RSS

keputusan untuk berdamai membawa banyak perubahan. Pertama yang kurasakan hatiku jadi terasa lapang. Ada perasaan lega yang sulit diterangkan dengan kata kata. Kepalaku terasa ringan. Rasanya seperti habis membawabeban berat dan sekarang beban itu kuturunkan.Ploong!.

setelah ini akan banyak yang harus direlakan untuk dijalani bersama. MIsalnya , Rani boleh kapan saja kerumah untuk menjenguk , mengajak atau merencanakan sesuatu untuk anaknya. Aku tidak boleh kompline!. Bisa jadi hubungan kami makin dekat karena jelas akan banyak hal yang harus kami lakukan bersamasama demi kelancaran hubungan ibu anak itu.Dikemudian hari , bisasaja hubungannya denga Braaam akan makin dekat. Sampai di sini hatiku kembali terasa perih.... dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang setidaknya tidak hari ini.

membuktikan diri bahwaaku serius denga keputrusan itu , setip pagi aku mengajari Abeluntuk telpon mamanya. "Obrolan dipagihari " ini sepertinya mengasyikkan. Abel belajarmengenal suaraibunya dan Rani belajar mendengar suara anaknya. Mereka berdua sedang belajar menyambung tali siulaturrahmi ibu dan anak.
saat ini ,Abel berusia 22 bulan.Momen yang pas. Ia sedang suka menempelkan apa saja ditelinga dan menjadikannya seperti HP.Ia bicara apa saja. Bahkan kadang dia menyanyi dengan irama yang tidak jelas. Bicara yang tidak jelas. Lucu!.Badannya yang bontet dengan potongan rambut ngebob di bawah telinganga, ia betul betul terlihat bundar.Bontet!.
Rani juga sepertinya menahan hati. Ia tidak berani telepon duluan kalau aku tidak telepon. Aku berharap dia memang sedang menahan hati sebab kalau tidak itu berarti dia memang cuek terhadap anaknya.Itu berarti ,usahanya untuk bertemu anaknya sampai harus " menculiknya " bukan didasari oleh "cinta setengah mati psadaAbel" tetapi cuma ingin uji nyali dan mengganggu. Target utamanya cuma "bram". Itu cara dia mengetahui ada dipihak mana Bram itu.

Bram sendiri tidak bertanya apa apa. Aku tahu , ia sudah mendengar semuanya dari Rani. Bahkan lebih lengkap. Aku juga tidak berniatmengabarinya tentang ini. Diam diam aku juga kesal dengan sikapnya. Dia memang tidak suka bermain hati. Dia tidak suka melihat kami menangis atau tertawa terbahak bahak. baginya ini momen biasaaaaasaja. Tidak perlu di dramatisir. Abelmemang anaknya Rani. Jadi kalau sekarang Rani bisa bersama anaknya , ya itu wajardan manusiawi. Tidak ada yang istimewa.
Pedih juga direspon seperti ini.Karena menurutku , ia bukan saja tidakpeduli dengan kemajuan hubungan ini . tetapi ia sama sekali tidakmenganggapku , membiarkan lukaku terbuka dan menganga basah.Membiarkan aku mencari sendiri penutup dan pemulih luka.Ia sama sekali tidak peduli dengan kedaanku. Dia menganggap semua biasabiasa saja.Dia main yakin saja ,bahwa aku akan baikbaik saja.
Dulu ketika dia mengakui kalau Abel itu anaknya , ia juga yakin kalau itu tidak akan melukaiku atau akan menyebabkan aku bunuh diri atau membawa parang dan mengancamnya.Ia bahkan belum pernahminta maaf karena telah wan prestasi terhadap perjanjian pernikahan kami. Ia tidak melakukan aksi apa apa. Ia membiarkan kami mersasaimsemua sendiri.Ia sama sekali tidak pernah membahasnya. Barangkali , baginya ini tidakterlalu penting kecuali sebagai bagian darikehidupan yang harus dilalui.
Rani , setali tiga uang.Sama saja. Ia belum pernah minta maaf karena masuk kedalam lingkaran rumah tanggaku. Ia curang dan berkhianat. Ia juga tidak pernah berterima kasih karena aku telah merawat abel dan tidak meracuninya. Ia juga menganggap semua ini biasa biasa saja. emh..... andai sekal isekali dia melihat acara patroli jam 12 siang di RCTI. Biar dia tahu bahwa perempuan2 pengkhianat itu adayang di mutilasi atau di rajah wajahnya. Jadi dia bisa bersyukur kalau sampai saat ini dia baikbaik saja. Tidak dicaci maki atau wajah nya tetap ayu dan tidak mengelupas karena disiram air raksa!
Aku sendiri tidak ingin membahas dengan mereka berdua. Aku yakin semua akan percuma saja.aku juga tidak ingin jadi pecundang!. Mereka tidak punya hati lagi. Tidak suka bermain hati.Kalau yang aku inginkan , Bram bersimpu dan minta maaf. Mengakui kersalahannya atau barangkali menyediakan konpensasi buat aku. Diam diam aku malah berfikir ... itu barangkali cara mereka mengatasi perih hati mereka.Aku yakin , ia tidak bisa menikmatinya selamanya. Suatu hari nanti , suatu saat nanti ...... mereka akan dibuat gelisah oleh semua sikapmereka. Aku memutuskan diri untuk menjadi pendengar dan pengamat saja. jujur aku berharap , mereka tersiksa setiap melihatku. bah!

7

Ulang tahun kedua bagi abel, 12 Desember 2004.Hari ini untuk pertama kali ibu dan anak akan bertemu.
sejak seminggu yang lalu , aku mulai mengajarkan bagaimana Abel harus bersikap manis , menyapa ibunya seperti kalau didalam telepon. Sudah sebulan ini dia bisabicara bahwa mamanya adadua. Mama Rani dan mama Deka.Dikepalanya mungkin itu cuma sebuah kata tanpa makna apa apa.Tapi kalau ditanya siapa saja , dia bisa menjawab seperti itu.

Pagi ini Rani berangkat dari semarang jam 7.30. Dengan pesawat mandala , setengah jam kemudian dia sudah akan sampai diSurabaya.Jarak rumah kami dengan lanuda Juanda sekitar setengah jam jika ditempuh dengan taksi.
Sudah sejak pagi Abel mandi dan berpakaian rapi.Kami duduk diteras rumah kami untuk menyambut mamanya. Sepanjang kami menunggu , aku mengajari abel apa yang harus dilakukannya jika mamanya datang.Meski dia menjawab "ya" terus, tapi sepertinya dia tidak akan melaksanakan petunjuk itu karena setiap kali dia selalu menyela nya dengan berkata " hah , apa?!".Wah kayaknya dia belum faham bahwa ini momen istimewa dalam hidupnya.
Aku sendiri panas dingin menungguinya. Pagi ini untuk pertama kali kami akan bertemu tidak sebagai " sateru ".

Keika ada taksi bluebird berhenti didepan rumah , aku segera menggandeng Abel untukmendekatinya. Rani turun dengan membawa boneka kodok besar warna hijau lembut. Itu hadiah ulang tahun Abel pertama darinya. Mukakami sama tegangnya. Aku bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama. Dan benar.... abel curang. Dia memegangi celana panjangku dari belakang. Dia tidak mau bersalaman dengan ammanya. Jadi aku main paksa. Tangannya ku tarik dan badannya ku sorongkan ke mamanya. Rani beroingkok sambil berusaha memeluknya.Abel berkelit dan lari.

Suasananya memang kaku. Sejenakkami diam karena tidak tahu harus berbincang tentang apa. Kubiarkan dia di ruang keluarga bersama Abel.Aku naik keatas membangunkan Bram yang aku yakin cuma cuma pura pura tidur karena bingung harus bersikap apa.Ia memilih tiduran karena dengan itu dia tidakusah berpikir harus memasang raut wajah seperti apa sebaiknya.Aslinya sih dia senang!aku yakin itu. Yang dia pikirkan cuma dirinya sendiri. Baginya, aku ini , sampai hari ini adalah pihak yang harus tetap tidak bikin masalah. Harus tetap bersikap bijak dan santun.Sialan!
" ada mbakRani," kataku sambil mengetok pintu kamarnya
" iyo "sahutnya dari dalam.Meski suaranya seperti bangun tidur, aku yakin dia memasang telinga sepanjang pagi ini untuk tahu Rani sudah datang atau belum.Dia cuma pura pura cuek.Aku tahu pasti kemarin mereka sudah ngomong panjang lebar bahkan strata menghadapi aku dan Abel. Dasar!

Aku kembali kebawah. Disana cuma adaRani yang sedang nonton TV. Abel sudah melarikan diri dan main dengan buk Su , pembantu kami.
" pak Amran lagi mandi , mbak"
" oh iya mbak"
kami sama sama pelit omongan. Aku kedapur membuat minuman untuknya lalu membawanya keruangan.
" diminum mbak, pak amran lagi mandi!"
" ya ,mbak"
" mbak , sambil nunggu pak amran ya , aku mau jemput alya dulu "
" iyo ,mbak "

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS