" lihat ini , gak onok smsmu.gak onok!"
" ya, tapi kak mox aku wis sms"
" endi buktine... !"
" pokok-e uwis. Ngapain juga aku mesti bohong sama kamu"
susah nih, si bapak. Sudah dibilangi kalau aku sudah sms kok masih mencak mencak. Gak main!. Minta bukti lagi. " gini lho kak, kemarin iitu HPku low bath. Jadi aku pinjam hpnya mbak mamik. Lha masak aku harus ke sana pinjem Hpnya buat membuktikan.Aku malu yo.... apa kata dunia!
Wessss..... tiba tiba dia melemparku chas chasan hp. Kena pelipisku.
" sakit tahu!" teriakku dalam hati. Aku cuma memandangnya. Ada rasa benci dihati yang rasanya makin lama makin menyakitkan. Lelakiku ini , buykan cuma hobby berkata kasar juga hobby menyakiti secara phisik.( aku sebut hobby karena ia melakukan secara terus menerus selama 21 tahun perkawinan kami). Kalau sudah main aneh aneh gitu , paling aman ya diam.
Aku diam sampai dia meninggalkan ruang keluarga dimana kami duduk. Dia langsung naik menuju kamarnya dan akupun masuk kamar tidur. Lucu juga pikirku kecut. Dia marah karena dia mengira aku tidak membalas smsnya. Sore tadi kami ada undangan perkawinan putri pak Paryono, tetangga kami. Aku jadi penerima tamu di perhelatan itu. Jadi memang rencananya dia akan pergi dengan anak anakku alya dan abel. Sebetulnya lucu juga kalau dia marah.Apalagi kalau dengan alasan dia tidak tahu jam dan tempat acaranya dilaklsanakan. Masalahnya undangan perkawina itu ada diatas meja , kedua anakku malah sudah menyiapkan baju ala putri lengkap dengan bandonya,dan mereka sudah menunggu sejak siang. Lagi prosesi acara itu sudah dimulai dua hari yang lalu.Mulai dari acara pengajian , siraman , akad nikah dan malam ini resepsinya. Dan karena aku jadi panitya , setiap pulang dari semua acara itu aku bawa makanan dan dia ikut makan....Jadi menurutku , marahnya gak keren blas!
tadi ketika aku sampai rumah , Alya dan Abel sedang tertidur pulas. Baju putrinya tergeletak dilantai kamar.Si bapak dan ke tiga anakku yang besar belum pulang. Kata Siembak , beliau lagi nonton di TP....... lha iya , kok pakai acara marah ya. Padahal kalau memang niatnya mau datang di acara perkawinan kan bisa. Dasar si pemarah!
jam enam pagi dia sudah turun dengan pakaian untuk olah raga. Acaranya mau sepedaan dengan bapak bapak di RT kami. Ketika berangkat belanja , aku stop sebentar di rumah bu Mulyadi. Disana sudah adsa bu Ali , bu Alizar dan bu Edi. Mereka sedang membicarakan acara agustusan.tahun ini RWku tidak mengadakan cara resepsi agustusan seperti tahun kemarin kemarin.Semua acara mulai jalan sehat , pembagian hadiah dan bazar dilaksanakan tanggal 10 Agustus.Kami micara soal malam tirakatan dan lomba untuk anak anak di RT kami sendiri.Pas asyik asyiknya kami ngobrol , " beliau " lewat dan berteriak " Bojo gak main!". Jelas aku merah padam, tapi pura pura tidak dengar. Apalagi ibu2 yang sedang bersamaku tidak berkomentar apapun juga.
Merasa situasinya sudah gak enak , aku pulang. Sampai dirumah " beliau" sedang membersihkan burung burung. Di ruang keluarga sedang berkumpul ke lima anakku. Mereka sedang nonton TV sambil sarapan.
" tadi , papa teriak dijalan. Kayaknya marah banget. kalau masalah tadi malam ya..... sumpah rek , aku sms lho. Kok gak percoyo seh. Lha masak aku harus pinjam HPnya mbak mamik. Lucu..."
"trus mah.... "
" yo , iku dikirone paling ngrasani dia , padahal...",kalimatku kuhentikan, " beliau menuruni tangga sambil membawa burung yang sudah dibersihkan untuk di jemur di depan rumah. Sambil melewati kami yang sedang duduk diruang tamu, "beliau" menendang kucing kami yang menghalangi jalannya.Sontak si Alya teriak " jangan , pa......jangan! "
" biar mati sekalian !"
" Jangan pa, jangan " , Alya lalu berdiri menolong si michi yang jadi kortban pertama pagi itu.Meliahat situasi yang sudah mulai tidak enak , aku masuk kamar. Mencari kesibukan , menata kembali sprei dan baju baju yang tidak sedang berserakan.( karena sudah di benahi si embak).Diluar " beliau mengumpat umpat si michi dan mengancam akan membunuhnya kalau sampai ketahuan mekan burung kesayangannya.Entah bagaimana , tiba tiba " beliau" sudah masuk kamarku dan meninjuku." kamu juga!jancuk!. Wedhok Gathel!!", katanya berteriak teriak.
" sakit kak mox!"
" tak cerai kamu! tak cerai kamu!". Berkata begitu ia menghampiriku lagi. Tiba tiba Ade anakku memegangi tanagn papanya dari belakang.
" sudah , pa, sudah!"
" Biarain De, papa sudah gak kuat. Wedhok gathel!", teriaknya dengan nada marah
" papa mau apa , appa mau apa!. Ingat papa sudah umur berapa! pa, sudah!" Ade berteriak lebih keras dari suara papanya.
" takl cerai kamu! tak gorok kamu!. gak selama nya anakmu bisa mbela kamu!"
Dea , sulungku ikut bergabung dikamar. Mendengar papanya berteriak teriak , ia ikuit bicara.
" pa, selama ini aku melarang papa bercerai karema aku pikir jadi anaknya janda itu ashor. Tapi kalau ternyata itu yang buat papa bahagia , yo wis.... ceraio ae pa. Ceraio ae.... wis gak penting kabeh..... ".gadisku itu mulai mernangis.Aku sendiri cuma mematung melihat adegan demi adegan. Congok!
Anak anakku yang lain tetap duduk diruang keluarga itu. Mereka bukan tertegun tapi juga risau melihat bagaimana akhir masalah ini.Setelah agak tenang , "beliau" naik ke lantai atas dan memasukkan sermua bajunya ke mobil. Entah berapa kali ia turun naik tangga.Aku sendiri tiduran si kasur dan mencuri pandang dari kaca jendela kamar.Aku khusus berdzikir sambil tiduran. Takut yang lebih dahsyat terjadi di rumah kami.
Sampai mobilnya berangkat , aku tidak berani keluar dari kamar. Semua kami , melihatnya pergi dari rumah.Tidak ada rengekan dan pertanyaan yang keluar dari ke enam mulut kami.
Hari ini , 3 Agustus 2008 , " beliau" pergi dari rumah. Apapun bisa terjadi sesudah hari ini.Kami tidak menangis. Tidak bisa menangis !.Masing masing dengan pikiran sendiri melewatkan malam.Kami tidak saling menghibur, tidak saling bicara. kami diam. Cuma diam.
A
walk out
06.09 |
Label:
seri kekais cinta





