RSS

" kesenenegen dia ma , itu kan yang ditunggu tunggu"
" biar orang tidak sebelah mata sama kita . Oh.... meskipun papanya menikah lagi , mereka baik baik saja kok.Gitu lho nak.Papa juga biar lebih sehat . Kan gak usah curi waktu dan kesempatan. Biar sehat semua . KIta juga gak kemerungsung terus, piye?"
" mama yakin , ta, gak apa apa?"
" yakin "
" sumpah?!"
" insya Allah !"
" kok insya Allah. Ntar nyesel lho. Kita berhadapan dengan manusia manusia yang suka main hati tapi terus terusan nusuk hati. yakin , ta ma "
" yakin"
" sumpah?!"
" iya.... sumpah "
" yah.... si mama "

2.

Bram tidak setuju dengan ide " pernikahan ".Menurut dia tidak perlu. Nanti malah bikin stress dia. Katanya lagi , urusan dengan Rani tidak pernah sederhana. Menurutku dia muna. Tidak setuju dengan ide ku tapi menjalaninya terus menerus. Menghabiskan waktu dengan bicara di telepon seharian seperti seorang yang lagi kasmaran ( dan memang sedang kasmaran !), selalu berdua kemana mana.Tidak peduli dengan rasanan orang kampung , teman dan saudara. Aku juga yakin dia melakukan zina terus menerus.

Lebih dari tiga bulan aku sengaka tidak pernah mengangkat kepermukaan tupik " pernikahan itu " sampai suatu hari , ketika kami hendak mengantar Rani pulang ke semarang. Dalam perjalanan ke stasiun Pasar turi bram membuka topik itu lagi
" Ran , jare mbak Deka yok opo kalau kita menikah "
hening tidak ada tanggapan. Rani sibuk memencet mencet hpnya dan menelpon koleganya.
" Ran , koen iku di jak ngomong , telpon ae! yok opo Jawabmu!"
"iyo . mas, aku gelem "
Hening lagi. Aku tidak bicara apa apa. Meski ide itu aku yang melontarkan , ternyata ketika Rani mengiyakan , hatiku perih juga.
"Terus yok opo , dek!"
" ya , diurus..." , jawabku dengan perasaan semburat
" Sopo sing ngurus "
" ya kalian , to .Masak aku . mase!"
"ngono ta , Ran ?"
"Iyo , mas "

Malam itu aku tidak bicara apa apa lagi. Bahkan sampai kereta berangkat aku terus menjauh dari mereka berdua. Pasti ada yang ingin mereka bicarakan tanpa aku. Kusibukkan diriku dengan abel dan Alya yang minta diantar ke kamar mandi , minta donut dunkin , minta mainan pedang yang dapat bersinar. sampai duduk dikursi panjang menikmati alunan musik yang di sajikan dengan elektone diteras stasiun dalam itu.
Tak urung juga aku merasakan kepedihan yang menyayat, ketika mataku menangkap adegan , Rani mencium tangan bram sesaat kereta mau berangkat.Ah.... ternyata!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tidak selalu dengan diam kemudian semua jadi beres. Kadang diam malah bikin sengsara. Sekali waktu Bram bisa meledak , marah marah tidak karuan, Bicaranya meracaui dengan piliohan kata kata yang sangat menyakitkan dan buruk. Masalahnya ,kalau sudahj begitu yang terbaik malah diamdan tidak meledeninya . BIsabisa kita dikiramenantang dia dan itu bisa membuatnya lebih marah. Di situasi seperti itu , sebaiknya kita memang diam tetapi rautmuka tidak berkesan memboyakkan apalagi sinis. jadi air muka harus tetap landai dan terkesan mendengarkan juga sedikit takut!.( ini perlu latihan panjang...... dan serius. sebab terkadang kami gagal beraktying seperti itu karena marahnya kepanjangan dan hati sudah terasapenuh dan sebal.Kalau kami bisabertahan , biasanya Bram akan pergi meninggalkan kami. Kamipun tidak boleh buru buru senang..... harus menunggu sampai dia benarbenar pergi!)

Karena tidak pernah dibantahi , bram juga tidak pernah tahu apa yang sedang ada di pikiran istri dan anak anaknya. Menurutnya , yang dia pikirkan itulah yang benar benar terjadi. Itu bisamemicu marahnya terulang lagi.Dengan topik yang sama dan sangat menyebalkan!.Biasanya kalau sudah begini ,kami intens sms. Menjelaskan permasalahan yang sebenarnya. Puluhan kali terkirim tidak akan pernah di balas.Tetapi setidaknya , ia baca dan nanti kalau lagi enak hati dia baca dan pikirkan.

Rani sangat intens menghubungi , bicara dan menelpon Bram. Tentu itu dibandingkan kami yang kalau sudah tahu Bram sedang marah , malah tidak berani mendekat. Rani , sipemberanbi itu memang haruys diacungi jempol. Semakin Bram marah , semakin dia rajin mendekat. Aku mahfum kalau Rani jadi lebih dekat dibandingkan aku. Pendapat pendapatnya jadi sering lebih di dengar dan usul usul nya lebih banyak di kabulkan. Ini membuat kami kadang tambah jauh.....!

Kedekatan yang yang semua orang bisa memastikan akan berujung kemana. Bram mulai memancing rasa pekewuhku. Ia memanfaatkan rasa risihku melihat mereka berdua ke jakarta , ke solo dengan abel dan alya , keyogya , kebali atau tempat tempat yang menyebabkan mereka " harus berdua". Rasatidak enak dan perih bercampurjadi satu. Belum lagi kalau harus berakting " tenang " karena harus menenangkan hati anak anak yang protes terus!.
" gimana ya dik , klau kita nikahkan saja papa itu dengan Rani "
" gendeng , mama iki!"
"lha runtang runtung kayak gitu , malah jadi fitnah dong..."
" Iya , nggilani!"
"kamu juga sudah mulai pacaran.... gimana caranya menyembunyikan story ini , mbak"
" kan gak harus cerita to , mah
"nantinya mereka juga harus tahu , kan "
" iya.... kalau jadi kan ma. kalau masih pacaran dan belum jelas kemana.... ya gakusah cerita"
"emang lebih enak lihat papa seperti itu , dik "
"malu sih.Tapi karena gak bisamelarang ya terus bagaimana. Mama juga... baik baik sama Rani. Kita kan jadi susah juga bersikap "
" dulunya sih demi Abel.... agar dia jugabisa tumbuh dan berkembang dengan baik "
"toh nantinya abeljuga akan tahu , ma. Biarpun sekarang dia baik baik saja dirumah kita ,nantinya dia juga akan muncul muncul pertanyaan pertanyaan, misalnya ,kenapa dia tinggal disini dan mamanya disana. ...."
" ya ,maksudku , biar kalau saatnya dia bertanya tanya itu , dia tidak terlalu kaget gitu!"
" terus... "

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

komunikasi yang macet menyulitkan kami untuk lebih dekat. Pulang dari kantor biasanya sudah malam .Selesai mandi , ia akan terus berada di kamarnya sambil terus menelpon. Diantara banyak telepon , telepon ranilah yang paling sering masuk dan terlibat pembicaraan yang paling lama. Rani juga yang paling tahu apa yang sedang , akan dan apa yang ingin dilakukan Bram. Jelas aaku tidak pernah terlibat dengan pembicaraan serius dengan mereka.

Sekarang , aku bukan saja benar benar tersisih , Aku bahkan sudah dianggap tidak ada. Tololnya aku cuma merasai dan membiarkan semua berlarut. Aku juga merasa tidak penting lagi melibatkan Bram , bahkan ke urusan yang paling kecilpun. Kalau jari itu aku harus mengambil rapot anak anak , misalnya , aku tinggal berangkat saja. Lalu kalau rapot sudah aku terima , ya tidak ada laporan untuk dia. Biasanya dia juga tidak bertanya banyak. Paling paling berapa nilai kamu dan nilai rata rata kelas. kalau anak anak milainya dibawah rata rata kelas dia akan ngomel panjang lebar. Seperti biasanya , kami juga akan cuma mendengarkan dengan takzim dan tidak membahasnya lebih lanjut.

Begitu dinginnya hubungan kami. Karena dinginnya berlarut larut , kami jadi piawai beradaptasi dengan kedinginan itu. Akhirnya , terasa enak saja dengan kondisi itu. Semua terasa biasa saja.Sudah tidak aneh aku dan ke lima anakku itu pergi tanpa keikut sertaan sang si papa. Ke undangan pengantin, pertemuan keluarga , ke mol bahkan kerumah sakit atau melayat kerabat yang meninggal.
Dia tidak pernah pamit kemanapun pergi.Aku juga beradaptasi dengan cepat. Jadi kalau dia datang dari pergi itu dan ternyata baik baik saja.Aku tidak mempertanyakan kepergiannya.

Bohong kalau kami nyaman dengan kondisi ini.Di aku bentuknya memang bukan protes yang menggebu atau kemarahan yang membara. Ayahandaku punya cara yang jitu untuk melampiskan kemarahan hati. Ambil kertas hvs dan spidol besar warna merah. Tulis unek unek dengan spidol itu. Dengan huruf kapital dan tebali. Bahkan caci makipun dihalalkan. potong potong dengan kater, diumel uwel uwel. belum puas , cacah dan injak injak. Setelah itu dibuang. Kurang puas juga?,afdruk fotonya 10R dan coret coret lalu gunting gunting!. Dijamin setelah itu kita bisa menghadapi, bukan cuma dia tetapi juga anak anak dengan energi baru dan bersih.Tanpa marah dan lebih bisa berkata lebih enak untuk di dengar!.

Kesibukan dengan anak anak dan sibuk dengan urusan per pkkan juga banyak menolong para perempuan untuk mengatasi stress di dalam kehidupan. Kita paraperempuan sudah sejak awal di cipta dengan berbagai kemampuan. Kita , bisa mendengarkan radio sambil mengetik makalah. Kita bisa memasak sambil mengasuh anak. Kita pandai menata hati yang jengkel dan resah sambil menina bobokan putra putri kita. Seolah semua punya piktu keluar sendiri sendiri. Bandingkan dengan laki laki yang menangispun tidak bisa karena merasa tidak pantas. Yang jika merasa terpojok malah berteriak teriak membela diri. Yang jika merasa terhina malah membawa parang untuk membunuh. Sebagai perempuan aku merasa lebih beruntung karena punya banyak cara untuk menyelesaikan kemelut dalam hati. Punya air mata yang mampu menghisap semua rasa pedih dan tidak pernah malu untuk datang bersimpuh meminta maaf.

Sejak pengakuannya di acara pemakaman ibu yoyok, aku tidak lagi pernah bicara gayeng dengan bram. Tidak pernah mengajukan usulan atau protes dengan apapun yang dilakukannya. Ia boleh datang dan pergi kapanpun dia mau. Ketika tidak pulangpun , bahkan untuk beberapa hari, saat dia pulang kerumah , aku juga tidak menanyakan tentang kepergiannya itu. Aku merasa dia tidak nyaman setiap berdekatan denganku. jadi akupun tidak mendekat padanya.Menurutku , dia juga tidak suka aku ikut pergi dia. Jadi akupun tifak pernah ikut kemanapun dia pergi. Ketika hari raya dan dia memutuskan pulang ke palembang, dan dia tidak bicara apa apa padaku, maka akupun memilih tidak menanyakan dan ikut dia.
Ini perang dingin.Ya ini perang dingin. Sudah tidak ada lagi permainan siapa memiliki siapa. Aku juga cuma teman hidup yang bisa dia lupakan kapanpun dia mau. Aku tidak lagi perlu sakit hati. Ini pilihan hati. Ketika dia diam. Aku juga diam saja. Diam juga bisa jadi memiliki kebebasan yang tak terbatas. Karena dengan diam , aku bisa berteriak dengan lantang tanpa menyakiti seseorang.

