alah, sebetulnya aku juga faham bahwa tidak ada cerita yang semaunya terjadi. Mengalir begitu saja. Semua yang ada dalam hidup kita sesungguhnya adalah suatu petualangan yang mengagumkan.Semua dalam genggamanNya dan juga senantiasa dipantaunya. Tidak ada hal terlewatkan , meski sekecil zahra.Sebagaimana Ia mengatur kita sebelum kita ada, Ia juga mengatur kita setelah kita ada. Maka barangkali, bijaksana untuk selalu jadi seperti yang dikehendakiNya, agar kitapun mendapatkanNya seperti yang kita kehendaki.
Hari hari selanjutnya, jelas bukan hari yang mudah. Rani selalu ingin bertemu anaknya dan aku tidak peduli dengan keinginannya. Jujur aku gelisah menjalani hidup macam ini. Ada sisi hati yang menjuluikiku sebagai orang yang "tidak punya perasaaan", bahkan kejam. Apalagi kalau ingat bayi itu tidak salah apa apa. lagi pula aku juga mau apa dengan Abel?. Anakku sendiri sudah empat. yang paling kecil, Alya , sudah berumur 2 tahun. Mestinya aku sekarang bisa tidur malam lebih panjang karena tidak lagi terlalu banyak diganggu. Lha, sekarang malah cari pekerjaan lagi. Tapi itulah, aku ngeyel tetap mempertahankan Abel( tidak jelas untuk apa). dan jadi lebih jahat dan jadi pintar mengelak. Amran sampai memohon mohon supaya Rani boleh menemui anaknya. Kadang tanpa kompromi , tiba tiba saja Rani sudah ada di kantor kami , di hotel simpang dan Amran minta aku menjemput Abel agarmereka bisa jalan jalan bersama ke Tunjungan Plaza , yang dari kantor kami cuma berjarak ratusan meter saja itu.Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak lagi.
Meski tidak yakin Amran akan berpihak padaku , permusuhan tetap berlangsung. Kami , dua orang perempuan yang sama sama sudah gila. Bagaimana tidak , meski aku sadar , bahwa kalaupun aku minta suamiku itu memilih diantara kami , ia tidak akan memilih aku ( oh sedihnya), aku bersikeras dengan ide awal bahwa ibu dan anak itu tidak boleh bertemu. Padahal, kalau toh Abel sudah besar , ia juga kan mencari ibunya.Apalagi Rani dan Amran kan tetap terus berhubungan.Barangkali Rani juga berpikir bahwa suatu saat Amran alan jadi miliknya seutuhnya. Apalagi kalau Abel bisa ada di dia , perjalanan untuk itu pasti lebih lancar nantinya.
makin lama aku makin tidak yakin dengan sikapku itu. Rasa berdosa karena memutuskan tali silaturrahmi ibu dan anak sangat sering menyerangku. lagi lagi aku tidak bisa mengkomunikasikan pada Amran . Aku tidak sanggup melihat wajah bahagianya kalau aku mencabut larangan itu. ranipun pasti makin besar kepala.Pedih rasanya, tapi aku tak ingin membahasnya. jadi aku cuma berdiam diri saja.
Sepertinya Rani juga sudah bosan minta minta pada Amran untuk merayuku. Oktober 2004,Abel masuk rumah sakit Darmo setelah dua hari menghilang dari rumah. Saat diambil ibunya, Abel memang sedang Diare. Mungkin karena rewel , dia tidak mau minum susu dan makan , terus menangis karena bingung dengan kondisinya. bayi itu mungkin Stress dan ibunya sangat bingung. Amannya , Ia opname di rumah sakit.
Meski aku tahu Abel ada di rumah sakit , aku sengaja tidak menengoknya. Aku juga tidak peduli dengan permintaan Amran, agar akumau menemui Abel.Teman teman rani yang datang menjenguk , juga memintaku untk datang ke rumah sakit." sakno, mbak.Abel nangis terus. Sing di celuki sampeyan....", kata mereka. Aku tetap bertahan untuk tidak datang. Padahal , setiap malam aku gelisah dan tidak bisa tidur. Aku takut Abel mati!.
Alya bikin ulah , beberapa hari ini dia sering duduk di pojok kamar sambil menangis.Dia ingin bertemu dengan adiknya . Ini jelas membuat pertahananku hancur.
" gak ngono sih , dek. Koen iku jik gelem ta ngurus Abel!", tanya Amran dengan suara keras."alah , mase , harusnya kamu itu kan merayu aku , gitu. kamu sangat butuh pertolonganku kan.... mbok ada manis manise ngono pok-o cak!", kataku dalam hati.
"kamu kuatir ta....."
" Abel iku iso mati. Tahu kamu!"
" gak usah di dramatisir ta... Abel itu ada di mama kandungnya, dekat dengan banyak dokter spesialis. Apanya yang ditakutkan. Dia aman kok"
" matamu!"
Oh.... luput suwuk tenan. Kok ada ya orang nggatheli ( maaf) kayak gitu.Gusti..... pasti banyak dosaku , sampai engkau pilih aku bersuamikan laki laki seperti itu.Atau ini proyek suargo.Sedih banget aku!
Paginya aku ke rumah sakit dengan Alya. Rasanya tidak ada artinya aku bertahan seperti itu. Aku cuma ingin dikenang Abel sebagai ibu yang baik. Cukup dia saja. Tidak untuk yang lain.
Begitu bertemu , Alya langsung naik ke tempat tidur Abel. Mereka berangkulan , seolah sudah tidak bertemu bertahun tahun. Abel terus berteriak teriak senang. pagi itu , mereka berdua bahkan bisa menghabiskan dua mangkok bubur mc D yang kami bawa.
Sorenya , aku minta ijin untuk membawa pulang. karena hari itu Minggu dan bag administrasi sudah tutup , kami meninggalkan sejumlah uang dan mengurus kekurangannya esok hari.Berempat kami naik taksi. Rani turun di tempat kos lamanya ,kami bertiga langsung pulang kerumah.
04.13 |





