RSS

Jenazah disemayamkan dimasjid untuk di sholati. Dari masjid langsung diberangkatkan ke makam Tembok dukuh. Jaraknya kurang lebih 2 kilo meter dari rumah duka. Lumayan juga, apalagi kalau di tempuh dengan berjalan kaki.
Kursi kursi dilorong jalan yang tadinya penuh , sekarang lengang. Sebagian besar pelayat ikut ke masjid untuk menyolati.Dalam islam, salah satu kewajiban yang hidup untuk yang mati adalah meyolatinya. Tetapi kewajiban ini gugur jika sudah ada yang meyolati sebelumnya( fardhu kifayah ). Ketika aku mengarahkan pandanganku keujung lorong , Amran sedang melambaikan yangannya kepadaku. Akupun mendatanginya. Sepertinya ia habis bertengkar dengan Rani. Tidak salah lagi, pasti itu soal omongannya ketika makan siang tadi.
" kamu pikir aku takut", kata amran ke Rani. Air mukanya kelihatan kesal sekali.
" aku yo gak wedhi!" kata Rani dengan suara keras dan menantang
" opo seh......nanti aja toch.Ini lho acaranya kita itu melayat ibunya yoyok. Masak bertengkar"Aku coba melerai. Dua orang itu memang sama saja . Yag satu tukang ngeyel yang satu lagi tukang tidak mau dikalahkan dan di salahkan.
" rungokno yo ,dek!"kata Amran kepadaku denga suara keras," perempuan ini yang membuat aku gak bisa tidur.Dia njebak aku!. Abel iku anakku! .Dasar pelacur!" berkata begitu dia tudingkan telunjuknya ke arah Rani
" sopo sing pelacur !"
" kamu!"
Aku terbengong bengong. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulutku. Pelan pelan kurasakan tubuhku ringan dan kepalaku seperti tidak ada isinya. Lalu tiba tiba saja... thakkkk!!. Tangan kiri Rani yang sedang memegang helm dipukulkan ke kepala Amran.Lalu Amran kulihat mau menempeleng Rani . Spontan tangan kananku memegang tangan amran dan tangn kiriku memegang tangan kanan Rani.
" nanti aja , malu, dilihat orang !".Aku mengajak mereka menepi, menyandarkan punggung pada tembok gang. Masalahnya orang orang dari masjid mulai berbaris untuk memberi penghormatan pada jenazah yang sudah keluar dari pintu masjid.Lalu semua orang yang berdiiri menepi , ikut dibelakang jenazah. Mengiringinya sampai makam. Amran yang berdiri di sebelah kananku juga ikut rombongan itu.
"Athoh!! " Rani tiba tiba berteriak. Aku cuma melirik saja. Rupanya ketika Amran melewati Rani , ia sempat meninju lengan atas Rani.Subhanalloh.
" sampeyan nunggu pak amran tah?"
" nggak, mulih karo sampeyan ae...."
" yo wis, tak njukuk motor yo "
" yo , mbak "

Rumahku di Wisma Bungurasih.Sedang Rani kos di Jl ketintang. kami memang searah.Sampai di ujung jlan darmawangsa rani bilang pengen ke JMP. cari tooljii, Jadi aku mengantar dia ke JMP dulu.Selama perjalanan kami sama sama diam. Aku tidak lepas dzikir.Hatiku galau sekali.Sementara itu aku sedang menyetir motor, dijalan raya lagi.Aku takut celaka... lalu mati. Di perjalanan pulangpun kami cuma diam.kami sibuk dengan pikiran masing masing. Mungkin sekarang Rani merasa lega.Apa yang di pendamnya selama ini sekarang terkuak. Itu artinya , ia tidak lagi harus terbebani dengan rahasia hatinya. Atau sekarang malah muncul beban yang baru? entahlah. Aku sendiri merasa heran dengan perasaanku.Kok hambarrrrrrrrr sekali. Mestinya aku sangat sedih dengan fakta yang terkuak ini. Abel ternyata anak Rani dan Amran, suamiku.Mestinya aku menangis meraung raung seperti di sinetron atau seperti cerita teman teramanku yang ditinggal selingkuh suaminya. Ini aku malah tidak merasakan apa apa. Sedih atau ingin menangispun tidak. Kenapa ya. Apa aku tidak normal?.Apa hatiku sudah beku?.Permah kehilangan barang tapi tidak sedih dan tidak merasa apa apa? ya. seperti itu rasanya!.
lalu aku mencoba mengingat ingat ketika Rani pamit untuk menikah. Wito yang diakuinya sebagai suami itu juga diajaknya kerumahku. Malah mereka datang dengan cerita kemeriahan perkawinannya. jadi siapa Wito itu?. Kenapa tokoh itu dimunculkan?.
Amran dan Rani buat skenario gila itu. Barangkali Rani sudah hamil saat itu?. Seingatku bberapa hari setelah itu Rani datang kerumah dan pulangnya minta diantar Amran.Tapi Amran tidak mau mengantar.Alasannya " gak enak " dengan suami Rani. Mereka sempat bersitegang. Akulah yang merayu Amran untuk mengantar Rani. Akhirnya memang Amran mengantar Rani. Sorenya Rani datang kerumah dengan pelipis yang membiru. Dia menangis sambil menunjukkan lengan atasnya yang memar. "Ya Tuhan..... wis tah mbak, jauhi Amran", kataku menenangkan dia," pulang aja ke Solo. Mas Witomu kan juga gak terima kamu disakiti kayak gini "

Bukan cuma sekali itu Rani datang dengan lebab dibadan dan tubuhnya. Sekali waktu datang dengan pergelangan tangan kirinya yang bengkak." diplontir pak Amran, mbak", katanya mengadu. Pernah juga tiba tiba dia datang dan menangis dipangkuanku. Katanya hidupnya sudah hancur. Aku juga merayunya untuk meninggalkan pak Amran. Dia malah menyerahkan semua data member setas penuh. Dia juga menyerahkan kunci mobilnya padaku. Katanya dia mau pulang ke solo. Tapi malamnya dia datang bersama suamiku. Lho.....
" tadi aku kesalon , mbak sambil mikir mikir "
" oh.... " . Aku tidak bertanya apa yang sedang dia pikir pikir itu. Kedatangannya berdua dengan suamiku itu membuatku hatiuku tidak enak. tapi gilanya, aku menawarinya makan malam dan minta suamiku mengantarnya pulang ketika ia bersikeras untuk pulang naik taksi.

Sekarang aku berpikir lain..... semua itu mungkin moment gila bagi mereka. Bisa saja waktu itu Rani minta pertanggung jawaban Amran. Amran marah dan menyakitinya.Entahlah. Aku cuma heran..... kenapa aku sekarang ini tidak bisa menangis. sudah kuingat yang menyedihkan.... tapi hatiku tidak sedih juga. Ini pasti ada yang tidak beres dengan diriku!

Tiba tiba saja kami sudah ada didepan rumah kosnya.
"sampeyan percaya to mbak dengam omongannya pak Amran....." tanyanya ketika turun dari motor.Aku menjawabnya dengan senyuman.
" yuk ya...."
" iya, suwun mbak..... "
Aku tidak menjawabnya. Tiba tiba ada kesadarab dihatiku." alhamdulillah", kataku lega dalam hati. Ternyata selama perjalan pulang tadi aku melamun. Syukurlah tidak terjadi apa apa. Sisa perjalananku kerumah kuisi dengan dzikir. Matur suwun gusti, matur suwun.Aku selamat!.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS