RSS

s

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wan Prestasi

Hari raya tahun ini lain. Rani ingin pulang.Ikut ke Palembang. Masalahnya , dulu ketika mereka mau menikah , ada janji secara lesan,bahwa kalau dia jadi menikah dengan Amran , maka salah satu syaratnya dia tidak boleh ke Palembang.
Dia setuju.

Tahun ini dia wan prestasi.Tanpa negosiasi , ia memutuskan untuk iku tke Palembang. Meski pada mulanya Amran tidak mau berterus terang , tapi Abel sudah jauh jauh hari telepon kalau dia dan mamanya akan ke Palembang , lebaran ini.
" aku tidak ikuut " serempak anak anak mengomentari rencana itu.
" enggak... gendeng ta , ngajak dia " kata papanya
Dan semua itu terbantahkan dengan pernyataan Rani sendiri, Bahwa dia dan dua anaknya akan terbang ke Palembang , tepat padahari raya idul fitri nya.

Sekarang tinggal aku.
Aku , jelas tidak akan ke Palembang. Tahun ini ada pertemuan keluarga besar ayahandaku di yogya. Ke Palembang bersama Rani?, rasanya aku masih belum sanggup berada bersama di depan keluarga besar Palembang. Ini mengerikan. Tidak lucu bagiku. Juga tidak sanggup aku membayangkan respon keluarga itu.

Malam itu , aku sholat dua rekaat,Mohon Allah membukakan hati anak anak , hati suami dan istrinya , Mohon Allah melembutkan juga. Ini bukan hal mudah. bagi kami semua.
"jangan cuma berpikir tentang perasaaanmu, dik. itu namanya egois "
" lho , isin lho mah..... "
" ini resiko , anakku , resiko. Resiko dari sebuah pilihan yang telah kita ambil. Kita pilih papa menikahi dan itu berarti kita menjadikannya sebagai bagian dari hidup kita.Sekarang setelah dia jadi istri papa , jadi menantu nyai dan yai, pasti dia juga ingin menunjukkan baktinya dengan datang kesana "
" lek aku ngono gak iso mlayu yo mah .... lanang satu satunya yo....ngrewangi papa nyetir.... "kata anak laki lakiku
" iyo, nasipmu.... huapik tenan"
" sing penting onok konpensasine to... "
" opo misale.mas"
" mampir jakarta.... belanja"
" alah.... disurabaya lho juga ada "
" lain mah .... kan ada mama Rani.... hahaha"
" dia pulang duluan , ntar abel aja yang ikut kalian naik mobil "
" lealah.... wis gak popo . .... apes apes..."
" Yah.... ini bakti pada papa. Dia sudah kerja buat nyukupi kalian. SEkarang cuma diminta berwajah senang dengan kehadirannya saja masak gak mau"
" mau mau , mah..... siap ,bos ! "

Kamis itu kami berangkat ke semarang. Amran sudah di semarang lebih dulu. Aku sengaja ikut karena ingin bertemu dengan Abel. Pengen tahu bagaimana dia sekarang.Sepanjang jalan kubayangkan pertemuan itu. Dinginkah dia>? Atau heboh seperti di teleponnya?.

Aku kecewa.
Dia tidak ada ditempat. Dia dengan papa dan mamanya berada di kantor satunya.Kata pembantunya , kalau mau ketemu , langsung saja ke kantor .
Kalau mau ketemu?,perih rasanya ngramesi kata katanya.Kok bisa bisanya ya , kami yang datang dari surabaya cumna ditelepon pembantunya dan katanya " kalau mau ketemu ,ke kantor merbau saja..... " wow.
" papa dimana , bel "
"lagi tidur ngeloni dik nindy , sama mama "
" oh.... ya sudah ,mama pulang lagi saja ya ke surabaya..... "
" LHO JAngannn.... emmmm , mama jangan pulang.... "
"lha kamu gak bisa ditemuin.... yo wis aku mulih maneh ae , bel.... "
" mama.... jangan.... jangan pulang "
" yo wis aku tak ke ambarawa.....nanti sore sore ke rumnahmu "
" jangan... ikut...ikut.... "

sesoreitu , kami putar putar disemarang, agar sore dan bisa mampir dikantornya yang di Metro.

Abel agak kurus. Tapi makin putih dan cantik. SEjak bertemu dia sudah tak mau duduk dengan manmanya. kami berpelukan sepuasnya. Besoknya ketika rombongan ke palembang berangkat, aku dan abel , tanpa mamanya, jalan jalan ke Sri Ratu , moll yang cukup besar dikota semarang ini.
"Aku mmau baju mekro , mah... kayak mbak Dhea "
" boleh "
" aku juga mau jepit yang banyak "
" boleh .."
" Aku mau jaket juga, warna pink "
" akehe , bel.... kan sudah punya jaket banyak..."
" iya , tapi kan semua pilihan mama. Bukan mauku. Pilih ini gak boleh , itu gak boleh...semua hanys maunya mama. Bosen aku"
" hoho... curhat nih, curhat.... "
" Tapi kan pilihannya mama baguis bagus juga.... "
" kadang kadang siuh.... masak mah , aku kemarin pake baju muslim dari baju daster yang dikasih kaos..."
" lagi model , bel "
" elek.... aku gak suka "
" Yo wis miliho , tapi milih juga buat dik nindy ya.... "
" gak usah , mah ,dik nindi lho bajunya sudah selemari, aku masih sedos "
" halah./... arek iki.... dik nindy beli satu kamu tiga wis "
" oke... mama ku , emh ... mamaku sayang"berkata begitu dia merangkulku dan mencium pipiku.

Malamnya kami tidur berdua.
Menurutku , dia baik baik saja. Nantinya akan baik baik saja. Kebetulan papa mamanya setype. Pekerja keras,semua harus dikerjakan secara sempurna, sangat sibuk dan emosional. Dia berusaha tidak membuat mereka berdua marah dengan menyetujui semua saran mereka.Kupikir , disinilah peranku , membuat keseimbangan baginya.SEsekali aku akan bersamanya ,dan dia bisa melepas kepenatan hatinya agar bisa kembali di dunianya lagi.Dunia nyata yang harus dijalaninya.

Mudik kali ini penuh warna. Sulungku malah harusberhenti dari tempatnya bekerja karena harus mmenyesuaikan jadwal papanya.Tidak apa apa. Kalau dia di pecat bos , dia bisa cari pekerjaaan lain. Dan bakti pada papa ini , pasti jelas hitungannya. Allah kita itu maha menghitung. Tak akan ada yang terlewat olehNya.Keikhlasanmu menjalani semua ini pasti akan di gantinya dengan berlipat ganda.

SEmoga sampai dipalembang dengan selamat. Kembali ke surabaya dengan semangat baru. Kadang kita memang harus kehilangan sesuatu yang kita kira akan jadi milik kita selamanya. Tapi Tuhanku maha mengganti, Ia akan ganti semua dengan yang baru .Dan jika kita ikhlas dengan penggantinya itu , kita akan mendapatkannya yang baru itu sebagai sesuatu yang penuh berkah.

Sidoarjo,
Akhir puasa 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pamer

Pamer,itu
Menunjuk nunjukkam dengan sengaja pada/orang/lain.
Tujuannya agar oramg lain tsb tahu,iri,terlecut semangatnya atau bahkan bisa agar sakit hati

bram ,dalam seBulan ini memboyomg keluarga barunya kesurabaya sudah 2 kali.setiap kali kunjungannya bisa sampai 3 sd 5 hari.

Yg mrk lakukan cukup menyenangkan hati.hati abel ,hati alya,hati bram dan hati rani sendiri.
Selama di surabaya,yang/mereka lakukan ... Shopping dr mol/yg satu ke mol yg lainnya.
Begitu sampai di rumah yg dibicarakan tentu harga dari barang barang yg dibeli......
Konyolnya,aku harus ikut senang dg cerita panjang yg mengesankan itu.
sepanjang kunjungan itu aku mencoba bersikap ramah(kayaknya berhasil.buktinya mereka terus melakukan),ikut senang dengan rencana2nya.memuji,mengusulkan program belanja yg lain.

Lalu rombongan itu pamit untuk menginap di rumah rungkut.
Aku dada ,mengantar mereka sampai ke pintu gerbang.

Ini menyedihkan.

Ini menyesakkan dadaku.

Andai bukan karena janji hati,
Kamu,bram... Pasti bau sorgapun kamu tidak berhak.
Suer!

Sidoarjo,27 mei 2010
Pas magrib.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

EVALUASI HARIAN

 Ini ilmu dari eyang putri, ibu dari bundaku

katanya ,  cara yang paling mudah untuk mengevaluasi diri itu begini :
1, setiap bangun pagi , baca doa bangun pagi. bersyukur karena hari itu bangun dan tetap hidup. bersyukur bahwa Allah telah menjaga semalaman. Terbebas dari doa buruk orang lain. terbebas dari rencana buruk yang digancang pada malam hari dan terbenas dari mimpi buruk.

2. sholat  fajar dan shubuh.katakan padaNya rencana hari ini yang akan dijalani dan mohon perlindungan serta kemudahan.

3.kerjakan pekerjaan  yang biasa dikerjakan pagi dengan gembira, itu akan mengurangi stress dan pekerjaan terasa ringan.

4 jika pergi sebelum jam 8, sempatkan sholat dhuha dulu. Mohon kemudahan dan perlindungan untuk segala hal yang akan dilaksanakan hari itu.

5. setiap sholat, usahakan on time , sempatkan mensyukuri  hal hal baik yang terjadi antara jedah waktu sholat itu , dan mohon maaf jika melakukan sesuatu yang tidak baik atau salah.

6. jika punya waktu , tulis apa yang terjadi hari itu , sebagai evaluasi diri,

7. bisakan tidur dengan ritual ,tubuh dalam keadaan berwudhu , bersih lahir bathin , tidur menghadap ke kanan dan tidak membelakangi kiblat. berdzikir sampai tidur.

Sidoarjao,22 maret 2010
14.15 wib

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

akhir cerita

ini tahun ke dua

ia tidak bersama kami
tinggal sendirian dilantai tiga kantornya
yang jaraknya
cuma 3 kilo dari rumah kami.

akhirnya memang tidak ada perasaaan apa apa  lagi. TIdak ada rasa kangen ,marah , sedih atau kecewa. Semua jadi sangat biasa saja. Sesekali dia datang kerumah , melihat lihat  lalu kembali ke kantor yang sekaligus jadi rumah tinggalnya. Kami sudah tidak pernah lagi ngobrol asyik , atau bicara basa basi. Ia tidak pernah menanyakan kabarku aku juga tidak bertanya tentang dia.

tapi ia  tetap menafkahi kami
tapi ia tetap membeayai anak anak dengan sangat baik
kami cuma tidak saling bicara

Pernikahan ini memang masih layak diteruskan. Setidak tidaknya karena ada lima anak yang harus kami hantarkan untuk siap mengarungi kehidupannya.Ia tetap harus bekerja untuk membeayai semua kebutuhan hidup kami dan aku tetap harus mengawal putra putriku agar tidak terjadi hal halburuk yang tidak diimgimkam. 

kmi tetap setia dengan tugas tugas kami
kami cuma tidak saling bicara
tapi kami tiak saling memusuhi

sejatinya , aku malu pada diri sendiri. Tidak punya keberanian untuk melakukan hal hal besar yang punya prodpek untuk memerbaiki keadaan. misalnya dengan terus melakukan pendekatan,  minta tolomg pihak yang bisa membantu , membicarakannya dengan serius, atau kalau perlu memperjuangkannya sampai darah titik penghabisan. Tujuannya satu " agar kami bisa saling mengasihi dan mendukung " seperti cita cita keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Belum belum aku sudah patah arang. Dimataku , bahkan sampai sekarang , ia adalah laki laki yang tidak suka dibantah , selalu yakin pemikirannya selalu benar , pekerja keras dan bertanggung jawab dengan tugasnya.Nyaliku sudah ciut setiap mendengar dia bicara , berpendapat apalagi kalau sedang marah.Rasanya , tidak ada kata lembut dan penuh cinta yang pernah dia ucapkan.TIdak ada tindakan manis dan menuh kebijakan yang dia perlihatkan.

sebetulnya yang membuatku selalu " diam " karena aku nerasa itu zona aman bagiku. Dengan diam , ia tidak bisa menumpahkan energi marahnya dengan maksimal.Atau bahkan akhirnya dia yang harus diam karena aku tidak meresponnya sama sekali. DEngan diam aku juga sebenarnya bisa berteriak dengan kencang , bersikap lebih garang dan berucap dengan kata kata yang lebih tidak manusiawi. Yang lebih penting dengan diam aku tidak perlu mengeluarkan energi sebesar dia untuk menata hati kembali.Tidak perlu menyakiti orang lain , meski tidak bisa menghindari menyakilti diri sendiri.

Skarang ia nampaknya lebih memiih Rani. Tidak lagi memikirkan kan kewajiban " adil ". Jelas sekali ia nampak lebih memihak Rani.
Aku juga tidak berminat menggugat " keadilan" itu.

Bagaimana cerita rumah tangga ini kan berakhir , itu sesungguhnya yang menggelisahkan aku. Pada saatnya nanti ,aku akan sendirian.Menghadapi hari hari sepiku.
seperti apa ya
seperti apa
pasti sangat lara
lalu
aku mesti menyiapkan apa mulai saat ini?
ahhhhhhhhhhhh

Sda,17 maret 2010
24.15



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Strata

Sejak umur satu hari atau tepatnya sejak ia pulang dari rumah sakit, Dia sudah tinggal doirumah kami. Akulah ibu asuhnya.Semua pekerjaan mengfurus bayi aku yang melakukan. Ibunya jampir tidak pernah melakukan apa apa kecuali menyusuinya.

sampai mei tahun kemarin , ketika akhirnya mamanya menikah dengan "papanya" , ia huga masih tinggal dirumah kami. Bahkan ketika adik barunya lahir, dia juga maunya tetap bersama kami.Disini , dirumahku ini , ia bertabur kasih sayang. SElalu ditolong dam jarang dimarahin. Wah!.

Umurnya sekarang sudah 7 tahun. Kelas satu es de.

Tahun depan papanya ingin dia pindah ke semarang. Berkumpul dengan mamanya. Dan aku setuju. Lebih tepatnya , tidak mengusulkan apa apa. Mau disekolahkan dimana atau mau dibuat model apa , terserah papa dan mamanya. Aku juga tidak memberikan info apa apa.Seperti kapan pendaftaran murid baru , bagaimana dengan akte kelahiran dia yang masih tertulis dia anakku dan papanya atau bagaimana dengan data diraport yang akan berbeda dengan kenyataannya atau misalnya abel tidak kerasan di semarang lalu pengen pindah lagi kesurabaya bagimana. Sudahlah, itu se,ua terserah papa dan mamanya. Abel anaknya.Itu hak mereka.

masalahnya justru di Abel.

Sikecil ini kalau diajak ngomong tentang rencana kepindahannya malah membelokkan omongan. Ia memberi sinyal " tidak mau " bicara soal satu itu.Kalau ditanya orang mau pindah apa tidak dia tidak mau menjawab.Mestinya anak kecil itu tidak begitu. Harusnya ia ceplas seplos saja mau jawab apa. Ini seperti harus menjaga hati orang. hati hati sekali.Bahkan untuk bilang " tidak" atau " iya " saja harus dibujuk bujuk. Itupun yang keluar diluar sangkaan. Saat ditanya terus apa dia tahun depan pindah , dia jawab " terpaksa".Wah!

Mungkin karena si kecil ini juga tahu , bahwa dia disana akan sendiri. Mama akan sibuk dengan Nindy , adiknya.Atau barangkali anak umur 7 tahun juga mulai tahu kepada siapa hatinya terpaut?.Selama ini kalau kami pas bertiga jaln, aku abel dan mamanya, memang dia cuma berani ngrepoti aku. Minta kue ini , minta di pangku , minta barang barang ini itu , minta disuapi atau minta duduk dekatan. Kalau akhirnya mamanya akan menolong dia , nantinya Abel akan memilih mengerjakannya sendiri.
Mamanya juga tidak romantis blas. Sudah tahu tidak setiap hari ketemu , ketemu ya biasa biasa saja.mestinya, Ia bisa berteriak penuh kasih.... hallo... pa kabar , duduk sini dong.... aduh mama kangen dengan kamu....atau apa. Tiga hari di surabaya , tiga hari jalan bersama , ia cuma sibuk menyusui anaknya. Sepanjang hari Nindy mentil.... emh..... bencekno. Abel cuma kebagian dimarahi karena lari lari atau minta pulang. Giliran belanja , ia beli sandal jinjit jutaan rupiah dan abel cuma kebagian baju nevada yang ada dikotak potongan 50%.... ah , Abel memang tidak pernah istimewa baginya.

semkarang ketahuan , ketika dulu Rani kularang bertemu anaknya, setelah di hadapan khalayak ramai dia ngaku kalau itu anak suamiku,dia mencuri anaknya sa,pai lima kali itu cuma " kepura puraan saja". Ia pura pura sayang anaknya. Pura pura perhatian anaknya. Tujuannya jelas " papanya". Abel mungkin merasainya.

usai liburan semester kemarin , begitu sampai surabaya, dia mencariku dan berbisik.... mama , aku sudah bilang mama Rani kalau ke semarangnya kelas tiga saja.....
" oh ya .... sudah bilang papa juga?"
" sudah"
" terus apa katanya?"
" boleh....kata papa dispenser "
" maksudnya dikasi dispensasi?"
"apaan sih , mah itu "
" artinya , boleh. Jadi tidak usah kelas dua. "
" emang kenapa kelas tiga sih... kok gak smp aja , gitu bel!"
" wah , mama iki... nanti kalau susdah kelas tiga aku minta kelas empat aja.... kelas lima aja... gitu.kalau langsung smp pasti dimarahi .Iya... pasti dimarahi!"
" siapa yang ngajari akal akalan gitu, bel "
" ya aku. pikiranku sendiri...."
" oh...... pinter kamu ini m bel , bel... isok ae"

iya , kok iso mikir koyok ngono yo......anak tujuh tahun kok bisa bikin strata begituan ya....Dia tidak pernah mau diajak ngomong soal itu. Dia mencari jalan sendiri , solusi permasalahannya. Emang bagi anak tujuh tahun pindah itu " persoalan" ya....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karena Tidak Bisa

Tiga anak lahir , di lima tahun pertama perkawinan kami. Ini merepotkan .Juga memalukan. Terutama karena aku ini kader Posyandu .Team suksesnya "keluarga berencana", malah hampir setiap tahun melahirkan.
Dengan tiga balita dalam kurun waktu yang sama jelas bukan pekerjaan yang ringan. Terutama kalau ada yang sakit diantara mereka. Sangat sering kami harus berangkat ke puskesmas atau rumah sakit.Hampir setiap bulan , mereka ada yang sakit. Jadi jarang setelah mereka diatas usia tiga tahun.

Banyak hal lucu , soal kerumah sakit itu.

Permah karema harus menggendong dan juga menuntun yang satunya , aku hampir kehilangan anakku. Saat itu kami harus naik Bemo menuju rumah sakit Islam, yang kira kira berjarak lima kilo dari rumah kami. Anak sulungku aku suruh naik duluan dan aku mengurusi adiknya yang masih dibawah. Eh... bemonya berangkat. Si sulung berteriak teriak ketakutan sambil berteriak teriak memanggilku. Aku yang karena panik juga berteriak teriak ... aduw.... panik. Ketika akhirmya sopir menghentikan bemonya , aku hampir kehilangan kendali. Pengen misuh misuh!.

Ada saat mereka sangat mudah diurus. Apapun baju yang kuambil mereka pakai. Apapun yang ku olah . mereka makan, apapun yang ku katakan mereka turuti. Saat sangat gila juga sangat sering terjadi. Saat mereka bertiga bertengkar berebut aku atau saling berebut mainan.Suara lembutku berubag lengkingan dan mereka tetap tidak peduli.

Sekarang yang sulung sudah lulus S1, Siadik sudah semester 3 dan yang nomer tiga di semester awal. Mereka sudah remaja. Kadang sangat kritis meski pada mak sendiri. Punya banyak ke inginan dan selalu punya kejutan untuk PR maknya.Ada yang sama ingin mereka matikan dari kebiasaanku.Istilah mereka " harus di delete " . Mereka tidak ingin mewarisi " sikap itu" apa lagi melstarikannya. Hoho, iso opo?.

Yang ingin mereka " delete " itu adalah sikap tidak bisa bilang " tidak"ku.

April kemarin, ketika maduku melahirkan anak keduanya, si papa memintaku untuk datang menjenguknya di semarang. Lalu , aku merayu anak anakku untuk datang rame rame kesana. Akhirnya,Kami berangkat berlima karena papa sudah lebih duluan disana.Cuma sulungku yang tidak ikut. Ia sedang berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan skripsinya gar bisa ikut wisuda di bulan september juga karena harus tetap harus mengerjakan tugas di EF tempat dia bekerja.
Apa salahnya bersilaturrahmi? toh sekarang kami sudah jadi keluarga " besar ".Lagi pula apapun kita , dalam kondisi seperti apapun , memang harus berbuat baik bukan?. Harus selalu menanam kebaikan. Aku akan tetap baik baik saja.

Ternyata tidak mudah berada di " pemikiran seperti itu.

Ketika melihat suami dan madu masuk kamar dan kami tetap harus bergelatakan tidur di karpet depan televisi, hatiku tersayat juga. Ketika melihat bagaimana madu terus ada disamping suami dan aku duduk beramai ramai dengan anak anakkku ,ketika madu selalu duduk disebelah suami diacara makan bersama, atau ketika ia mencium tangan suami saat kami pamit pulang, pedih juga rasanya. Rasanya seperti pengekor yang tidak berguna.

Aku bertahan untuk tidak memperlihatkan kesedihan.Apalagi air mata. Itu tidak lucu sama
sekali!.

Tapi disurabaya , air mata itu akhirnya jatuh juga. Aku kalah. Harus mengaku kalah. Ternyata akau tidak bisa berada dalam kondisi seperti itu. Artinya , itu batas wilayah yang harus kuhindari.Tidak boleh kumasuki!

" mama gak perlu jaga hati papa. gak perlu jaga hati tante Rani,Gak perlu jaga hati siapapun.Yang perlu mama jaga ya hati mama sendiiri ", kata anak2ku ketika aku mengeluhkan pada mereja
" tak pikir toh, mereka juga bisa bijak , gitu...!. Misalnya papa akan tidur di luar dan menawariku tidur dengan tante atau gimana gitu..."
" mama kan tahu , sedang berhadapan dengan siapa!.Mama juga sudah tahu arahnya akan kemana!. Ya sudah toh.... "
" kalau kami ya harus tetap jaga hati papa , mah. Karena kami masih banyak perlunya. Kalau mama ya nggak usah. Jaga hati semdiri ae , mah.kalau memang mama tidak sanggup berada diantara mereka ya gak usah ada disana. "
" kita kan sudah keluarga , dik "
" ya , tanpa harus kesana , mah. banyakk media untuk menunjukkan perhatian. Ada telepon , ada kartu.....hari gini , gitu mah.... "
" berhentilah basa basi.Gak enak hati.atau apa ....semua ini terusannya dari sikap mamah yang " tidak bisaan " itu. Cukuplah mereka sudah memporak porandakan keluarga kita. Tidak usah usul apa apa lagi. KIta lihat saja akhir semua ini.... "

ok. aku setuju.Aku juga capek hati!

mereka benar.

Karena tidak tega Rani pulang sendiri malam malam , aku minta suami mengantar.Lalu keterusan selalu minta diantar. Minta dijemput , minta tidur bersama , minta dinikahkan karena kebablasen. minta di asuh anaknya .Lalu , ketika melihat hubungan yang tanpa statuis sedang abel sudah umur 7 tahun , merekapun pantasnya dinikahkan. Ia... ia.... Tidak selamanya yang aku anggap sebagai kebaikan dan keramahan , berujung kebaikan pula.

kamu benar anakku, maaf kalau akhirnya kita semua harus berada dalam situasi ini. Maafkan aku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PUTUS

" mari kita hitung apa saja yang masih kita punya.Jangan yang tidak kita punya.Agar kita selalu bisa bersyukur atas apa yang telah diberikanNya."


" jadinya putus beneran niy... non ".kataku ketika bertemu anakku.
" iya ma... dan episode nangisnya sudah selesai "
" hemm...."
Hebat kamu pujiku. Dari dulu kita sepakat untuk boleh menangisi sesuatu yang membuat hati kita sedih tetapi nangisnya tidak boleh  berlama lama. Begitu banyak yang harus dikerjakan selain menangisi kesedihan itu. Jadi  dia sekarang sudah keluar dari kesedihannya dan siap utuk melakukan yang lainnya.

Rasanya belum lama ia datang dengan penuh kebimbangan . Ia diterima di Unair jurusan sastra Inggris dan di Undip jurusan Komunikasi.Dia bingung karena kalau jurusannya dia suka yang di undip tetapi kalau tempatnya dia suka yang unair.
" kan di Surabaya deket mama "
" alah..dik. Semarang kan juga dekat. cuma lima jam kalau kita naik keteta"
" lewat internet malah cuma hitungan menit ,ma "
" nah , itu..... jadi " tempat "bukan masalah lagi kan. Menurutku pilih saja Undip"

Dan dia memilih Undip.

Aku sedikit gelisah melepasnya kuliah disana.Meski sama sama " jawa " jelas berbeda juga kulturnya.Kepikir bagaimana orang orang jawa tengah yang penuh basa basi dan Dia jelas "sangat ceplas ceplos" itu akan berbaur. Ingat betapa akan seringnya dia bernego dengan hatinya , kasihan juga kalau dia harus menghadapinya sendiri.Belum lagi semua harus diurus sendiri. Setidaknya jika dibandingkan di Surabaya , ia punya aku , papa dan dua kakaknya yang bisa selalu mendukungnya jika diperlukan.

keputusan akhir, dia kuliah di Semarang. Tinggal bersama Rani , maduku.
 
Soal tinggalnya dia rumah Rani , memang sempat jadi sedikit ketegangan. Si Papa berpikir tidak akan terjadi apa apa. Rani perlu teman . Dirumahnya ada kamar kosong yang bisa ditempati. Lagi pula itu berarti mengirit ongkos.setidaknya  selama empat tahun tidak usah mengeluarkan uang kos dan makan.

Itu pemikiran yang salah.

Dua minggu tinggal dirumah madu , sudah muncul masalah. Rani online terus dengan si papa.Bercerita atau tepatnya melaporkan setiap detil kegiatan Tya. " suka bangun siang , pulang kuliah tengah malam bahkan dini hari, berangkat kuliah tanpa mandi. Bensin boros...."
Dapat ditebak setelah dia online dengan papa , Tya dapat caci maki.Itu jadi sarapannya tiap pagi.
Rencnanya dulu ( sebelum dia ke semarang ), bahwa papa setiap kamis sudah ada disemarang akan meringankan kesepihannya dan jadi momen yang menyenangkan karena ada yang diajak ngobrol. Tetapi ternyata ia " merasa " tidak pernah dapat tempat di hati papa. 

Tya memilih diam. Menangis diam diam.Tidak punya kesempatan untuk bercerita bahwa ia pulang malam karena ia masih disemester I dan lagi banyak banyaknya tugas kuliah. Karena rumah kelompoknya jauh jauh , mereka memilih mengerjakannya di kampus atau dirumah kos teman yang dekat kampus. Tidak juga bisa bercerita bahwa uang 200 ribu itu tidak cukup untuk i minggu.Apalagi kalau harus mengkopi banyak materi kuliah, makan dan pulsa,Bahwa dia juga tidak berhura hura , ngalayap ke mol atau tempat lain untuk bersenang senang.Bahwa walaupun papa bilang " kalau kurang duit minta saja ke "mama Rani " , ternyata dia juga tidak bisa melakukan hal hal seperti itu. Tya, tanp memperhitugkan kesehatannya , memilih cuma makan sehari sekali dan itu[un makan nasi kucing yang banyak dijual di sekitar kampusnya.

alah mak... kasihan anakku itu. Tapi tetap hebat, karena cerita itu cuma untuk mama dan tidak untuk siapa siapa,

" mama , aku jadian dengan Rio "
aku ikut sumringah,

Ia punya tambatan hati . Setidaknya , ia punya teman yang bisa diajaknya bicara bahkan mungkin sedikit bermanja atau bahkan bisa diumpatnya kala sedang bete dan selalu termaafkan.
" Ia sholat?"
" lebih baik dari aku... "
"dari keluarga baik baik?"
" bapak ibunya , guru , di Pemalang "
Sementara itu cukup , anakku. Semoga harimu manis selalu.

Dari status Fbnya aku tahu , nereka putus. Lalu , ketika melihat dia sudah cengar cengir saat kami bertemu , aku tahu nakku baik baik saja.

Sekarang malah papa yang minta dia kos.Kami tidak menolaknya. Itu ide bagus yang di awal keberngkatannya sudah kami sepakati tetapi  berubah karena pertimbangan pertimbangan ekonomi.Semoga papa tahu , bagi seorang anak , sangat berat melihat bagaimana papa yang selama 17 tahun hanya dimilikinya , sekarang juga dimiliki orang lain.Juga sangat berat setiapkali beradu pandang dengan " tante " tanpa berteriak" kau pengkhianat!".

Sidoarjo,01 februari 2010


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ibu mertuaku menangis ditelepon. " aku cuma tahu kamu " katanya," berapapun bini momok aku cuma tahu di kamu" katanya sambil sesenggukan. Jujur ada rasa senang di hatiku. Ia berpihak padaku. "  mamak , kami mencoba ikhlas.Juga yakin nantinya bisa ikhlas. Mamak jangan menangis. di doakan saja , semua baik baik "jawabku mencoba menenangkannya.Ini memang sedikit muna. Aku diam diam , entah bagian mana dalam hatiku , ada juga keinginan agar Bram tidak menjalani poligami. tapi kesepakatan itu telah di tetapkan menjadi sesuatu yang harus dijalankan. Setidaknya karena " sudah" ada Abel. Ia selalu akan ada diantara kami.Baik ketika kami bersama atau tidak.


sebenarnya justru sejak itu aku dan Bram tidak pernah lagi membicarakan rencana poligami itu.kami malah tidak saling menanyakan perkembangannya. Aku membiarkan dia mengurus persiapannya menikahi Rani.Sampai suatu kali Bram menyampaikannya keinginannya yang agak aneh,setidaknya menurutku.Dia ingin menikah di Surabaya.
Gila! bener bener gila laki laki ini. Sudah tahu kami semua tinggal di surabaya ,kok malah menikahnya di Surabaya. Gendeng! gak duwe perasaan!. Hatiku malah mengumpat: binatang kau !
Aku tidak mengucapkan kata sepatahpun. Yang begini ini kan tidak usah dijawab.

entah bagaimana nego mereka , hasil akhirnya mereka menikah di Solo. Rumah ibunya. Itupun " barangkali".Aku tidak menanyainya. Juga tidak ingin tahun kapan tepatnya mereka menikah. Malam itu ketika Bram dengan suara agak sedih menanyakan , apa dia harus sendirian pergi kepernikahannya, aku tidak menjawabnya.Dalam hati kami yakin dia sudah tahu bahwa tidak mungkin , karena kami setuju, lalu kami akan mengantarnya untuk pergi menikah.Apalagi kalau harus meminta bapak dan ibunya datang kepernikahannya.Itu sangat tidak mungkin.Beliau sudah sangat tua dan tempat tinggal beliau jauh di Palembang.

Tuhan,
aku milikmu
tatalah segalanya untukku
aku cuma bersandar padaMu
cuma
kepadaMu.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS