RSS

3

malam ini kukirim sms untuk 15 orang temanku " pinta lah kebutuhan yang paling mendesak. Ia maha memberi dan maha menepati janji, Ia tidak suka kita minta pada yang lain.Siapapun kita "

Yang kubutuhkan , adalah kemampuan menata hati. Pagi ini , kami akan menjalani sidang berkenaan permohonan poligami Bram di kantor pengadilan agama Sidoarjo. kami berangkat berlima. Aku,bram, Rani , Zaenal dan Anton. Dua nama yang terakhir itu sebagai saksi dipersidangan kami.

Begitu turun dari mobil , aku merasakan badanku panas dingin. Tidak jelas yang kurasakan. Sedih bercampur gamang. Aku terus melangkah masuk ke gedung pengadilan Agama itu. Menyerahkan surat panggilan ke bag administrasi lalu mengambil tempat duduk di ruang tunggu. Sebentar kenudian mereka berempat menyusulku duduk di ruangan itu.
Ruagan itu terbuka , berisi deretan kursi panjang. Ada sekitar sua puluh lima kirsi berukuran 2,5 meter. Semuanya penuh.

Perasaan sedihku sedikit sedikit berkurang. Aku tidak sendiri disana. Meski masalah kami berbeda , tetapi yang hadir disana semuanya adalah mereka yang punya masalah rumah tangga.
Aku duduk bersebelahan dengan Rani. Tapi sengaja ku irit bicara. Selain tidak enak dengan beliau yang duduk disebelah kiriku , rasanya memang tidak pantas di ruang yang penuh dengan orang bermasalah , ngobrol bukan?.

Yang dipamggil duluan untuk masuk ruangan , aku dan Bram. Yang di sebut ruang sidang itu ternyata tidak lebih dari ruangan yang berukuran empat meter kali empat meter.Meja hakim dan paniteranya memanjang dan bertaplak hijau. yang istimewa kursi2nya. Berukir dan sandarannya tinggi. Aku jadi sedikit ingin tertawa karena dibenakku ruangan itu mestinya lebih besar dan seram seperti yang sering nampak di layar televisi.Ternyata hanya seperti ruangan rapat di RW kami saja.Yang membuat suasana agak kaku dan tegang , selain karena kursinya yang bersamdaran tinggi , karena petugas pengadilannya mengenakan jubah hitam itu.

Pertama mereka mengecek identitas diri kami masing masing. Dan tujuan sidang pagi itu.Lalu ibu hakim dan wakilnya bergantian mengajukan pertanyaan.
" jadi ibu yakin mengijinkan bapak untuk menikah lagi?"
" Yakin bu hakim," jawabku sedikit bergetar. Badanku mulai panas dingin lagi, " saya yakin." kataku mengulangi jawabanku sambil menganggukkan kepala.
" ikhlas ya , bu "
" Iya "
"Ibu bisa memberi alasannya"
"Untuk kebaikan kami semua"
Ketika pertanyaan yang sama diajukan ke Bram , ia mengatakan kepada bu Hakim bahwa ia bermaksud menikah lagi karena aku sudah sepuluh rahun tidak mau tidur dengan dia. Pernyataannya itu ku iyakan, Sebetulnya sedih juga dia bicara begitu. Itu kan sama dengan " membebankan kesalahan cuma padaku "
" lha , kenapa iobu tidak mau tidur dengan bapak ?"
" karena... tidak ingin "
"Kalau toh mau , ya kayak gedebok gitu bu ," sahut Bram.
Subhanalloh. Laki laki ini tega ya , bilang begitu. Setengah mati aku menahan tangis. Kalau ikhlas , tidak boleh ada airmata.Itu tekatku. Dan aku tidak menangis , meski terasa perih dan mataku terasa berair.Aku terus berzikir. Tidak boleh menangis! tidak boleh!.
Lalu , Rani dipanggil masuk.Beberapa pertanyaan yang sama diajukan kepadanya.
" sudah lama kenal pakAmran?"
' Sudah sepuluh tahunan , bu "
" tahu kalau pak bram sudah punya istri dan empat orang anak"
" sudah , bu"
" itu artinya bapak nantinya harus berbagi apa saja, seperti pendapatan , waktu dan perhatian dengan bu deka dan putranya juga anda "
"iya , bu "
"Sudah lama pacaran dengan pak bram?"
" sudah , bu "
" sudah pernah tidur bersama?"
" sering "
Subhanalloh , subhanalloh, subhanalloh,subhanalloh............
"tahu kenapa pak Bram berpoligami?"
" tahu , bu , karena bu deka tidak mau tidur dengan bapak."
" sudah punya anak?"
" sudah "
" sekarang dibawa?"
" tidak , tinggal dengan bu Deka "
" Oh.... "
Lalu Anton dan Zaenal masuk , bercerita tentang yang mereka tahu perihal hubunganku dan Bram. Intinya mereka mau mencocokkan data saja.
Ketika palu di ketok dan aku harus menandatangani surat berita acara , aku tidak gemetar sama sekali. Aku yakin langkahku tidak salah. Bram dan Rani bukan orang yang bisa kujadikan sandaran, Caranya membicarakanku yang tidak menghargai niat baikku dan membebankan semua yang " buruk " atasku membuatku sadar , aku pantas mengikhlaskannya.

Didalam mobil yang membawa kami pulang , mereka berempat malah membicarakan jalannya sidang tadi dengan gayeng. Tertawa dan mengomentari pertanyaan hakimnya. Mereka bahkan tidak sadar bahwa selama perjalanan aku cuma diam dan menahan perih karena merasa tersingkir.Merasa sendirian.
Ia bukan sandaran hatiku.
Gusti Allah ,aku cinta padamu,
Aku cinta padamu,
aku,
cinta.
padamu.

"
'

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS