Abel makin mahfum dengan mamanya. Dia sudah hafal dengan suara dan kebiasaan mamanya. Dia misalnya sangat tahu kapan harus mendekat dengan mama Rani dan kapan harus mendekat dengan mama Deka. Naluri keanakannya , terlatih.
Kalau kami sedang berjalan bertiga atau berempat ,kalau ia butuh kekamar kecil atau ingin makan ice cream atau roty boy ia akan langsung memegang tanganku, menariknya sampai ke counter yang dituju. Ia tahu aku tidak akan menolak keinginannya. Tapi kalau ia ingin mainan yang lumayan mahal ( diatas harga 150 ribu ) atau baju cantik punya barbie , dia tahu yang digandeng harus tangan mama Raninya.
Memang bisa ditebak , Abel makin dekat dengna mamanya. papanya juga makin dekat dengan mamanya. Sepertinya aku tinggal menghitung hari , biduk dengan layar yang sudah terkembang ini akan sampai dan bersandar di pelabuhan mana.Seperti apa kondisi biduk ini ketika berlabuhpun makin tergambar jelas.Rani , abel dan Bram makin tak terpisahkan.Tidak ada satupun masalhpun yang menyangkut abel atau Rani atau Bram yang tidak melibatkan kami semua.
misalnya,Ketika eyang solonya ingin melihat sudah seberapa besar Abel sekarang , aku harus menyiapkan mereka untuk pergi mengunjunginya. Aku juga berkembang makin resek dan mau tahu apa saja yang mereka lakukan disana. (kadang malah sangat kelihatan dan tidak bisa disimpan cukup dalam hati)
dari cerita Abel dan Alya , mereka ke borobudur misdalnya. Menginap di hotel dan tidak di rumah eyang solonya. Sekamar berempat?. Ambil yang twin? siapa tidur dengan siapa?.Alah.... benar benar merusak hati.
" tidak usah main hati , ma" usul ade
" iya !" kataku. Tapi ternyata sangat sulit dan selalu gagal.
" gak usah dipikir , to" usul anakkku yang lain
" iya !" jawabku .Ternyata sangat sulit dijalani dan selalu gagal .
" harus satu pikiran dan tindakan , ma" kata bungsuku
" iya!" aku akan lakukan itu.Dan selalu gagal.
Artinya , selalu ada rasa sakit yang muncul dan untuk menghilangkannya aku butuh lebih banyak hari,lebih banyak air mata dan lebih banyak energi. Gebleknya tidak aku komunuikasikan dengan Bram. Jatuh bangun aku mempertahankan hati agar bisa ikhlas. Aku jelas makin tersisih. atau yang benar , merasa tersisih. Sebab belum tentu mereka menyisihkanku bukan?. kami memang tidak pernah bicara soal siapa menyisihkan siapa. Semua kami biarkan berlangsung terus.... mengalir.
Komunikasiku dengan Bram macet total. Aku tidak bisa bercerita tentang apapun yang menyangkut diriku , perasaanku dan harapanku. Obrolan kami terbatas tentang apa yang "harus dilakukan " . Apa lagi yang m,enyangkut pembeayaan. Yang ia ingin tahu cuma berapa jumlahnya dan kapan pembayaran terakhir. Ini sebetulnya asyik. Sebab untuk yang satu itu kami tidak diribetkan sama sekali. Mau tes dimana , mau daftar apa , mau bayar apa , tinggal mengajukan ke papa dan papa akan memberitahukan kapan dananya bisa cair.
Kadang Bram juga protes.Ia merasa seperti kuda perasan. Biasanya kami tidak membantah. Itu akan muncul setiap kali dia stress dengan pekerjaannya atau merasa dia cuma berkutat dengan Rani dan segala permasalahnnya , merasa tidak banyak terlibat dengan anak anak atau ketika tiba tiba dia merasa kesepian dan jauh dengan anak anaknya.Mungkin kecuali dengan aku! ( kasihan ya aku!)entahlah.
20.50 |





