RSS

(3)

Ada banyak ketakutan yang muncul sejak menyadari bahwa  ia bnar benar meninggalkan rumah. Bagaimana kalau ia kemudian tidak lagi peduli denan baya hidup sehari hari, beaya pendidikan anak anak . Begaimana menyampaikannya pada ibuku , juga mertuaku. Bagaimana cara menghadapi tatapan hina, atau sinis , atau cemooh dari tetaggak atau keluarga yang lain..SEmua pertanyaan itu berputar putar di kepalaku. Sekarang au bukan cuma punya ketakutan, ttapi kepalaku juga mulai terasa pusing.

" bukan waktunya untuk dipikirkan", kataku dalam hati, menymangati diri sendiri. "malam ini semua harus sudah mengambil keputusan bagamana menjawab semua pertanyaan yang berputar putar di kepalaku" tegasku pada diri sendiri.Maka siang itu, setelah dia pergi, aku tidak menangis lagi -- bahkan dalam hatipun tidak --, semua sudah terjadi. Kalau memkiirkan hal hal yang ada di belakang rasanya akan makin memberatkan hatiku, sebab aku tahu banyak penyesalan penyesalan diri yang harus kuhadapi.

Sebetulnya, meski aku menegasi diri sendiri, aku masih merasakan ketakutanku.

Pertama yang klakukan setelah menyadari --bahwa ia sudah benar benar pergi--, berwudlu dan sholat dhuhur. Aku harus laporkan semua yang membuatku  takut ini. Meski tanpa kulapori, Tuhanku pasti sudah tahu apa yang terjadi, aku tetap melakukannya.Aku perlu teman curhat. Aku butuh seseorang mendegarkan jeritanku.Aku perly sandaran hati, karena aku merasa betul betul tidak tahu harus bagaimana dan aku perlu peyunjuk meneruskan perjalan hidup ini.

" Dia pergi, gusti ", kataku membuka percakapan.lalu aku mendengar -- dengan hatiku--, Ia berkata" iya, aku tahu ".
" bagaimana dengan anak anak."
" itu tanggunanku !"
" kebutuhan kami  sehari hari, Gusti "
" Aku kasih "
"Anak anak perempuanku, Gusti. Aku takut ditolak calon mertuanya karena keluarga kami pecah seperti ini."
" Aku yang akan melembutkan hati mereka "
" Aku pasrahkan semua padamu, Gusti. Karena yang aku punya cuma Engkau. Jadikan aku mudah memahami kehendakMu. Jangan biarkan aku pilu selalu"

Memang siapa aku?, tanyaku pada diri sendiri. Kenapa aku harus punya semua yang terbaik didunia ini?. Suami ganteng, banyak duit, setia, baik hati dan penuh pengertian, alim dan pinter menabung.Anak anak yang berahlak mulia, sekolah hebat dan tidak pernah bikin hati ibunya gelisah?, tetangga yang penuh pemgertian ,dan tidak resek , juga siap menolong?.

" ya, siapa aku?', tanyaku sekali lagi.Aku bukan hamba yang taat.Banyak membuat kesalahan. Suka sholat terlambat. SEdekah ala kadarnya saja. Dengan tetangga dan teman tidak sangat peduli. Dengan orang tua juga kurang tuhu. Masih sering marah.Masih suka rasan rasan.Masih suka berbuuk sangka. Masih suka sombong. " jadi harusnya kamu tahu diri", kataku pada diri sendiri. Karena kalau mau saling meghitung , maka yang aku terima ini masih sangat  bagus. maka harus tetap berterima kasih-- untung cuma ini--, karena kalau Ia mau, Ia bisa memberiku  yang lebih dahsyat dan lebih menakutkan  dari ini.

Memang knapa kalau dia pergi?. Rizki itu Tuhan yang punya. Kebahagiaan itu Tuhan yang membagi. Keseksusesan itu Tuhan memutuskan.Jodoh itu Tuhan yang tentukan.

Ia memang maha pengasih
Ia maha penyayang
Ia maha mengerti
Ia maha kaya
Ia maha suka memberi
Ia juga, maha Diktator
Ia maha membalas kebaikan
Ia juga maha menghitung
dan aku,
sangat cinta padaNya.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS