RSS

4

Yang kubayangkan tentang diriku saat ini , seolah melihat tarikan tarikan garis pada ssebuah grafik. Dan aku berada di titik bawah setelah titik atas. Itu sebabnya sejarah seolah berulang. Saat Rani datang mengoyak ngoyak keidupan kelarga kami , dengan berbagai cara aku mencoba "membuat " suasana rumah tidak porak poranda.Rinciannya, anak anak tetap riang dan sekolah dengan baik , makan minu teratasi dan hubungan dengan Amran bisa baik baik saja..kami sudah bisa pergi bersama , selalu menyempatkan ngobrol dengan ankl anak , seolah  sama sama sudah memaafkan dan tidak lagi mengingat masa sulit yang lalu-- meski nyatanya tidak begitu, karena sebenarnya darahku selalu bergelegak kembali saat dia mengulang caci makinya , lontaran kalimat hinaan dan sikap sikap kasar yang merendahkan pribadiku.
Lalu sekarang ketika kabar santer tentang pengkhinatan seri ke dua berlangsung , berkobar dan membakar semua helai kesabaran dan penerimaan yang sebenarnya  selama ini  tak gugur dan malah sebenarnya, setiapkali peristiwa sedih terjadi, ia bak  helai helai baru  , aku terhenyak dan  seperti dulu, merasa tidak bisa melakukan apa apa kecuali diam -- ternyata helai helai kesedihan itu cuma menua dan akhirnya mengering, hingga lebih mudah hancur dan berserak.

Aku berada di titk bawah lagi.Kalau tidak , tidak mungkin Tuhanku memberi soal yang sama untuk diselesaikan , jika tidak menganggap bahwa kwalitas pribadiku sebagai hamba memang baru pantas untuk soal soal itu.Aku, ternyata belum lulus dan bisa menyelesaika soal itu dengan baik. Hngga harus menglanginya lagi.

Semua anakku sepakat menyuruhku diam saja. " gak usah dipikir, ma, be happy " kata Dhea. Lalu kata mereka lagi, " biarin aja papa begitu. pura pura aja tidak tahu. Biar dia hadapin sendiri. kalau mama menyoal , papa malah nekat kayak peristiwa Rani dulu".

Kayak peistiwa Rani dulu ?

jadi ingat ketika aku menelpon Rani dan menanyakan rumor tt mereka yg sudah tidur bersama-- secara gamblang Ramli, teman Amran bilang , kalau kunjungan saat kunjungan ke yogya itu, Rani dan amran ambil kamar yg sama.Perempuan itu marah dan menangis seharian -- itu kata Amran. Siang itu mereka masih di dalam kantor, jadi Amran kewalahan menenangkan di ruang publik itu.Sialan!.
Seolah kepalang basah , Rani  sesumbar" jangan panggil aku kalau bukan namaku Rani!".lalu , mereka makin sering bersama , mereka makin sering tidak pulang , mereka makin tdak peduli protesku, lalu Rani hamil dan semua makin berantakan.

jadi sekarang lebih baik diam ?supaya tidak terjadi hal yang sama-- karena kalau digubris tentu mereka akan melawan.kepalang malu, kepalang basah , kepalang mundur.

Ah , sudahlah. Setiap masalah memang mempunyai banyak alternatif untuk memecahkannya.Bisa jadi akan berakhir sama atau bisa juga berakhir lain. Lihat, bahkan pada pengulangan soalpun, aku tidak punya jawaban yang jitu.Padahal sudah mengjudge bahwa stereotipe kedua perempuan itu sama.Ia suka kerja , yatim , manis untuk dipandang, ambisius dan tidak punya hati. Dua perempuan itu juga rela jadi pion untuk melaksanakan rencana keji amran (misalnya menagih, memecat , mensomasi -- it semua yang ingin selalu dilakukan amran ttetapi tidak akan dia lakukan karena akan membuat namanya jelek. dengan pinjam tangan mereka , dimata para pegawai dan relasi merekalah yang jahat )

jadi aku kali ini memilih diam.

sebab sejak peristiwa Ranipun , sebenernya Amran bukan lagi laki laki idaman hatiku. Hubungan baik selama ini juga tidak menyiratkan apa apa kecuali bahwa dia papa anak anak. Ia ku hormati , tiidak pernah kucaci , tidak pernah ku hina tetapi juga tidak pernah kupuja. Ia membuat kami selalu aman dalam soal sandang , pangan dan papan. Ia membuat semua anak anakku -- kecuali Alya , bisa bermobil dan menggunakan pakaian bagus. Ia bekerja dan membiayai sekolah mereka.Semua upayanya untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarga patutlah dihargai -- diluar sana banyak yang lalai, bahkan walau mereka tidak punya masalah seperti kami. Bagiku itu sudah cukup. Anak anak terperhaikan kebutuhannya dan dapat menjalani hidup dengan cukup nyaman.

Lalu , peristiwa yang terulang itu , memang tetap menyakitkan. Kenapa ? karena kami terikat oleh nasip yang menyedihkan. Ia nasip bagiku. Yang kuharap selalu bisa ku ubah dengan doa doaku.

Ada pak dan bu Untung basuki , yang sekarang jadi besan , Ada Yudha dan Dastan.Setidaknya , juga karena Tuhan tidak suka kita menjatuhkan kehormatan yang sudah diberikanNya. Ia memberi tugas utuk menjadi pemimpin di muka  bumi dengan kekuatan penuh untuk bisa dipakai menyelesaikan persoalan apapun.

Aku memilih diam dan melakukannya dengan hati..

Tidak lagi menggunakan usaha horisontal , aku kali ini memilih yang vertikal saja. Aku jadi faham , terulangnya peristiwa ini karena Tuhan mau mengajariku bagaimana mengatasi masalah dengan referensi masalah yang lalu.

yang memberi suami dholim kayak gitu juga Tuhan , yang membuat hatinya kadang baik kadang jahat begitu juga Tuhan.yang memberi anak anak dengan segala permasalahnnya itu juga Tuhan , yang mengijinkan peristiwa ini terulang lagi juga Tuhan.Yang membolak balikkan hatiku juga Tuhan , yang membuatku tidak berpaling dan tetap berdiri disini juga Tuhan. Jadi aku mengarahkan langkah lagi padaNya. Ialah satu satunya Tuhan yang aku sembah dan menyandarkam semua harapan hati..

Ia maha mengubah. Apa sih yang tidak bisa diubahnya?. Ia maha memperbaiki , apa sih yang tidak bisa diperbaikinya?Semoga karena maha pengasihNya , ia juga memeintahkan seluruh isi alam raya ini untuk mengasihiku, .melebih banyakkan kesabaran , tetap sehat ,  dan penuh berkah-- sebetulnya aku juga takut sakit dan menyusahkan orang. ah, Tuhan pasti lebih tahu itu.

" semakin tua semakin rumit, ya sudah dijalanin aja ", kata ade di line," aku gak ngerti mau ngomong apa, Saat semuanya terjadi aku malah gak di tengah tengah kalian.tapiyakin aja semua gak akan lepasdari campur tangan Tuhan.Doain terus  ma, aku terus berjuang biar aku bisa buat semua lebih bahagia".

jadi sejak tanggal 27 desember2013,
aku khatamkan satu juz dalam satu hari
sholat sunah dibanyakin
dzikir dipajanginn
bersedekah di rutinin
ini upaya vertikall
di tengah rasa putus asa-- hampir!
tidak salah datang pada saat ssah bukan?
meski lebih baik kalau lebih sering saat suka

Sidoarjo,
14 januari, maulid







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS