa?. " Apa dia bisa tidak berhubungan dengan Rani?, tanyaku dalam hati lagi. tidak! pasti tidak !.
Semua pekerjaaan Amran ada hubungannya dengan Rani. ia tangan kanan dan orang yang paling pintar menerjemahkan maunya Amran. Jelas mereka akan terus saling mendukung dan saling membantu. Amran akan frustasi jika tidak punya teman yang bisa diajaknya membicarakan ide ide barunya. Aku bisa apa?. Aku ngerti apa?.Yah, mestinya aku tidak merasa bodoh ya. tapi kenyataannya memeng begitu. Aku merasa sering tidak cukup cekatan mengejawantahkan semua ide dan impiannya( wadow!). Rani , kalau misalnya Amran mau buka travel dan hari ini mereka bicara soal itu maka besok Rani akan datang dengan semua informasi yang diperlukan , misalnya berapa rate kamar hotel partisipan , perjanjian perjanjian yang perlu dilakukan. Ia juga bahkan sudah menghubungi hotel hotel partisipan itu, mengawali pembicaraan dan janji untuk menindak lanjuti semua pembicaraannya. Sedang aku , kalau hari itu Amran bilang KTPnya habis masa berlakunya , seminggu lagi ia menanyakan apalah KTPnya sudah jadi, biasanya malah aku belum jalan kemana mana. Karena sibuk dengan anak anak?.Ah, aku lho masih bisa ke warnet satu dua jam tiap hari, aku juga masih bisa berjam jam nongkrong di toko buku. Aku juga masih bisa datang di arisam RT dan pengajian RW, juga masih nisa jualan nasi bungkus , empek2 dan donat siap saji, yang bisa ku lakukan berjam jam.Artinya aku selalu punya waktu.
" apa yang aku inginkan?" tanyaku pada diriku sendiri sekali lagi!. Aku ingin Amran kembali cuma untuk kami jelas tidak mungkin lagi . kalaupun ada opsi misalnya , aku akan terus mengasuh Abel asal dia tidak muncul lagi dalam kehidupan kami , aku tidak yakin itu bisa berjalan baik. Amran dan Rani pasti terus akan berhubungan. Mereka sudah saling merasa memiliki. Memiliki?.lalu , Aku dan Amran, apa tidak juga saling memiliki?. Ini soal hati. Siapa yang bisa mendeteksi?.Ok , harus ada yang lebih rasional untuk dipakai sebagai pijakan.Bukan cuma bermain hati!.
" anak anak!".Ya , anak anak. Itu fokus dalam hidupku!. Tumpuanku! Permataku! dan hartaku!.Anak anak , adalah amanah dari Tuhanku. Apapun kwalitasku saat ini , sedang frustasikah aku dengan kondisi keluargaku , bodoh atu pintarkah aku , berpengalaman atau tidakkah aku sebagai ibu , bahkan sedang bahagia atau tidakkah aku , itu bukan alasan untuk menyia nyiakan dan tidak peduli dengan amanah itu.Karena perlawinan itu adalah sebuah perjanjian. janji antara manusia dengan manusia , janji antara manusia dengan Tuhan dan janji Tuhan dengan hambanya. Kami berjanjia untuk saling menghormati, membahagiakan dan saling mendukung. Kami berjanji untuk saling mencintai dalam susah dan senang , sakit dan sehat. Tuhan berjanjia akan menambah rizki untuk menjalankan kehidupan kami. Jika kemudian lahir anak anak , Tuhan juga menjanjiakan memberikan rizki bagi mereka. kami berjanji pada Tuhan , menjadikan anak anak ini anak yang sholeh. Jika kami tidak memenuhi janji itu , artinya kami wan prestasi . Selalu ada sanksi atas wan prestasi kita itu.jadi perkawinan kami berkembang rumit dan menyakitkan , oasti karena begitu banyak kesalahan yang aku perbuat.Banyak kersalahan yang kami perbuat!.
Gila kalau aku membiarkan semuanya hancur bukan?. Aku punya suami yang pinter kerja dan banyak menghasilkan uang. Aku punya anak anak yang sehat , semangat untuk sekolah dan baru memasuki masa remaja. Gila kalau akau membiarkan semua hancur!.Apa iya aku akan hancur dengan perselingkuhan ini?.Tidak!. Barangkali aku akan menangis , tapi itu tidak mungkin aku lakukan berhari hari. Soal rasa memiliki?.Oh Tuhan..... tidak ada lagi masalah saling memiliki diantara kami . Dimanapun kami , sedang sendiri sendiri atau sedang bersama , kami tetap saling memiliki. Orang akan menyebutku " bodoh", " istri tua" atau apalah istilahnya.Alah.....emang gua pikirin! Harga diri , status sosial dan sejenisnya , tidak lebih dari predikat sempit kesepakatan sosial. Belum tentu dihadapan Allah hal itu mulia.Allah menilai seorang hambanya dari tingkat takwanya.
maka aku memilih diam. Tidak mencaci maki Rani dan Amran. Tidak mmenggugat mereka. Tidak merecoki kerja Amran. Tidak membahas apapun tentang hubungan mereka. Terserah mereka mau apa. Aku yakin ..... dengan begitu mereka lebih bisa berfikir tentang aku dan anak anak. Tidak ada pertengkaran. Anak anak tetap harus dijaga hati dan hidupnya. Aku yakin , selama aku baik baik, saja , tidak stress dan tetap bisa menjalani hidup sehat , anak anakku juga akan baik baik saja.
alah, sebetulnya aku juga faham bahwa tidak ada cerita yang semaunya terjadi. Mengalir begitu saja. Semua yang ada dalam hidup kita sesungguhnya adalah suatu petualangan yang mengagumkan.Semua dalam genggamanNya dan juga senantiasa dipantaunya. Tidak ada hal terlewatkan , meski sekecil zahra.Sebagaimana Ia mengatur kita sebelum kita ada, Ia juga mengatur kita setelah kita ada. Maka barangkali, bijaksana untuk selalu jadi seperti yang dikehendakiNya, agar kitapun mendapatkanNya seperti yang kita kehendaki.
Hari hari selanjutnya, jelas bukan hari yang mudah. Rani selalu ingin bertemu anaknya dan aku tidak peduli dengan keinginannya. Jujur aku gelisah menjalani hidup macam ini. Ada sisi hati yang menjuluikiku sebagai orang yang "tidak punya perasaaan", bahkan kejam. Apalagi kalau ingat bayi itu tidak salah apa apa. lagi pula aku juga mau apa dengan Abel?. Anakku sendiri sudah empat. yang paling kecil, Alya , sudah berumur 2 tahun. Mestinya aku sekarang bisa tidur malam lebih panjang karena tidak lagi terlalu banyak diganggu. Lha, sekarang malah cari pekerjaan lagi. Tapi itulah, aku ngeyel tetap mempertahankan Abel( tidak jelas untuk apa). dan jadi lebih jahat dan jadi pintar mengelak. Amran sampai memohon mohon supaya Rani boleh menemui anaknya. Kadang tanpa kompromi , tiba tiba saja Rani sudah ada di kantor kami , di hotel simpang dan Amran minta aku menjemput Abel agarmereka bisa jalan jalan bersama ke Tunjungan Plaza , yang dari kantor kami cuma berjarak ratusan meter saja itu.Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak lagi.
Meski tidak yakin Amran akan berpihak padaku , permusuhan tetap berlangsung. Kami , dua orang perempuan yang sama sama sudah gila. Bagaimana tidak , meski aku sadar , bahwa kalaupun aku minta suamiku itu memilih diantara kami , ia tidak akan memilih aku ( oh sedihnya), aku bersikeras dengan ide awal bahwa ibu dan anak itu tidak boleh bertemu. Padahal, kalau toh Abel sudah besar , ia juga kan mencari ibunya.Apalagi Rani dan Amran kan tetap terus berhubungan.Barangkali Rani juga berpikir bahwa suatu saat Amran alan jadi miliknya seutuhnya. Apalagi kalau Abel bisa ada di dia , perjalanan untuk itu pasti lebih lancar nantinya.
makin lama aku makin tidak yakin dengan sikapku itu. Rasa berdosa karena memutuskan tali silaturrahmi ibu dan anak sangat sering menyerangku. lagi lagi aku tidak bisa mengkomunikasikan pada Amran . Aku tidak sanggup melihat wajah bahagianya kalau aku mencabut larangan itu. ranipun pasti makin besar kepala.Pedih rasanya, tapi aku tak ingin membahasnya. jadi aku cuma berdiam diri saja.
Sepertinya Rani juga sudah bosan minta minta pada Amran untuk merayuku. Oktober 2004,Abel masuk rumah sakit Darmo setelah dua hari menghilang dari rumah. Saat diambil ibunya, Abel memang sedang Diare. Mungkin karena rewel , dia tidak mau minum susu dan makan , terus menangis karena bingung dengan kondisinya. bayi itu mungkin Stress dan ibunya sangat bingung. Amannya , Ia opname di rumah sakit.
Meski aku tahu Abel ada di rumah sakit , aku sengaja tidak menengoknya. Aku juga tidak peduli dengan permintaan Amran, agar akumau menemui Abel.Teman teman rani yang datang menjenguk , juga memintaku untk datang ke rumah sakit." sakno, mbak.Abel nangis terus. Sing di celuki sampeyan....", kata mereka. Aku tetap bertahan untuk tidak datang. Padahal , setiap malam aku gelisah dan tidak bisa tidur. Aku takut Abel mati!.
Alya bikin ulah , beberapa hari ini dia sering duduk di pojok kamar sambil menangis.Dia ingin bertemu dengan adiknya . Ini jelas membuat pertahananku hancur.
" gak ngono sih , dek. Koen iku jik gelem ta ngurus Abel!", tanya Amran dengan suara keras."alah , mase , harusnya kamu itu kan merayu aku , gitu. kamu sangat butuh pertolonganku kan.... mbok ada manis manise ngono pok-o cak!", kataku dalam hati.
"kamu kuatir ta....."
" Abel iku iso mati. Tahu kamu!"
" gak usah di dramatisir ta... Abel itu ada di mama kandungnya, dekat dengan banyak dokter spesialis. Apanya yang ditakutkan. Dia aman kok"
" matamu!"
Oh.... luput suwuk tenan. Kok ada ya orang nggatheli ( maaf) kayak gitu.Gusti..... pasti banyak dosaku , sampai engkau pilih aku bersuamikan laki laki seperti itu.Atau ini proyek suargo.Sedih banget aku!
Paginya aku ke rumah sakit dengan Alya. Rasanya tidak ada artinya aku bertahan seperti itu. Aku cuma ingin dikenang Abel sebagai ibu yang baik. Cukup dia saja. Tidak untuk yang lain.
Begitu bertemu , Alya langsung naik ke tempat tidur Abel. Mereka berangkulan , seolah sudah tidak bertemu bertahun tahun. Abel terus berteriak teriak senang. pagi itu , mereka berdua bahkan bisa menghabiskan dua mangkok bubur mc D yang kami bawa.
Sorenya , aku minta ijin untuk membawa pulang. karena hari itu Minggu dan bag administrasi sudah tutup , kami meninggalkan sejumlah uang dan mengurus kekurangannya esok hari.Berempat kami naik taksi. Rani turun di tempat kos lamanya ,kami bertiga langsung pulang kerumah.
seri kekais cinta
sampai di rumah, kresek merah itu aku bongkar. Aku keluarkan semua isinya." wadow! gendeng arek iki". Isinya, lima kaleng susu bayi Nan , tujuh stel baju. Dua botol susu dan satu mainan Abel. wah , serius juga rencana minggatnya ( sedih sekali setiap kali menggunakan kata itu!). Cekatan juga dia ya , beringkas barang barang Abel untuk dibawa pergi. Ini pasti Buk Su yang kelamaan dandannya. Pasti pakai acara mandi dulu.
Aku jadi tertawa dalam hati. Ada juga rasa kasihan pada dua perempuan itu. Kwbayang juga betapa gugupnya Rani ketika memutuskan membawa Abel untuk pergi. Alah.... ada ada saja. Mengambil Anak sendiri memang bukan termasuk pencurian. Jadi kenapa harus ketakutan seperti itu. Lagi pula , masak iya sih , aku akan segarang itu?.Nggak lah!.
Abel asyik main dengan alya dan buk Su. Trauma gak ya, pikirku dalam hati. Diam diam aku memperhatikan tingkah Abel seharian itu.Kekerasan , betapapun kecilnya , jika dilakukan dengan serius akan meninggalkan jejak di jiwa. itu sebabnya nabiku marah ketika Fatimah mengambil anaknya dengan kasar dari tangan kakeknya lantaran ia mengencingi gamis sang kakek. kata nabiku " kencing ini bisa dibersihkan Fat,tapi caramu mengambil ia dengan kasar tadi akan meninggalkan luka dihatinya dan itu tidak bisa dibersihkan....... ".
Aku berharap , Abel akan baik baik saja. Semua anak didunia ini pernah merasakan kekasaran ibunya. Entah itu berupa kemarahan yang tidak jelas juntrungannya atau sikap sewenang wenang yang tidak sadar dilakukan atau hal hal yang memang tidak ditujukan untuk menyakiti tetapi hasilnya membuat mereka sedih dan kesal. Tapi itulah...... anak anak akan terus tumbuh. Luka yang tidak bisa dihapus itupun akan terekam sepanjang hidup dan barangkali akan mempengaruhi prilaku mereka dimasa yang akan datang.
Aku yakin.... kenapa anak anak terus sangat cinta pada ibunya , itu pasti karena kasih ibu memang sepanjang jalan. Kasihnya lebih panjang dari pada marahnya. Para ibu punya maaf yang tidak pernah habis. Di dalam tubuhnya ada organ yang namanya rahim, sama dengan sifat Tuhanku, Arrahim , sang maha penyayang.Sepanjang hidup , ibu , adalah mahluk yang sangat penyayang , pemerhati , melindungi dan terus mengkhatirkan anaknya. Hubungan anak dan ibu itu sangat unik. Di keduanya , terhimpun segala kekaguman dan semangat. Semua anak , mengagumi ibunya. Semua ibu , mengagumi anaknya.
Ibulah yang selalu rela berbagi tempat , makanan dan segala yang dia punya dengan sang anak. Bahkan sampai ketika ia tidak punya apa apa yang dianggap berharga kecuali nyawanya , ia rela memberikannya. Doanya tidak pernah putus untuk mereka. Ia terus melakukan itu , meski mungkin sang anak tidak sedang peduli padanya.
Ibu itu tempat segala hormat mestinya,
ibu itu tempat segala cinta , mestinya,
ibu itu tempat segala perjuangan, harusnya.
Dan seperti aku , Rani juga seorang ibu. Dibuku hariannya , ia pasti menulis dengan huruf besar besar tentang perjuangannya memperoleh kembali Abel, anaknya itu. Baginya itu pasti pengorbanan seperti pengorbanan untuk hidup dan mati. Kelak juga ia kan bercerita bagaimana ia telah berjuang untuk menjadi ibu. Tuhan.... catatlah itu sebagai perjuangannya.Agar ia juga jadi ibu yang mulia dimata anaknya.Juga dihadapanMu.
Ada yang berubah dengan Abel. Ia takut ditinggal sendiri. Sedikit lama kami meninggalkannya sendiri , ia sudah berteriak teriak histeris. kalau sudah begitu , ia perlu didekap lama sekali. Sampai dia yakin , kami ada untuknya dan dia akan baik baik saja.
Amran dan Rani tidak berubah sikap. Selain mereka tidak mengucapkan terima kasih karena semua jadi baik baik lagi, mereka tetap lengket seperti perangko. Aku tetap tidak membolehkan Rani mengunjungi anaknya. Kayaknya , aku cuma ingin menjaga hatiku sendiri.
4.
Ada perkembangan baru tentang pekerjaan Amran. Ia sekarang bahkan di percaya untuk memegang KCP Bali Air Semarang. Jadi begini rencananya. Untuk yang Semarang , Rani yang pegang dan Surabaya , aku ikut terlibat menanganinya. Terutama mengurusi keuangannya.Dengan begitu Amran bisa tetap fokus ke program membership hotelnya.
Persiapan untuk kantor Semarang memang perlu secepatnya. Bali Air cuma memberi kami waktu duaminggu unutk melaksanakan semua persiapan sampai ke acara penerbangan perdananya. Tidak ada alasan untuk marah karena Amran harus tinggal lama di Semarang. Itu demi pekerjaannya. Yang menyebalkan cuma diatidak pernah kontak aku. Bisa ya , tidak mendengar kabar dari aku sama sekali. Di teleponpun tidak diangkat. Jujur , itu kelakuan lama. Ia memang tidak terbiasa memberi kabar tentang apa yang dia lakukan. Dia juga sangat terniasa tidak bertanya ada apa dengan kami yang di tinggalkannya. Bahkan kalau sedang tidak pergipun , tidak pernah dia pergi dengan pamit dan memberi tahu kemana dia pergi. Di keluarganya memang seperti itu. Seolah tidak penting kamu pergi kemana , asal kamu baik baik saja. aku juga membiasakan diri tidak mempersoalkan " keharusan dia pamit jika akan pergi". Jadi sebetulnya , kalau sekarang aku sedih karena ia tiba tiba seperti " hilang " . aku yakin itu karena ia punya kebiasaan baru selalu pamit Rani kemanapun ia pergi dan Rani punya kebiasan untuk selalu memberi tahukan kemanapundan apapun yang sedang dia kerjakan.Pasti aku cemburu!.Merasa di abaikan!.( bukan cuma merasa ya... memang sudah diabaikan!).
Komunikasi!. Itu barang langka dalam hidup kami. Jadi benerlah apa kata semua orang .... yang penting komunikasi.Kami tidak punya itu.Ketika aku menyadari , Amran makin dekat dengan Rani , aku juga tidak bisa membicarakannya. Ketika aku curiga Abel itu anaknya , aku juga tidak bisa membicarakannya dengan dia. Ketika ia akhirnya mengkui Abel itu anaknya , aku juga tidak bisa mendiskusikan dengannya .Apalagi marah dan mencak mencak atau protes dengan mengacung acungkan parang , misalnya. Bicara saja aku tidak bisa( padahal aku ini tukang ceramah, pemenang lomba kader posyandu tingkat jawa timur dan pembicara dipertemuan pertemuan.!) Semua terbiarkan begitu saja. Bagaimana akhirnya episode ini , seolah tanpa skenario. Ia mengalir apa adanya. Semaunya.





