Tiga anak lahir , di lima tahun pertama perkawinan kami. Ini merepotkan .Juga memalukan. Terutama karena aku ini kader Posyandu .Team suksesnya "keluarga berencana", malah hampir setiap tahun melahirkan.
Dengan tiga balita dalam kurun waktu yang sama jelas bukan pekerjaan yang ringan. Terutama kalau ada yang sakit diantara mereka. Sangat sering kami harus berangkat ke puskesmas atau rumah sakit.Hampir setiap bulan , mereka ada yang sakit. Jadi jarang setelah mereka diatas usia tiga tahun.
Banyak hal lucu , soal kerumah sakit itu.
Permah karema harus menggendong dan juga menuntun yang satunya , aku hampir kehilangan anakku. Saat itu kami harus naik Bemo menuju rumah sakit Islam, yang kira kira berjarak lima kilo dari rumah kami. Anak sulungku aku suruh naik duluan dan aku mengurusi adiknya yang masih dibawah. Eh... bemonya berangkat. Si sulung berteriak teriak ketakutan sambil berteriak teriak memanggilku. Aku yang karena panik juga berteriak teriak ... aduw.... panik. Ketika akhirmya sopir menghentikan bemonya , aku hampir kehilangan kendali. Pengen misuh misuh!.
Ada saat mereka sangat mudah diurus. Apapun baju yang kuambil mereka pakai. Apapun yang ku olah . mereka makan, apapun yang ku katakan mereka turuti. Saat sangat gila juga sangat sering terjadi. Saat mereka bertiga bertengkar berebut aku atau saling berebut mainan.Suara lembutku berubag lengkingan dan mereka tetap tidak peduli.
Sekarang yang sulung sudah lulus S1, Siadik sudah semester 3 dan yang nomer tiga di semester awal. Mereka sudah remaja. Kadang sangat kritis meski pada mak sendiri. Punya banyak ke inginan dan selalu punya kejutan untuk PR maknya.Ada yang sama ingin mereka matikan dari kebiasaanku.Istilah mereka " harus di delete " . Mereka tidak ingin mewarisi " sikap itu" apa lagi melstarikannya. Hoho, iso opo?.
Yang ingin mereka " delete " itu adalah sikap tidak bisa bilang " tidak"ku.
April kemarin, ketika maduku melahirkan anak keduanya, si papa memintaku untuk datang menjenguknya di semarang. Lalu , aku merayu anak anakku untuk datang rame rame kesana. Akhirnya,Kami berangkat berlima karena papa sudah lebih duluan disana.Cuma sulungku yang tidak ikut. Ia sedang berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan skripsinya gar bisa ikut wisuda di bulan september juga karena harus tetap harus mengerjakan tugas di EF tempat dia bekerja.
Apa salahnya bersilaturrahmi? toh sekarang kami sudah jadi keluarga " besar ".Lagi pula apapun kita , dalam kondisi seperti apapun , memang harus berbuat baik bukan?. Harus selalu menanam kebaikan. Aku akan tetap baik baik saja.
Ternyata tidak mudah berada di " pemikiran seperti itu.
Ketika melihat suami dan madu masuk kamar dan kami tetap harus bergelatakan tidur di karpet depan televisi, hatiku tersayat juga. Ketika melihat bagaimana madu terus ada disamping suami dan aku duduk beramai ramai dengan anak anakkku ,ketika madu selalu duduk disebelah suami diacara makan bersama, atau ketika ia mencium tangan suami saat kami pamit pulang, pedih juga rasanya. Rasanya seperti pengekor yang tidak berguna.
Aku bertahan untuk tidak memperlihatkan kesedihan.Apalagi air mata. Itu tidak lucu sama
sekali!.
Tapi disurabaya , air mata itu akhirnya jatuh juga. Aku kalah. Harus mengaku kalah. Ternyata akau tidak bisa berada dalam kondisi seperti itu. Artinya , itu batas wilayah yang harus kuhindari.Tidak boleh kumasuki!
" mama gak perlu jaga hati papa. gak perlu jaga hati tante Rani,Gak perlu jaga hati siapapun.Yang perlu mama jaga ya hati mama sendiiri ", kata anak2ku ketika aku mengeluhkan pada mereja
" tak pikir toh, mereka juga bisa bijak , gitu...!. Misalnya papa akan tidur di luar dan menawariku tidur dengan tante atau gimana gitu..."
" mama kan tahu , sedang berhadapan dengan siapa!.Mama juga sudah tahu arahnya akan kemana!. Ya sudah toh.... "
" kalau kami ya harus tetap jaga hati papa , mah. Karena kami masih banyak perlunya. Kalau mama ya nggak usah. Jaga hati semdiri ae , mah.kalau memang mama tidak sanggup berada diantara mereka ya gak usah ada disana. "
" kita kan sudah keluarga , dik "
" ya , tanpa harus kesana , mah. banyakk media untuk menunjukkan perhatian. Ada telepon , ada kartu.....hari gini , gitu mah.... "
" berhentilah basa basi.Gak enak hati.atau apa ....semua ini terusannya dari sikap mamah yang " tidak bisaan " itu. Cukuplah mereka sudah memporak porandakan keluarga kita. Tidak usah usul apa apa lagi. KIta lihat saja akhir semua ini.... "
ok. aku setuju.Aku juga capek hati!
mereka benar.
Karena tidak tega Rani pulang sendiri malam malam , aku minta suami mengantar.Lalu keterusan selalu minta diantar. Minta dijemput , minta tidur bersama , minta dinikahkan karena kebablasen. minta di asuh anaknya .Lalu , ketika melihat hubungan yang tanpa statuis sedang abel sudah umur 7 tahun , merekapun pantasnya dinikahkan. Ia... ia.... Tidak selamanya yang aku anggap sebagai kebaikan dan keramahan , berujung kebaikan pula.
kamu benar anakku, maaf kalau akhirnya kita semua harus berada dalam situasi ini. Maafkan aku.
Karena Tidak Bisa
18.51 |