Kondisi kami gambarannya seperti ini. kami sedang mengendarai kendaraan , kami harus menyeberangi sebuah jembatan dan kami berada di dua kutub yangberbeda. Ia berada di arah utara dan hendak keselatan sedang aku ada di ujung selatan dan bermaksud ke utara. Tidak ada salah satu dari kami yang menyingkir kesamping dan membiarkan salah satu lewat lebih dulu agar kitapun bisa melewati jembatan itu dan bisa sampai ke tujuan. Jadi mandek dan fakum.
Aku faham ini suatu kebodohan.Dan aku memilih jadi si bodoh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Abel makin mahfum dengan mamanya. Dia sudah hafal dengan suara dan kebiasaan mamanya. Dia misalnya sangat tahu kapan harus mendekat dengan mama Rani dan kapan harus mendekat dengan mama Deka. Naluri keanakannya , terlatih.
Kalau kami sedang berjalan bertiga atau berempat ,kalau ia butuh kekamar kecil atau ingin makan ice cream atau roty boy ia akan langsung memegang tanganku, menariknya sampai ke counter yang dituju. Ia tahu aku tidak akan menolak keinginannya. Tapi kalau ia ingin mainan yang lumayan mahal ( diatas harga 150 ribu ) atau baju cantik punya barbie , dia tahu yang digandeng harus tangan mama Raninya.

Memang bisa ditebak , Abel makin dekat dengna mamanya. papanya juga makin dekat dengan mamanya. Sepertinya aku tinggal menghitung hari , biduk dengan layar yang sudah terkembang ini akan sampai dan bersandar di pelabuhan mana.Seperti apa kondisi biduk ini ketika berlabuhpun makin tergambar jelas.Rani , abel dan Bram makin tak terpisahkan.Tidak ada satupun masalhpun yang menyangkut abel atau Rani atau Bram yang tidak melibatkan kami semua.
misalnya,Ketika eyang solonya ingin melihat sudah seberapa besar Abel sekarang , aku harus menyiapkan mereka untuk pergi mengunjunginya. Aku juga berkembang makin resek dan mau tahu apa saja yang mereka lakukan disana. (kadang malah sangat kelihatan dan tidak bisa disimpan cukup dalam hati)
dari cerita Abel dan Alya , mereka ke borobudur misdalnya. Menginap di hotel dan tidak di rumah eyang solonya. Sekamar berempat?. Ambil yang twin? siapa tidur dengan siapa?.Alah.... benar benar merusak hati.
" tidak usah main hati , ma" usul ade
" iya !" kataku. Tapi ternyata sangat sulit dan selalu gagal.
" gak usah dipikir , to" usul anakkku yang lain
" iya !" jawabku .Ternyata sangat sulit dijalani dan selalu gagal .
" harus satu pikiran dan tindakan , ma" kata bungsuku
" iya!" aku akan lakukan itu.Dan selalu gagal.
Artinya , selalu ada rasa sakit yang muncul dan untuk menghilangkannya aku butuh lebih banyak hari,lebih banyak air mata dan lebih banyak energi. Gebleknya tidak aku komunuikasikan dengan Bram. Jatuh bangun aku mempertahankan hati agar bisa ikhlas. Aku jelas makin tersisih. atau yang benar , merasa tersisih. Sebab belum tentu mereka menyisihkanku bukan?. kami memang tidak pernah bicara soal siapa menyisihkan siapa. Semua kami biarkan berlangsung terus.... mengalir.

Komunikasiku dengan Bram macet total. Aku tidak bisa bercerita tentang apapun yang menyangkut diriku , perasaanku dan harapanku. Obrolan kami terbatas tentang apa yang "harus dilakukan " . Apa lagi yang m,enyangkut pembeayaan. Yang ia ingin tahu cuma berapa jumlahnya dan kapan pembayaran terakhir. Ini sebetulnya asyik. Sebab untuk yang satu itu kami tidak diribetkan sama sekali. Mau tes dimana , mau daftar apa , mau bayar apa , tinggal mengajukan ke papa dan papa akan memberitahukan kapan dananya bisa cair.

Kadang Bram juga protes.Ia merasa seperti kuda perasan. Biasanya kami tidak membantah. Itu akan muncul setiap kali dia stress dengan pekerjaannya atau merasa dia cuma berkutat dengan Rani dan segala permasalahnnya , merasa tidak banyak terlibat dengan anak anak atau ketika tiba tiba dia merasa kesepian dan jauh dengan anak anaknya.Mungkin kecuali dengan aku! ( kasihan ya aku!)entahlah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS