RSS

(2)

"Berprasangka baik itu memang susah.sebab memang manusia lebih suka melihat dirinya berada diatas manusia lain: lebih bermoral, lebih berakal, lebih rajin,lebih beriman, lebih kaya, semua kelebihan yang membuatmu berada pada tingkatan atas pergaulan.Tidak heran apabila kamu kemudian mudah menduga yang buruk buruk pada semua makhluk yang kamu kenal."

Aku mengamini tulisan diatas sambil misuh misuh, sebab memang keterlaluan sekali kebenarannya.Jadi, selama ini aku memandang hina manusia lain, juga makhluk lain, dan menjadikannya subordinatku.Aku pernah merasa lebih beriman dari dia-suamiku sendiri, karena dia tidak mau menjalankan kewajibannya sholat, yang kupikir adalah kewajiban dasar manusia yang beragama islam.

" kalau dia tidak peduli dengan Tuhan yang sudah ngasih segalanya, bagaimana dia bisa peduli padaku?" begitu pikirku saat itu.,

aku ingat pernah rasan rasan tentang Arif-adikku, dan mengatainya malas tanpa rasa berdosa karena setiap akali berkunjung kerumahnya, dia selalu sedang ngobrol dengan temannya, meski disiang hari.Aku juga pernah membahas panjang  ponakanku yang hoby menulis status yang aneh aneh lalu kubillang lebay.Aku tidak pernah ingin bertanya alasannya.Egoku terlalu tinggi untuk menyelami perasaan mereka,atau keadaan yang membuat mereka seperti itu.Lihatlah betapa mudah menimpakan prasangka buruk pada orang lain.

aku mendapati,dengan prasangka buruk yang sudah kulakukan,hasilnya juga selalu buruk,dan itu malahan memicu jenis prasangka buruk yang lain.Ia bukan cuma merusak akal sehatku, hatiku dan pikiranku, ia bahkan membuatku tertekan dan sedih. Apalagi jika prasangka burukku itu seolah terbukti.menjadi kenyataan dan harus kulakoni,sendiri, seterusnya.

Berprasanggka buruk kepada manusia memang mudah, tetapi tidak kalau itu kepada Tuhan. Dari dulu aku mendisplinkan diri untuk tidak berprasangka buruk padaNya.Jika ada yang terjadi dan itu jauh dari harapanku, aku tidak serta merta menganggap karena Ia tidak sayang padaku. Semua yang Dia berikan dalam hidupku, kupikir akan punya hikmah.Aku juga terbiasa meminta untuk sgera dipahamkan dengan keputusanNya.ketika hari itu Amran--suamiku--ayah anak anakku--memutuskan untuk tidak tinggal dirumah lagi dan memilih tinggal dikantor,aku berprasanka baik padaNya.Mungkin itu cara terbaik Tuhan memisahkan kami, agar tidak terus terusan bertengkar.Dimasa yang akan datang , hidup bersama dengan suami yang punya istri baru tentu tidak mudah.Apalagi kalau niatnya agar bisa rukun dan damai.Dengan tidak adanya dia di rumah, aku tidak peru melihatnya setiap hari, lalu merasa kesal atau cemburu karena mengikuti setiap kali ia mengambil keputusan.Misalnya karena ia harus berbagi hari  untuk kedua istrinya, mendengar kebahagian kebahagian yang sedang mereka alami .Jelas sekarang bebannya tambah banyak apalagi ada tambahan dua anak lagi. Belum lagi kalau harus mengindahkan tatapan mata tetangga atau harus mendengar bisik bisik tidak sukanya.Jadi bahwa ia pergi dari rumah , pasti banyak hikmahnya.

Tentu saja ia butuh istirahat  sejenak.Butuh pelarian karena waktunya banyak tersita untuk mengurusi kami,dan ia harus tetap sehat tetap sehat, dan bisa berpikir jernih. Sangat banyak yang harus dia pikirkan untuk membuat dua keluarga ini bisa berlangsung.Pendidikan anak anak tidak terbengkalai, dan pekerjaan tidak mawut.. Ia juga punya beberapa mobil yang harus diisi tangkinya agar bisa berjalan. Ia juga punya banyak pekerjaan dan pgawai yang harus dia piirkan kelangsungannya.Ia juga punya keluarga besar yang tetap harus dia perhatikan dan bantu. Dia juga punya teman teman yang jika sedang kekurangan bersandar pada pertolongannya.

"brangkali ia juga perlu jauh dariku, agar bisa merasakan semua kebaikan yang sudah kulakukan untuknya", kataku dalam hati,. mengibur diri.

kalau ia bertahan di rumah kami, mungkin yang terjadi adalah perpisahan selamanya.Kekacauan yang mungin timbul akan membuatnya stress dan bisa bertindak brutal.sItri barunya akan selalu  punya hal baru dan seru yang bisa dia dia ceritakan sambil bermesraan.Lalu Suamiku itu, akan lebih mendengarkan dia dari pada penjelasan kami.Dengan tidak    bersama kami, ia bisa melihat semua kebaikan yang ada dalam keluarga ini.Karena ia sempat memikirkannya, sebelum pada akhirnya nanti mempermasalahkannya.

jadi aku berprasangka baik padaNya. Belajar tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang dipikir orang lain,  dibandinkan dengan apa yang seharusnya mereka pikirkan tentang kami.Tuhan punya rencana, dan rencana itu Dia bikin karena Dia cinta kami sebagai hambaNya. Tidak ada hal buruk yang Dia rencanakan untuk hambanya kecuali karena untuk kebaikan.CntaNya pada hambaNya tidak perlu syarat apapun.












  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS