ibu mertuaku menangis ditelepon. " aku cuma tahu kamu " katanya," berapapun bini momok aku cuma tahu di kamu" katanya sambil sesenggukan. Jujur ada rasa senang di hatiku. Ia berpihak padaku. " mamak , kami mencoba ikhlas.Juga yakin nantinya bisa ikhlas. Mamak jangan menangis. di doakan saja , semua baik baik "jawabku mencoba menenangkannya.Ini memang sedikit muna. Aku diam diam , entah bagian mana dalam hatiku , ada juga keinginan agar Bram tidak menjalani poligami. tapi kesepakatan itu telah di tetapkan menjadi sesuatu yang harus dijalankan. Setidaknya karena " sudah" ada Abel. Ia selalu akan ada diantara kami.Baik ketika kami bersama atau tidak.
sebenarnya justru sejak itu aku dan Bram tidak pernah lagi membicarakan rencana poligami itu.kami malah tidak saling menanyakan perkembangannya. Aku membiarkan dia mengurus persiapannya menikahi Rani.Sampai suatu kali Bram menyampaikannya keinginannya yang agak aneh,setidaknya menurutku.Dia ingin menikah di Surabaya.
Gila! bener bener gila laki laki ini. Sudah tahu kami semua tinggal di surabaya ,kok malah menikahnya di Surabaya. Gendeng! gak duwe perasaan!. Hatiku malah mengumpat: binatang kau !
Aku tidak mengucapkan kata sepatahpun. Yang begini ini kan tidak usah dijawab.
entah bagaimana nego mereka , hasil akhirnya mereka menikah di Solo. Rumah ibunya. Itupun " barangkali".Aku tidak menanyainya. Juga tidak ingin tahun kapan tepatnya mereka menikah. Malam itu ketika Bram dengan suara agak sedih menanyakan , apa dia harus sendirian pergi kepernikahannya, aku tidak menjawabnya.Dalam hati kami yakin dia sudah tahu bahwa tidak mungkin , karena kami setuju, lalu kami akan mengantarnya untuk pergi menikah.Apalagi kalau harus meminta bapak dan ibunya datang kepernikahannya.Itu sangat tidak mungkin.Beliau sudah sangat tua dan tempat tinggal beliau jauh di Palembang.
Tuhan,
aku milikmu
tatalah segalanya untukku
aku cuma bersandar padaMu
cuma
kepadaMu.





