Aku justru nerasa sedih ketika malamnya Amran minta diurut. Aku tidak bicara apa apa. Tapi mataku berkaca kaca dan tenggorokanku terasa ada sekatnya.
" kamu mengkhianati aku. Kalian mengkhianati aku! " teriakku dalam hati. Aku memang bodoh! memang bodoh!. Mestinya aku tidak usah percaya pada kalian. Aku buta! percaya dengan sumpah kalian.Mestinya aku tidak membiarkan kalian bersama sedetikpun.Kepalaku sekarang pusing. Banyak sekali pernyataan pernyataan yang dulu kuabaikan , muncul. "sumpah, mbak, gak mungkin aku merusak rumah tanggakmu". " Aku sudah punya pasangan'." pak Amran itu sudah tua. Gak ada apa apanya".
" ma...... susu!" teriak Abel dari bawah
" Ya..... " aku lalu lari kebawah. Gadis kecil itu menyelamatkan aku dari kekacauan yang bisa saja timbul seamdainya aku masih diatas dan terus mengurut bapaknya.
"ok. pakai pempersnya.Sekarang kita tidur!"
"moh!"
" yo wis, masuk kamar , masuk kamar , kita main di kamar ya....."
" susu, ma, susu "
" ya ". begitu naik keatas kasur , Abel mulai loncat loncat. Aku cuma memandanginya sambil tiduran. " ibumu, pengkhianat, bel!" kataku dalam hati.Aku juga yang suka sok baik. Sudah tahu isuenya santer kayak gitu malah berteman dengan mamamu.
Mamamu itu sering makan dirumah ini.Bahkan aku sering bawakan sarapan untuk mereka di kantor.Gila, ya bel! gila sekali. Ketika mamamu menangis karena perutnya sudah mulas mulas, akulah yang membawanya ke rumah sakit Darmo. kamu lahir disana dan surat kelahiranmu tidak pernah kami ambil karena untuk mengambilnya dan mengurus akte kelahiranmu, mama harus menunjukkan KSk dan surat nikah sedang mamamu tidak punya itu.
O alah ,bel.....Dulu rencananya kamu diberikan ke Om Soing, teman papa. Tapi istrinya tidak setuju.Mungkin karena akhirnya dia tahu kamu anak papa ya...ketika keluar dari rumah sakit , akulah yangmenjemputmu dengan mbak Alya. mamamu bingung mau pulang kemana. Ke kosannya tidak mungkin, karena kamu masih terlalu kecil dan mamamu tidak punya pengalaman untuk mengurusmu. mau ditaruh panti asuhan , ternyata mamamu belum punya kepastian , panti yang mana. Akulah yang menawarkan diri untuk mengurusmu dan sambil menunggu kepastian nasipmu, kamu dan mamamu tinggal dirumah kami.Sejak lahir Bel, akulah yang memandikanmu , menyuapimu dan mengurusmu.
Dua bulan kamu dirumah . Akhirnya tibalah saatnya mamamu kembali ke kosnya. Tapi dengan pertimbangan kamu masih terlalu kecil, kamu tetap dirumahku. Setiap sore mamamu datang menjengukmu. Aku juga yang menawarkan itu.... aku bel, aku!.
Sekarang, ternyata Bel, kamu anak papa. oh sedihnya , bel..... sedihnya.kamu tidak tahu aku saat ini sedih sekali. Dan kamu cuma loncat loncat dari tadi..... ah, dasar kamu Bel!
Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku harus bagaimana?. Ternyata Abel itu anak suamiku. Apa aku harus minta cerai?.menyuruhnya memilih aku atau Rani?.bagaimana mengataknnya pada anak anak? orang tuaku? atau jika ada pertanyaan pertanyaan tentang semua itu. Bagaimana kelanjutan rumah tangga kami?. Aku capek! capek memikirkannya.
2
Smsku pagi ini :Allah mengajarkan kepada kita bagaimana meraih rachmatnya yang sejati yaitu dengan cara menjadi mediator nikmat dan rachmatNya kepada orang lain.Berbagi dengan orang lain nikmat yang kita punya" kukirim untuk kelima saudara dan sepuluh sahabatku.
Di dhuha tadi pagi aku melapor padaNya." Gusti, ini berat sekali.Aku belum bisa memafkannya. tapi aku janji untuk tidak bikin onar atau memakinya.Beri aku kekuatan dan kesabaran".Aku merasa Allah memberiku kesempatan. Karena setelah melapor itu , ku rasakan hatiku sedikit plong.
Aku bilang ke mbak Nur dan buk Su untuk tidak menerima telepon dari Rani. Abel sementara tidak boleh bertemu mamanya.
" kenapa dik ", kata buk Su. Pengasuh Abel itu memang sudah tua. Lebih tua dari aku. Dia merasa kagok kalau memanggilku Ibu .Jadi dia panggil aku adik
" wis poko-e gitu buk Su "
" O, nggih",katanya menyetujui." lha kalau mamanya kesini , gimana dik "
" gak usah dibukakno lawang"
" Lha kalau maksa , gimana!"
" ya biar saja dia teriak teriak dari luar, gitu !"
" opok-o seh dik ,dik , athik ngono barang....."
Aku yakin Buk Su dan mbak Nur lagi bingung dengan perintah tidak jelas begitu.Tapi biar saja dia bingung. Aku juga sedang bingung. mau bikin gerakan apa. Jelas aku jengkel dan sakit hati dengan Suamiku dan Rani tapi mau apa?.Mau apa?
Jenazah disemayamkan dimasjid untuk di sholati. Dari masjid langsung diberangkatkan ke makam Tembok dukuh. Jaraknya kurang lebih 2 kilo meter dari rumah duka. Lumayan juga, apalagi kalau di tempuh dengan berjalan kaki.
Kursi kursi dilorong jalan yang tadinya penuh , sekarang lengang. Sebagian besar pelayat ikut ke masjid untuk menyolati.Dalam islam, salah satu kewajiban yang hidup untuk yang mati adalah meyolatinya. Tetapi kewajiban ini gugur jika sudah ada yang meyolati sebelumnya( fardhu kifayah ). Ketika aku mengarahkan pandanganku keujung lorong , Amran sedang melambaikan yangannya kepadaku. Akupun mendatanginya. Sepertinya ia habis bertengkar dengan Rani. Tidak salah lagi, pasti itu soal omongannya ketika makan siang tadi.
" kamu pikir aku takut", kata amran ke Rani. Air mukanya kelihatan kesal sekali.
" aku yo gak wedhi!" kata Rani dengan suara keras dan menantang
" opo seh......nanti aja toch.Ini lho acaranya kita itu melayat ibunya yoyok. Masak bertengkar"Aku coba melerai. Dua orang itu memang sama saja . Yag satu tukang ngeyel yang satu lagi tukang tidak mau dikalahkan dan di salahkan.
" rungokno yo ,dek!"kata Amran kepadaku denga suara keras," perempuan ini yang membuat aku gak bisa tidur.Dia njebak aku!. Abel iku anakku! .Dasar pelacur!" berkata begitu dia tudingkan telunjuknya ke arah Rani
" sopo sing pelacur !"
" kamu!"
Aku terbengong bengong. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulutku. Pelan pelan kurasakan tubuhku ringan dan kepalaku seperti tidak ada isinya. Lalu tiba tiba saja... thakkkk!!. Tangan kiri Rani yang sedang memegang helm dipukulkan ke kepala Amran.Lalu Amran kulihat mau menempeleng Rani . Spontan tangan kananku memegang tangan amran dan tangn kiriku memegang tangan kanan Rani.
" nanti aja , malu, dilihat orang !".Aku mengajak mereka menepi, menyandarkan punggung pada tembok gang. Masalahnya orang orang dari masjid mulai berbaris untuk memberi penghormatan pada jenazah yang sudah keluar dari pintu masjid.Lalu semua orang yang berdiiri menepi , ikut dibelakang jenazah. Mengiringinya sampai makam. Amran yang berdiri di sebelah kananku juga ikut rombongan itu.
"Athoh!! " Rani tiba tiba berteriak. Aku cuma melirik saja. Rupanya ketika Amran melewati Rani , ia sempat meninju lengan atas Rani.Subhanalloh.
" sampeyan nunggu pak amran tah?"
" nggak, mulih karo sampeyan ae...."
" yo wis, tak njukuk motor yo "
" yo , mbak "
Rumahku di Wisma Bungurasih.Sedang Rani kos di Jl ketintang. kami memang searah.Sampai di ujung jlan darmawangsa rani bilang pengen ke JMP. cari tooljii, Jadi aku mengantar dia ke JMP dulu.Selama perjalanan kami sama sama diam. Aku tidak lepas dzikir.Hatiku galau sekali.Sementara itu aku sedang menyetir motor, dijalan raya lagi.Aku takut celaka... lalu mati. Di perjalanan pulangpun kami cuma diam.kami sibuk dengan pikiran masing masing. Mungkin sekarang Rani merasa lega.Apa yang di pendamnya selama ini sekarang terkuak. Itu artinya , ia tidak lagi harus terbebani dengan rahasia hatinya. Atau sekarang malah muncul beban yang baru? entahlah. Aku sendiri merasa heran dengan perasaanku.Kok hambarrrrrrrrr sekali. Mestinya aku sangat sedih dengan fakta yang terkuak ini. Abel ternyata anak Rani dan Amran, suamiku.Mestinya aku menangis meraung raung seperti di sinetron atau seperti cerita teman teramanku yang ditinggal selingkuh suaminya. Ini aku malah tidak merasakan apa apa. Sedih atau ingin menangispun tidak. Kenapa ya. Apa aku tidak normal?.Apa hatiku sudah beku?.Permah kehilangan barang tapi tidak sedih dan tidak merasa apa apa? ya. seperti itu rasanya!.
lalu aku mencoba mengingat ingat ketika Rani pamit untuk menikah. Wito yang diakuinya sebagai suami itu juga diajaknya kerumahku. Malah mereka datang dengan cerita kemeriahan perkawinannya. jadi siapa Wito itu?. Kenapa tokoh itu dimunculkan?.
Amran dan Rani buat skenario gila itu. Barangkali Rani sudah hamil saat itu?. Seingatku bberapa hari setelah itu Rani datang kerumah dan pulangnya minta diantar Amran.Tapi Amran tidak mau mengantar.Alasannya " gak enak " dengan suami Rani. Mereka sempat bersitegang. Akulah yang merayu Amran untuk mengantar Rani. Akhirnya memang Amran mengantar Rani. Sorenya Rani datang kerumah dengan pelipis yang membiru. Dia menangis sambil menunjukkan lengan atasnya yang memar. "Ya Tuhan..... wis tah mbak, jauhi Amran", kataku menenangkan dia," pulang aja ke Solo. Mas Witomu kan juga gak terima kamu disakiti kayak gini "
Bukan cuma sekali itu Rani datang dengan lebab dibadan dan tubuhnya. Sekali waktu datang dengan pergelangan tangan kirinya yang bengkak." diplontir pak Amran, mbak", katanya mengadu. Pernah juga tiba tiba dia datang dan menangis dipangkuanku. Katanya hidupnya sudah hancur. Aku juga merayunya untuk meninggalkan pak Amran. Dia malah menyerahkan semua data member setas penuh. Dia juga menyerahkan kunci mobilnya padaku. Katanya dia mau pulang ke solo. Tapi malamnya dia datang bersama suamiku. Lho.....
" tadi aku kesalon , mbak sambil mikir mikir "
" oh.... " . Aku tidak bertanya apa yang sedang dia pikir pikir itu. Kedatangannya berdua dengan suamiku itu membuatku hatiuku tidak enak. tapi gilanya, aku menawarinya makan malam dan minta suamiku mengantarnya pulang ketika ia bersikeras untuk pulang naik taksi.
Sekarang aku berpikir lain..... semua itu mungkin moment gila bagi mereka. Bisa saja waktu itu Rani minta pertanggung jawaban Amran. Amran marah dan menyakitinya.Entahlah. Aku cuma heran..... kenapa aku sekarang ini tidak bisa menangis. sudah kuingat yang menyedihkan.... tapi hatiku tidak sedih juga. Ini pasti ada yang tidak beres dengan diriku!
Tiba tiba saja kami sudah ada didepan rumah kosnya.
"sampeyan percaya to mbak dengam omongannya pak Amran....." tanyanya ketika turun dari motor.Aku menjawabnya dengan senyuman.
" yuk ya...."
" iya, suwun mbak..... "
Aku tidak menjawabnya. Tiba tiba ada kesadarab dihatiku." alhamdulillah", kataku lega dalam hati. Ternyata selama perjalan pulang tadi aku melamun. Syukurlah tidak terjadi apa apa. Sisa perjalananku kerumah kuisi dengan dzikir. Matur suwun gusti, matur suwun.Aku selamat!.
k e k a i s c i n t a
1
" Yang paling berat bagi jiwa adalah ikhlas karena ketika kita ikhlas, jiwa tidak kebagian apa apa ",sms pagi ini ku kirim untuk anak anakku.
Pas jam dua belas siang aku sampai dirumah Shenny. lorong yang menuju rumahnya penuh dengan motor pelayat yang sedang parkir. Rumah yang tidak berhalaman itupun dipenuhi dengan kursi untuk pelayat. Kursi kursi juga dijajar di emper rumah rumah sebelah rumah duka. Benar benar tidak enak hati untuk berjalan sendiri melewati mereka semua. Tapi salahku juga datang terlambat.
" sori mbak, terlambat.mberesi rumah dulu ", kataku ketika menyalami sheny.
" nggak papa , belum dimakamkan kok "
"Ikut berduka cita, yo. maaf jugaNggak sempat njenguk di rumah sakit'
" nggak papa, mbak.Nggak papa"
" tadi malam jam berapa?"
" jam sepuluh malam, sakitnya sudah lama, mbak. Tuhan berkehendak lain "
" iya , yang sabar...."
Kutebarkan pandanganku ke semua arah. Aku mencari suamiku yang lebih dulu datang. Yoyok, Suami Sheny itu memang kawan akrabnya. Mereka bersahabat sudah sejak tahun sembilan puluhan , ketika sama sama kerja di astra.Tadi ketika dikabari kalau ibunda Yoyok meninggal , amran dan anak anak kantor datang duluan, rencananya memang jam 11.00 dimakamkan.Ternyata jadwalnya diundur karena menunggu saudara ibunya yang dari luar kota belum datang.
Amran duduk di deretan kursi yang paling belakang. Ia duduk sederetan dengan anak anak kantor. Aku tidak menghampirinya karena untuk berjalan kesana harus melewati banyak orang dan itu membuatku tidak enak hati.Beberapa saat setelah itu dia datang menghampiriku dan berbisik
" ikut makan nggak?"
Aku menggeleng. " nggak enak, baru datang ..."
" yo wis!"
Aku cuma mengawasinya saja ketika mereka serombongan keluar dari deretan kursi belakang. Aku kembali ngobrol dengan bude dan bulik yoyok tentang rencana tahlil malam nanti. Shenny memang tidak tahu apa apa karena ia nasrani sedang yoyok Islam. jadi semua ritual mulai malam nanti sampai malam ke empat puluh diambil alih oleh keluarga ibunya.
Sedang enaknya ngobrol begitu , Rani kelihatan berjalan dari ujung lorong. Langkahnya cepat dan mukanya keruh. Sepertinya lagi tidak enak hati.
" bojomu lho mbak!" katanya ketus sambil duduk di kursi sebelahku dengan kesal.
" ada apa ?!", kataku sambil menggandengnya, mengajak duduk menjauh dari bude dan bulik yoyok,' nang kene ae , gak enak dirungokno uwong"kataku lagi
"mosok aku diilok ilokno! mangkel aku! "
" dilokno opo?!"
" mosok aku di pelacur pelacurno"
" subhanalloh... "
" omongono , to mbak!"
Aku terdiam. Amran memang sangat ringan mulut.Tidak peduli dimana , asal dia mau ngomong ya langsung ngomong saja. Gak main!. Sikapnya itu juga sangat menggangguku. Aku tidak pernah tega untuk bicara kasar atau yang sekiranya tidak pentas untuk diucapkan , tetapi ia selalu tega mengeluarkan kata kata yang bahkan bisa membuat muka kami merah padam.
Kami duduk berdampingan dan tidak saling bicara. Rani kelihatan sangat jengkel!. Bibirnya terkatup dan matanya sedih. Ia kelihatan sedang menahan kejengkelannya. Aku membiarkan saja karena memang tidak tahu harus bagaimana. Aku juga tidak berusaha merayu dan mengelus hatinya.Tidak!. Rani itu lebih punya banyak waktu bersama Amran karena memang mereka sekantor. Pulang kantorpun mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Dugem , jalan jalan ke moll atau apa saja. Lagi pula ini bukan kali pertama dia tersinggung seperti itu. Seperti yang lalu lalu , aku yakin semua akan biasa lagi. Sebetulnya , dimataku , mereka sama gilanya. se level!.
Kira kira dua puluh menit kemudian, Amran cs kembali. Dia menghampiriku sambil menenteng satu bungkusan.
' gado gado, dek"
" tq"
"mbak Rani mau", kataku menawarinya
" nggak mbak, suwun... "
Karena cuma satu bungkus dan disana ada banyak orang, gado gado itu kumasukkan tasku.Rani berdiri ikut dibelakang Amran yang meninggalkanku.Ia ikut bergabung dengan anak anak kantor. Aku tidak menghalanginya meski akhirnya aku duduk sendiri.Jujur hatiku perih melihat pemandangan ini. Rani lebih leluasa ikut Amran. Seolah ia merasa lebih berhak untuk bersama suamiku. Mungkin tidak begitu.... yang benar , aku lebih merasa sungkan untuk bergabung dengan mereka, iu saja.
MENUNGGU
smsku pagi ini " jika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu kebahagiaan yang lain terbuka. Jangan memandangi pintu yang tertutup itu terlalu lama, nanti kita tidak tahu pintu mana yang terbuka untuk kita ", kukirim untuk ibu ibu kelompok khasidah arrahmahku.
Kalau menuruti emosi , maunya memang langsung teriak teriak tentang perasaan ketidak adilan yang kurasakan ini. ' janjine biyen gak ngene rek!'.Aku butuh menyuarakan lantang tentang kesewenang wenangan suamiku itu. Piye to.... rabi 21 tahun , jaminane umurku lha kok digawe gak karuan ngene!. Blas nggak main!.Kebencianku padanya meluap, membuncah dan meluber kemana mana. membicarakannyapun aku tidak mau. laki laki biadab itu samgat keterlaluan!.
saat tidak berdaya seperti ini aku ingat bapakku. Lelaki dari bawah gunung lawu itu jelas lebih gagah dan gantelman dimataku. Dulu, sebelum beliau wafat , dialah sandaran hatiku. Kami bisa ngobrol semalaman soal apapun. Apalagi soal laki laki yang diberinya amanah untuk menjagaku ini. SEbelum akhirnya beliau melepasku, ia orang yang paling menentang hubungan kami.
" umur kalian sama ", begitu alasannya., " kalian akan sulit saling mengalah. Sekolahnya sama. Yang dibaca sama, yang di tonton sama...apa asyiknya dengan dia"
" aku cinta , pak " , jawabku meyakinkan.
' Dia orang luar jawa, Dek.Pembauaran itu memang baik. Tapi berat untuk dijalani. Aku tidak ingin kamu patah ditengah jalan".
" ya iyalah... lain lubuk lain ikannya kan.Bagus dong pak. Hidup kami malah bisa sangat berwarna.lagian bapak takut apa?. Dari kecil aku ini sudah suka jadi seksi sibuk. Sekarangpun malah jadi kohati. Biasa ngurusi masalah.....bapak gak usah khawatir"
"soal agamanya....... laki laki itu sulit untuk menurut dan belajar dari perempuan. laki laki itu tidak suka digurui."
Akhirnya bapakku memang menyetujui hubungan kami. Beliau juga yang paling sibuk mempersiapkan perkawinan kami.Setiap kali aku tidak tahan dengan perlakukan Amran , aku datang padanya. Meski aku bicara panjang lebar tentang prediksinya , ia tetap mendengarkan aku. Kalau aku sudah mulai memangis bapak cuma bilang begini :" lho, iku kan pilihanmu dewe.lha sekarang... kalau misalnya gusti allah tanya... dek , umpamane semua itu jadi tiket kesorga , piye?"
" wah . aku yo gelem banget , to "
" yo, wis lho gak usah nangis.... ". Dan akupun berhenti menangis.
Bapak ,aku seperti melihatmu disini. Apa yang engkau bilang dulu itu bener semua. Ternyata tidak mudah mengatakan sesuatu padanya , meski itu soal kebenaran. Banyak hal yang menurutku sangat serius tapi baginya bukan apa apa. Yang menurutku sepele malah baginya sangat serius. Aku kesulitan menyamakan visi. kami tidak bisa duduk berdekatan terlalu lama karena ditengah kegembiraanpun dia bisa tiba tiba sangat tersinggung dan marah.
Bapak , barangkali dimatanya aku ini terlalu hebat. jadi seumur hidup perkawinan kami selalu ia berusaha untuk meyakinkan siapapun bahwa " aku itu tidak berarti apa apa baginya".Barangkali ia juga sangat cinta padaku sampai sampai ia tidak rela seorangpun ' menyapaku'. Aneh kan pak. Ia, ia mencintai aku dengan cara yang aneh.
Soal bunga yang lupa disiran saja dia bisa ngamuk. Tapi ketika dia lupa pulang(?), minta dimakluimi. kalau aku bicara dengan laki laki ( padahal tetangga atau adiknya sendiri) dia bisa mencaci maki seolah aku ini sedang menawarkan diri untuk di tiduri. lalu ketika dia tidurdengan perempuan lain sampai punyaa anak , menurutnya itu tetap salahku. Aku salah , karena sebagai istri aku tidak becus. Sebagai ibu aku gagal. Sebagai teman aku teman yang tidak setia. Barang kali memang begitu ya pak.Barangkali memang bener begitu. Apalagi sebagai hamba.... oh , pasti terlalu banyak kesalahanku. jadi mungkin pak , aku masih harus bersyukur bahwa Amran cuma pergi dari rumah. Ia tetap membeayai anak anaknya. Masih tetap peduli dengan kebutuhan rumah. Ia, pak..... sebab kalaudipikir lagi , dengan kwalitasku yang tidak prima, mengingat Allah itu maha diktator, mestinya Allah bisa membuat semua lebih hancur dan berkeping. tapi lihat pak...... semua masih baikbaik saja. kami memang pisah rumah ( setelah sepuluh tahun pisah ranjang)........ jadi , keadaan ini masih lumayan ya pak.Lagi pula pak, semua ini tidak akan selamanya. Memangnya mau sampai kapan?. Paling paling umur enam puluhan aku mati.Dan semua ini akan berakhir dengan sendirinya. Sekarang aku sudah empat puluh delapan. jadi ya..... kurang dua belas tahunan lah, pak.itu bukan waktu yang lama. Perasaan kemarin baru senin.... rasanya tiba tiba saja sudah sabtu lagi. Sediluk pak.
Paling bijak kalau sekarang lebih punya kesibukan yang menghasilkan ,tetap berfikir positif . Tidak boleh stress dan jangan berteman dengan syetan.
Nama tengahku " sethira". kata bapak itu artinya "sabar'. Sabar itu adalah menunda kemarahan, berpikir ulang sebelum mengambil tindakan , menahan amarah , tidak tergesa gesa dan pinter menunggu. Semua perempuan didunia ini ahli berbuat " sabar". ia menunggu air yang dijerang sampai mendidih baru bisa untuk bikin kopi atau teh. kami juga ,menunggu nasi matang agar bisa dimakan. dulu kami menunggu , sementara laki laki memutuskan akan mengunjungi kami atau tidak. kami menunggu dipinang dan dinikahi. kami juga menunggu jabang bayi lahir setelah sembilan bulan kami kandung. jadi soal sabar kami sudah sangat ahli dan pekerjaan yang lekat dengan kami. kami melakukannya detik demi detik seperti halnya kami harus bernafas.
Dalam hal menunggu , yang paling menyebalkan adalah menunggu dalam ketidak tentuan. Bagi penerima gaji bulanan , menungu tanggal satu yang kurang tiga hari ssaja bisa terasa lama. Bagi gadisku , menunggu mas gantengnya yang dalam perjalanan ke rumah kamipun bisa terasa sangat lama.(padahal bagi keluarga prayit yang membunuh Purwanto cs itu , duapuluh lima tahun menunggu hukuman mati saja masih terasa sebentar..... ).Di posisi " tidak menentu " inilah aku.Apa yang terjadi dua bulan, satu tahun mendatang?. Apa keluarga calon besanku bisa menerima anakku tanpa menghina sebagai " produk broken home?", apa komentar para tetangga, saudara dan kenalan kami?.Apa luka anak anak akan sembuh atau tetap basah dan menganga?.Bagaimana hubungan kami selanjutnya?.entahlah.
Yang pertama aku lakukan , bersimpuh dihadapanNya. Aku butuh kekuatan ekstra , kelembutan hati ekstra , keteguhan ekstra dan mampu bersikap bijak ekstra. Cuma Tuhan yang punya itu. Dia tidak pernah menolak hambanya yang tulus mendekat. Ia maha memberi bahaya karena ia ingin kita selalu ada didekatnya. ia tidak pernah rela kita meminta pada yang lain. Ia maha mengembalikan apa yang pernah hilang dan menggantinya dengan berlipat dan penuh berkah hingga kita dapat bahagia dan penuh syukur dengan pemberiannya yang baru.
yang kedua , aku mulai menghitung apa apa yang kami punya. Bukan yang tidak kami punya. Lebih berhatihati menggunakan apa apa yang kami punya agar tidak ada lagi yang hilang. Tuhan,aku ikhlas dengan apa yang engkau putuskan bagi kami.
Tuhan, bikin kami pintar memahami semua keputusanMu.
Tuhan , temani kami menyelesaikan semua masalah kami.
Tuhan,Tomboki semua kekurangan kami.
Tuhan, karuniakanlah jodoh untuk anak anakku dari golongan yang cinta kepadamu.Agar cinta kami kepadaMu makin menjadi jadi.
Tuhan, karunikanlah kepandaian menyukuri yang engkau telah berikan.
Tuhan , singkirkan semua penyakit yangmengerikan dari kami.
Tuhan, beri barokah atas ilmu , umur dan harta yang engkau berikan.
Tuhan, jauhkan kami dari neraka dunia dan akhiratmu.
Tuhan, tetap bimbinglah kami.
Tuhan, karuniakanlah kesehatan , harta dan karir yang sukses,
Tuhan, basuhlah kemarahan kami,hilangkan kedengkian kami .
Tuhan, jadikanlah semua hal dalam hidup kami adalah " baik"
Tuhan, jadikanlah semua orang menyayangi kami, tidak menfitnah kami dan tidak merencanakan keburukan untuk kami.
Tuhan, ampuni kami. Kasihi kami , ampuni kami, ampuni kami, ampuni kami.....
Amin.
25Agustus2008
SAREH
Sms pagiku " jangan karena semua sudah diatur oleh Tuhan , kita menjalani hidup ini apa adanya. Kita tetap harus punya peta hidup. Kita harus lari dari takdir satu ke takdir lainnya. Sesungguhnya takdir itu bisa kita ubah dengan upaya doa ". Kukirim kepada lima belas sahabat dan anak anakku.
Pagi ini aku sms Rani." pak Amran kemarin pergi dengan membawa semua barangnya. Ke rumahmu kah?"
" enggak mbak. Kemarin juga sudah cerita banyak. Hari ini aku ada di Surabaya. tq ya", balasnya.
" ada acara jalan ajalan sama abel?"
"lihat nanti aja, mbak"
Wow ternyata si Nonm sudah ada disurabaya. bagaimanapun aku memang harus tahu dimana keberadaan " beliau " saat ini. TErnyata baik baik saja. Dia ada di kantor bersama Rani. Ahamdulillah.Aku memang ingin tahu kenapa " beliau " pergi dari rumah. Pasti ada yang sangat dia tidak bisa tolelir lagi. SAmpai tidak tahanm lagi serumah dengan aku. Kalau cuma nggondok biasa pasti gak akan nekat keluar dari rumah ( eh , barangkali memang sudah sering sangat gak betah tapi tidak pergi karena tidak tahu harus kemana?. Sekarang kan istrinya dua , jadi bisa pergi ke yang satunya kalau lagi nggondok dengan satunya.haha ).
Dirumahku , sebetulnya yang boleh nggondok cuma Abel. Bungsuku yang baru lima tahun itu kalau lagi ngeyel minta sesuatu dan aku juga ngeyel tidak memberi maunya itu , biasanya lari kekamar dan menimbuni badannya dengan bantal sambil nangis. Bahkan sering dia tertidur dengan posisi seperti itu. nanti kalau dia bangun , biasanya tetap menangis dan nggondok. Tidurnya itu tadi tidak menghapus sedikitpun sakit hatinya. ( padahal kan kalau kita tidur , semua sudah reda ya...).Kalau laki laki seusia pak Amran nggoindok kan nggak lucu. Umur 48 tahun , sukses karir, bAnyak duit , banyak harta. Mau apa saja bisa dan kelakon. Anak sudah lima , istrinya saja sudah dua. Nggilani!
Ketika Rani datang kerumah , anak anak belum ada yang pulang sekolah. kami duduk diruang keluarga sambil makan siang.
" piye sih mbak , kok jadi ora karuan ya... "
" lha gimana , sudah diterangkanbaik baik malah jingkrak jingkrak , ngamuk!"
" sampeyan ki mbok nurut to mbak. Dia itu paling yo ming sedelo ngono kuwi....."
" nurut gimana...."
" pokoke apa yang nggak dia suka ya jangan dijalani , gitu lho,mbak "
" gitu ya... "
" dia nggak kepengen sampeyan apik apik karo bu Nuke , karo mbak Sheni karo Danik. Alah mbak..... emang oleh opo sih sampeyan..... "
"ya , karepe memang gitu. Pak Amran iotu kalau nggak suka sama orang , aku juga disuruh gak suka.Lha tapi gimana..... Sheni , nuke itu teman baik. Kita nggak punya masalah apa apa. Danik malah adik ipare.Jujukane adik adike pak Amran yo kene mbak....."
" yo kudu iso mbak....aku juga berusaha ngono. Ben gak mumet!"
" terus maunya apa lagi , mbak "
"Pak Amran itu maunya anak anak dekat sama dia. Minta maaf tentang kemarin itu. TEtutama Dea. Katanya pak Amran gelo banget kok Dea berani menyarankan papanya cerai dengan sampeyan....."
" yah.... salah kabeh mbak. salah!. Dea itu teriak, teriak..." yo wis pa. kalau papa mau cerai ya cerai saja. gak usah ngancam ngancam.Apalagi mukul mama..." gitu lho. Sampeyan ngerti nggak sih . Dea bilang begitu itu , karena dia dulu yang minta papanya tidak menceraikan aku karena dia merasa tidak berharga jadi anaknya janda. Tapi kemarin , karena papanya terus teriak teriak begitu ya dia bilang begitu. Dea merasa buat apa papa bertahan kalau ternyata itu menyakitinya. Sekarang terserah papanya toh, bagi dea sudah tidak penting semua. gitu lho mbak.Tapi okelah... nanti anak anak tak suruhnya minta maaf.tapi sak jane pemicune opo sih mbak.... "
" soal zaenal"
" oh.... kenapa?"
" Pak Amran akhirnya tahu kalau sampeyan pinjemkan bpkb ke dia"
"daari Budi ya "
"iya. Dia merasa sampeyan khianati. KOk beraninya ngasih zaenal tanpa ijin Dia"
" yo.... aku nanti tak minta maaf soal itu. Masalahe biyen iku zaenal butuh duit. Utange nang pak Amran yo wis akeh.... aku memang salah. Tak pikir ya lima bulan seperti janjianya , eh nganti saiki..... tapi yang lain aku gak mau minta maaf mbak. Aku kawin 21 tahun dengan pak Amran. Umurku tak jaminkan ke dia. BErakhir dengan tidak sangat indah!.Bilang sama dia kalau aku juga sakit hati dengan sikap dia selama ini. Dia juga banyak buat kesalahan dengan aku dan tidak pernah minta maaf. Ketika dia ketahuan selinggkuh dengan sampeyan.Ketika dia menghancvurkan hidupku dengan kelahiran abel , dia juga tidak pernah minta maaf. Ketika di depan banyak pelayat dia mengakui kalau abel itu anakmu dari dia , dia juga tidak pernah minta maaf.Ketika dia memojokkan aku dengan bilang " seperti gedebok" didepan hakim yang mengadili poligami kita , dia juga tidak minta maaf. Dia juga tidak pernah berterima kasih atas segala kebaikan anak dan istrinya...... sampeyan ngerti mbak , di acara patroli, perempuan dan laki laki kayak sampeyan dan pak amran bisa dimutilasi..... tapi aku kan baik, baik sama sampeyan dan pak amran. Nglabrak juga tidak, mencaci maki juga tidak!..... "
Aku percaya Rani bisa jadi penengah atas masalah kami ini. Tapi aku berserah diri padaNya. Dua orang itu sering salah paham . Sering tidak mau salah dan Ngalah. Aku kenal sekali sifat mereka. SAlah salah malah nanti salah faham.jadi ketika dhuhur aku bersila dihadapanNya , kusebut terus dengan ya lathif dan ya fatah. Allah maha membuka dan maha melembutkan itu pasti akan melembutkan dan membuka hati suamiku.INsya Allah.......
Di SBQ Tv mengalun lagu "kekasih yang tak dianggap" dari pinkan mambo. Aduh aku banget ya!
sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa mencoba mengalah..... menahan setiap amarah. Sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa... mencoba menahan.Berharap kau kan berubah........
7 Agustus08
UTOPIS
Sms pagiku untuk anak anakku " mari menghitung yang kita punya. Jangan yang tidak kita punya. Allah yang maha kasih dan kaya itu berjanji selalu memenuhi kebutuhan hambanya. Tidak peduli kita siapa , Ia tidak pernah rela kita meminta kepada yang lain. Chayoo! "
Matahari sudah sepenggalah. Rumahku sepi . Kalima anakku sudah berangkat sekolah. Selesai urusan rumah , saatnya bermunajad padaNya. Di dhuha pagi ini , hatiku sangat tidak menentu.Sejak kemarin menahan air mata.membiarkan hati terbelenggu kegelisahan.takut meneteskan air mata apalagi untuk meraung. Aku sedang menjadi penjaga hati anak anakkku.Pagi ini mereka berangkat dengan beban hati yang sulit kutebak( karena reaksi mereka tentu berbeda) tetapi ketika tadi berangkat,insya Allah mereka semua yakin bahwa mamanya akan baik baik saja. Itu penting!.bagiku sangat penting.
Urusan dengan Tuhan beres , aku mulai memberanikan hati untuk naik kelantai atas.masuk kekamar Suamiku. Kamar itu tetap amburadul seperti setiap pagi. Selimut teronggok di lantai dan seprei kusut masai. Anak anak selalu meninggalkan kamar papanya seperti itu. Meski sudah diomeli sepanjang tahun, tidak berubah. Barangkali karena selalu rapi jali setiap kembali untuk menidurinya.
Ada pemandangan yang tidak biasa. Gantungan baju dibalik pintu itu kosong. Biasanya selalu ada celana dan baju kotor disana. Dan ketika aku buka lemari tiga pintu yang ada di ujung kamar...... kosong. Betul betul kosong.Tidak ada satupun pakaian didalamnya. lalu aku buka brankas tempat harta karun kami..... subhanalloh, yang ada cuma polis asuransi kendaraan yang sudah kedaluwarsa, ajasah ajasah anak anak. Semua punyanya , termasuk sertifikat dan bpkb dibawanya .Semua sepatu juga dibawanya.
Kuredakan hatiku yang tiba tiba saja merasa nelangsa dengan duduk dikasur. Sekarang aku mulai menangis. Rasanya pedih sekali. Ternyata dia benar benar meninggalkan kami. Perkawinan dua puluh satu tahun kami berakhir dengan begini......hampir setengah jam aku membiarkan larut dalam kenangan pahit dan manis.Ku kenang kembali semua perjalanan hidup kami berkeluarga.bahkan sejak kami bertemu dan mulai pacaran........ Lalu datang perasaan lain.. begitu saja.Aku tidak lagi menangis. Perasaan lega dan perih di hati berangsur hilang. " ayo , deka! berhentilah menangis!" kataku pada diri sendiri.
" Dia sudah pergi.Benar benar pergi!"
" iya"
"semudah itu?!!. tanpa pertimbangan apa apa?"
" ya!"
" jadi aku tidak berarti apa apa lagi , ya !"
" iya!"
"Hidupku hancur. Berantakan!"
" Tidak juga!"
" kamu punya anak anak "
" iya!"
" kamu punya tempat tinggal yang layak. Fasilitas hidupmu masih utuh!"
" Iya "
" kamu punya tetangga tetangga yang baik. Tidak resek dan suka berasan"
" ya "
" kamu punya teman teman yang peduli dan tidak suka mendesak"
" ya "
" Jangan jatuh, deka , jangan!"
" iya"
" hapus air matamu. cari kesibukan dan banyak berdoa!"
" ya"
lalu aku berdiri. Merapikan kamar . membuang semua kertas dilaci yang tidak berguna , menyapu dan mengepelnya. Sebelum keluar ku semprot dengan glade aroma apel. Hem.... baunya menenangkan jiwa.
Hari itu sampai jam dua belas siang , semua kamar dilantai atas dan bawah sudah sangat rapi dan wangi. Terakhir kukosek lantai 2 kamar mandiku.Bunga bunga yang berjajar dianak tanggag ku siram dan kurapikan. Lega sekali.... lega sekali..... beban dihati hilang bersama kotoran yang sekarang terbungkus rapi di kresek sampah. Aku kembali bermunajad padaNya. Memang sedih ketika kehilangan sesuatu yang kita kira akan jadi milik kita selamanya.
" ia tidak pergi begitu saja, dek "
" ya, aku mengerti. pasti dia sudah sangat tidak tahan berada bersamaku. Hari ini aku sedang ikuit ujianNya. Soalnya begitu sulit aku benar benar merasa kesulitan!. Soalnya tidak biasa biasa saja"
" dan kamu bukan peserta yang biasa juga. Sang penguji tahu , kamu akan luluis juga kali ini"
" semoga!"
Semua yang terjadi selalu dengan sepengetahuaNya. Satupun tidak akan pernah ada yang terlewat. Ia tidak pernah membebani sesuatu yang tidak pernah bisa kita pikul. Selalu sesuai kemampuan kita. Ia tidak mudah menghukum. Ia juga menunda azabnya. Ia maha pengasih. Ia juga mengasihiku. Aku yakin itu. Hakkul yakin.
Sidoarjo.4Agustus 2008
walk out
" lihat ini , gak onok smsmu.gak onok!"
" ya, tapi kak mox aku wis sms"
" endi buktine... !"
" pokok-e uwis. Ngapain juga aku mesti bohong sama kamu"
susah nih, si bapak. Sudah dibilangi kalau aku sudah sms kok masih mencak mencak. Gak main!. Minta bukti lagi. " gini lho kak, kemarin iitu HPku low bath. Jadi aku pinjam hpnya mbak mamik. Lha masak aku harus ke sana pinjem Hpnya buat membuktikan.Aku malu yo.... apa kata dunia!
Wessss..... tiba tiba dia melemparku chas chasan hp. Kena pelipisku.
" sakit tahu!" teriakku dalam hati. Aku cuma memandangnya. Ada rasa benci dihati yang rasanya makin lama makin menyakitkan. Lelakiku ini , buykan cuma hobby berkata kasar juga hobby menyakiti secara phisik.( aku sebut hobby karena ia melakukan secara terus menerus selama 21 tahun perkawinan kami). Kalau sudah main aneh aneh gitu , paling aman ya diam.
Aku diam sampai dia meninggalkan ruang keluarga dimana kami duduk. Dia langsung naik menuju kamarnya dan akupun masuk kamar tidur. Lucu juga pikirku kecut. Dia marah karena dia mengira aku tidak membalas smsnya. Sore tadi kami ada undangan perkawinan putri pak Paryono, tetangga kami. Aku jadi penerima tamu di perhelatan itu. Jadi memang rencananya dia akan pergi dengan anak anakku alya dan abel. Sebetulnya lucu juga kalau dia marah.Apalagi kalau dengan alasan dia tidak tahu jam dan tempat acaranya dilaklsanakan. Masalahnya undangan perkawina itu ada diatas meja , kedua anakku malah sudah menyiapkan baju ala putri lengkap dengan bandonya,dan mereka sudah menunggu sejak siang. Lagi prosesi acara itu sudah dimulai dua hari yang lalu.Mulai dari acara pengajian , siraman , akad nikah dan malam ini resepsinya. Dan karena aku jadi panitya , setiap pulang dari semua acara itu aku bawa makanan dan dia ikut makan....Jadi menurutku , marahnya gak keren blas!
tadi ketika aku sampai rumah , Alya dan Abel sedang tertidur pulas. Baju putrinya tergeletak dilantai kamar.Si bapak dan ke tiga anakku yang besar belum pulang. Kata Siembak , beliau lagi nonton di TP....... lha iya , kok pakai acara marah ya. Padahal kalau memang niatnya mau datang di acara perkawinan kan bisa. Dasar si pemarah!
jam enam pagi dia sudah turun dengan pakaian untuk olah raga. Acaranya mau sepedaan dengan bapak bapak di RT kami. Ketika berangkat belanja , aku stop sebentar di rumah bu Mulyadi. Disana sudah adsa bu Ali , bu Alizar dan bu Edi. Mereka sedang membicarakan acara agustusan.tahun ini RWku tidak mengadakan cara resepsi agustusan seperti tahun kemarin kemarin.Semua acara mulai jalan sehat , pembagian hadiah dan bazar dilaksanakan tanggal 10 Agustus.Kami micara soal malam tirakatan dan lomba untuk anak anak di RT kami sendiri.Pas asyik asyiknya kami ngobrol , " beliau " lewat dan berteriak " Bojo gak main!". Jelas aku merah padam, tapi pura pura tidak dengar. Apalagi ibu2 yang sedang bersamaku tidak berkomentar apapun juga.
Merasa situasinya sudah gak enak , aku pulang. Sampai dirumah " beliau" sedang membersihkan burung burung. Di ruang keluarga sedang berkumpul ke lima anakku. Mereka sedang nonton TV sambil sarapan.
" tadi , papa teriak dijalan. Kayaknya marah banget. kalau masalah tadi malam ya..... sumpah rek , aku sms lho. Kok gak percoyo seh. Lha masak aku harus pinjam HPnya mbak mamik. Lucu..."
"trus mah.... "
" yo , iku dikirone paling ngrasani dia , padahal...",kalimatku kuhentikan, " beliau menuruni tangga sambil membawa burung yang sudah dibersihkan untuk di jemur di depan rumah. Sambil melewati kami yang sedang duduk diruang tamu, "beliau" menendang kucing kami yang menghalangi jalannya.Sontak si Alya teriak " jangan , pa......jangan! "
" biar mati sekalian !"
" Jangan pa, jangan " , Alya lalu berdiri menolong si michi yang jadi kortban pertama pagi itu.Meliahat situasi yang sudah mulai tidak enak , aku masuk kamar. Mencari kesibukan , menata kembali sprei dan baju baju yang tidak sedang berserakan.( karena sudah di benahi si embak).Diluar " beliau mengumpat umpat si michi dan mengancam akan membunuhnya kalau sampai ketahuan mekan burung kesayangannya.Entah bagaimana , tiba tiba " beliau" sudah masuk kamarku dan meninjuku." kamu juga!jancuk!. Wedhok Gathel!!", katanya berteriak teriak.
" sakit kak mox!"
" tak cerai kamu! tak cerai kamu!". Berkata begitu ia menghampiriku lagi. Tiba tiba Ade anakku memegangi tanagn papanya dari belakang.
" sudah , pa, sudah!"
" Biarain De, papa sudah gak kuat. Wedhok gathel!", teriaknya dengan nada marah
" papa mau apa , appa mau apa!. Ingat papa sudah umur berapa! pa, sudah!" Ade berteriak lebih keras dari suara papanya.
" takl cerai kamu! tak gorok kamu!. gak selama nya anakmu bisa mbela kamu!"
Dea , sulungku ikut bergabung dikamar. Mendengar papanya berteriak teriak , ia ikuit bicara.
" pa, selama ini aku melarang papa bercerai karema aku pikir jadi anaknya janda itu ashor. Tapi kalau ternyata itu yang buat papa bahagia , yo wis.... ceraio ae pa. Ceraio ae.... wis gak penting kabeh..... ".gadisku itu mulai mernangis.Aku sendiri cuma mematung melihat adegan demi adegan. Congok!
Anak anakku yang lain tetap duduk diruang keluarga itu. Mereka bukan tertegun tapi juga risau melihat bagaimana akhir masalah ini.Setelah agak tenang , "beliau" naik ke lantai atas dan memasukkan sermua bajunya ke mobil. Entah berapa kali ia turun naik tangga.Aku sendiri tiduran si kasur dan mencuri pandang dari kaca jendela kamar.Aku khusus berdzikir sambil tiduran. Takut yang lebih dahsyat terjadi di rumah kami.
Sampai mobilnya berangkat , aku tidak berani keluar dari kamar. Semua kami , melihatnya pergi dari rumah.Tidak ada rengekan dan pertanyaan yang keluar dari ke enam mulut kami.
Hari ini , 3 Agustus 2008 , " beliau" pergi dari rumah. Apapun bisa terjadi sesudah hari ini.Kami tidak menangis. Tidak bisa menangis !.Masing masing dengan pikiran sendiri melewatkan malam.Kami tidak saling menghibur, tidak saling bicara. kami diam. Cuma diam.
A





