RSS

komunikasi yang macet menyulitkan kami untuk lebih dekat. Pulang dari kantor biasanya sudah malam .Selesai mandi , ia akan terus berada di kamarnya sambil terus menelpon. Diantara banyak telepon , telepon ranilah yang paling sering masuk dan terlibat pembicaraan yang paling lama. Rani juga yang paling tahu apa yang sedang , akan dan apa yang ingin dilakukan Bram. Jelas aaku tidak pernah terlibat dengan pembicaraan serius dengan mereka.

Sekarang , aku bukan saja benar benar tersisih , Aku bahkan sudah dianggap tidak ada. Tololnya aku cuma merasai dan membiarkan semua berlarut. Aku juga merasa tidak penting lagi melibatkan Bram , bahkan ke urusan yang paling kecilpun. Kalau jari itu aku harus mengambil rapot anak anak , misalnya , aku tinggal berangkat saja. Lalu kalau rapot sudah aku terima , ya tidak ada laporan untuk dia. Biasanya dia juga tidak bertanya banyak. Paling paling berapa nilai kamu dan nilai rata rata kelas. kalau anak anak milainya dibawah rata rata kelas dia akan ngomel panjang lebar. Seperti biasanya , kami juga akan cuma mendengarkan dengan takzim dan tidak membahasnya lebih lanjut.

Begitu dinginnya hubungan kami. Karena dinginnya berlarut larut , kami jadi piawai beradaptasi dengan kedinginan itu. Akhirnya , terasa enak saja dengan kondisi itu. Semua terasa biasa saja.Sudah tidak aneh aku dan ke lima anakku itu pergi tanpa keikut sertaan sang si papa. Ke undangan pengantin, pertemuan keluarga , ke mol bahkan kerumah sakit atau melayat kerabat yang meninggal.
Dia tidak pernah pamit kemanapun pergi.Aku juga beradaptasi dengan cepat. Jadi kalau dia datang dari pergi itu dan ternyata baik baik saja.Aku tidak mempertanyakan kepergiannya.

Bohong kalau kami nyaman dengan kondisi ini.Di aku bentuknya memang bukan protes yang menggebu atau kemarahan yang membara. Ayahandaku punya cara yang jitu untuk melampiskan kemarahan hati. Ambil kertas hvs dan spidol besar warna merah. Tulis unek unek dengan spidol itu. Dengan huruf kapital dan tebali. Bahkan caci makipun dihalalkan. potong potong dengan kater, diumel uwel uwel. belum puas , cacah dan injak injak. Setelah itu dibuang. Kurang puas juga?,afdruk fotonya 10R dan coret coret lalu gunting gunting!. Dijamin setelah itu kita bisa menghadapi, bukan cuma dia tetapi juga anak anak dengan energi baru dan bersih.Tanpa marah dan lebih bisa berkata lebih enak untuk di dengar!.

Kesibukan dengan anak anak dan sibuk dengan urusan per pkkan juga banyak menolong para perempuan untuk mengatasi stress di dalam kehidupan. Kita paraperempuan sudah sejak awal di cipta dengan berbagai kemampuan. Kita , bisa mendengarkan radio sambil mengetik makalah. Kita bisa memasak sambil mengasuh anak. Kita pandai menata hati yang jengkel dan resah sambil menina bobokan putra putri kita. Seolah semua punya piktu keluar sendiri sendiri. Bandingkan dengan laki laki yang menangispun tidak bisa karena merasa tidak pantas. Yang jika merasa terpojok malah berteriak teriak membela diri. Yang jika merasa terhina malah membawa parang untuk membunuh. Sebagai perempuan aku merasa lebih beruntung karena punya banyak cara untuk menyelesaikan kemelut dalam hati. Punya air mata yang mampu menghisap semua rasa pedih dan tidak pernah malu untuk datang bersimpuh meminta maaf.

Sejak pengakuannya di acara pemakaman ibu yoyok, aku tidak lagi pernah bicara gayeng dengan bram. Tidak pernah mengajukan usulan atau protes dengan apapun yang dilakukannya. Ia boleh datang dan pergi kapanpun dia mau. Ketika tidak pulangpun , bahkan untuk beberapa hari, saat dia pulang kerumah , aku juga tidak menanyakan tentang kepergiannya itu. Aku merasa dia tidak nyaman setiap berdekatan denganku. jadi akupun tidak mendekat padanya.Menurutku , dia juga tidak suka aku ikut pergi dia. Jadi akupun tifak pernah ikut kemanapun dia pergi. Ketika hari raya dan dia memutuskan pulang ke palembang, dan dia tidak bicara apa apa padaku, maka akupun memilih tidak menanyakan dan ikut dia.
Ini perang dingin.Ya ini perang dingin. Sudah tidak ada lagi permainan siapa memiliki siapa. Aku juga cuma teman hidup yang bisa dia lupakan kapanpun dia mau. Aku tidak lagi perlu sakit hati. Ini pilihan hati. Ketika dia diam. Aku juga diam saja. Diam juga bisa jadi memiliki kebebasan yang tak terbatas. Karena dengan diam , aku bisa berteriak dengan lantang tanpa menyakiti seseorang.

Kondisi kami gambarannya seperti ini. kami sedang mengendarai kendaraan , kami harus menyeberangi sebuah jembatan dan kami berada di dua kutub yangberbeda. Ia berada di arah utara dan hendak keselatan sedang aku ada di ujung selatan dan bermaksud ke utara. Tidak ada salah satu dari kami yang menyingkir kesamping dan membiarkan salah satu lewat lebih dulu agar kitapun bisa melewati jembatan itu dan bisa sampai ke tujuan. Jadi mandek dan fakum.
Aku faham ini suatu kebodohan.Dan aku memilih jadi si bodoh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS