RSS

seri kekais cinta

sampai di rumah, kresek merah itu aku bongkar. Aku keluarkan semua isinya." wadow! gendeng arek iki". Isinya, lima kaleng susu bayi Nan , tujuh stel baju. Dua botol susu dan satu mainan Abel. wah , serius juga rencana minggatnya ( sedih sekali setiap kali menggunakan kata itu!). Cekatan juga dia ya , beringkas barang barang Abel untuk dibawa pergi. Ini pasti Buk Su yang kelamaan dandannya. Pasti pakai acara mandi dulu.
Aku jadi tertawa dalam hati. Ada juga rasa kasihan pada dua perempuan itu. Kwbayang juga betapa gugupnya Rani ketika memutuskan membawa Abel untuk pergi. Alah.... ada ada saja. Mengambil Anak sendiri memang bukan termasuk pencurian. Jadi kenapa harus ketakutan seperti itu. Lagi pula , masak iya sih , aku akan segarang itu?.Nggak lah!.

Abel asyik main dengan alya dan buk Su. Trauma gak ya, pikirku dalam hati. Diam diam aku memperhatikan tingkah Abel seharian itu.Kekerasan , betapapun kecilnya , jika dilakukan dengan serius akan meninggalkan jejak di jiwa. itu sebabnya nabiku marah ketika Fatimah mengambil anaknya dengan kasar dari tangan kakeknya lantaran ia mengencingi gamis sang kakek. kata nabiku " kencing ini bisa dibersihkan Fat,tapi caramu mengambil ia dengan kasar tadi akan meninggalkan luka dihatinya dan itu tidak bisa dibersihkan....... ".
Aku berharap , Abel akan baik baik saja. Semua anak didunia ini pernah merasakan kekasaran ibunya. Entah itu berupa kemarahan yang tidak jelas juntrungannya atau sikap sewenang wenang yang tidak sadar dilakukan atau hal hal yang memang tidak ditujukan untuk menyakiti tetapi hasilnya membuat mereka sedih dan kesal. Tapi itulah...... anak anak akan terus tumbuh. Luka yang tidak bisa dihapus itupun akan terekam sepanjang hidup dan barangkali akan mempengaruhi prilaku mereka dimasa yang akan datang.
Aku yakin.... kenapa anak anak terus sangat cinta pada ibunya , itu pasti karena kasih ibu memang sepanjang jalan. Kasihnya lebih panjang dari pada marahnya. Para ibu punya maaf yang tidak pernah habis. Di dalam tubuhnya ada organ yang namanya rahim, sama dengan sifat Tuhanku, Arrahim , sang maha penyayang.Sepanjang hidup , ibu , adalah mahluk yang sangat penyayang , pemerhati , melindungi dan terus mengkhatirkan anaknya. Hubungan anak dan ibu itu sangat unik. Di keduanya , terhimpun segala kekaguman dan semangat. Semua anak , mengagumi ibunya. Semua ibu , mengagumi anaknya.
Ibulah yang selalu rela berbagi tempat , makanan dan segala yang dia punya dengan sang anak. Bahkan sampai ketika ia tidak punya apa apa yang dianggap berharga kecuali nyawanya , ia rela memberikannya. Doanya tidak pernah putus untuk mereka. Ia terus melakukan itu , meski mungkin sang anak tidak sedang peduli padanya.
Ibu itu tempat segala hormat mestinya,
ibu itu tempat segala cinta , mestinya,
ibu itu tempat segala perjuangan, harusnya.
Dan seperti aku , Rani juga seorang ibu. Dibuku hariannya , ia pasti menulis dengan huruf besar besar tentang perjuangannya memperoleh kembali Abel, anaknya itu. Baginya itu pasti pengorbanan seperti pengorbanan untuk hidup dan mati. Kelak juga ia kan bercerita bagaimana ia telah berjuang untuk menjadi ibu. Tuhan.... catatlah itu sebagai perjuangannya.Agar ia juga jadi ibu yang mulia dimata anaknya.Juga dihadapanMu.

Ada yang berubah dengan Abel. Ia takut ditinggal sendiri. Sedikit lama kami meninggalkannya sendiri , ia sudah berteriak teriak histeris. kalau sudah begitu , ia perlu didekap lama sekali. Sampai dia yakin , kami ada untuknya dan dia akan baik baik saja.
Amran dan Rani tidak berubah sikap. Selain mereka tidak mengucapkan terima kasih karena semua jadi baik baik lagi, mereka tetap lengket seperti perangko. Aku tetap tidak membolehkan Rani mengunjungi anaknya. Kayaknya , aku cuma ingin menjaga hatiku sendiri.

4.
Ada perkembangan baru tentang pekerjaan Amran. Ia sekarang bahkan di percaya untuk memegang KCP Bali Air Semarang. Jadi begini rencananya. Untuk yang Semarang , Rani yang pegang dan Surabaya , aku ikut terlibat menanganinya. Terutama mengurusi keuangannya.Dengan begitu Amran bisa tetap fokus ke program membership hotelnya.

Persiapan untuk kantor Semarang memang perlu secepatnya. Bali Air cuma memberi kami waktu duaminggu unutk melaksanakan semua persiapan sampai ke acara penerbangan perdananya. Tidak ada alasan untuk marah karena Amran harus tinggal lama di Semarang. Itu demi pekerjaannya. Yang menyebalkan cuma diatidak pernah kontak aku. Bisa ya , tidak mendengar kabar dari aku sama sekali. Di teleponpun tidak diangkat. Jujur , itu kelakuan lama. Ia memang tidak terbiasa memberi kabar tentang apa yang dia lakukan. Dia juga sangat terniasa tidak bertanya ada apa dengan kami yang di tinggalkannya. Bahkan kalau sedang tidak pergipun , tidak pernah dia pergi dengan pamit dan memberi tahu kemana dia pergi. Di keluarganya memang seperti itu. Seolah tidak penting kamu pergi kemana , asal kamu baik baik saja. aku juga membiasakan diri tidak mempersoalkan " keharusan dia pamit jika akan pergi". Jadi sebetulnya , kalau sekarang aku sedih karena ia tiba tiba seperti " hilang " . aku yakin itu karena ia punya kebiasaan baru selalu pamit Rani kemanapun ia pergi dan Rani punya kebiasan untuk selalu memberi tahukan kemanapundan apapun yang sedang dia kerjakan.Pasti aku cemburu!.Merasa di abaikan!.( bukan cuma merasa ya... memang sudah diabaikan!).

Komunikasi!. Itu barang langka dalam hidup kami. Jadi benerlah apa kata semua orang .... yang penting komunikasi.Kami tidak punya itu.Ketika aku menyadari , Amran makin dekat dengan Rani , aku juga tidak bisa membicarakannya. Ketika aku curiga Abel itu anaknya , aku juga tidak bisa membicarakannya dengan dia. Ketika ia akhirnya mengkui Abel itu anaknya , aku juga tidak bisa mendiskusikan dengannya .Apalagi marah dan mencak mencak atau protes dengan mengacung acungkan parang , misalnya. Bicara saja aku tidak bisa( padahal aku ini tukang ceramah, pemenang lomba kader posyandu tingkat jawa timur dan pembicara dipertemuan pertemuan.!) Semua terbiarkan begitu saja. Bagaimana akhirnya episode ini , seolah tanpa skenario. Ia mengalir apa adanya. Semaunya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS