RSS

k e k a i s c i n t a

1

" Yang paling berat bagi jiwa adalah ikhlas karena ketika kita ikhlas, jiwa tidak kebagian apa apa ",sms pagi ini ku kirim untuk anak anakku.

Pas jam dua belas siang aku sampai dirumah Shenny. lorong yang menuju rumahnya penuh dengan motor pelayat yang sedang parkir. Rumah yang tidak berhalaman itupun dipenuhi dengan kursi untuk pelayat. Kursi kursi juga dijajar di emper rumah rumah sebelah rumah duka. Benar benar tidak enak hati untuk berjalan sendiri melewati mereka semua. Tapi salahku juga datang terlambat.
" sori mbak, terlambat.mberesi rumah dulu ", kataku ketika menyalami sheny.
" nggak papa , belum dimakamkan kok "
"Ikut berduka cita, yo. maaf jugaNggak sempat njenguk di rumah sakit'
" nggak papa, mbak.Nggak papa"
" tadi malam jam berapa?"
" jam sepuluh malam, sakitnya sudah lama, mbak. Tuhan berkehendak lain "
" iya , yang sabar...."

Kutebarkan pandanganku ke semua arah. Aku mencari suamiku yang lebih dulu datang. Yoyok, Suami Sheny itu memang kawan akrabnya. Mereka bersahabat sudah sejak tahun sembilan puluhan , ketika sama sama kerja di astra.Tadi ketika dikabari kalau ibunda Yoyok meninggal , amran dan anak anak kantor datang duluan, rencananya memang jam 11.00 dimakamkan.Ternyata jadwalnya diundur karena menunggu saudara ibunya yang dari luar kota belum datang.

Amran duduk di deretan kursi yang paling belakang. Ia duduk sederetan dengan anak anak kantor. Aku tidak menghampirinya karena untuk berjalan kesana harus melewati banyak orang dan itu membuatku tidak enak hati.Beberapa saat setelah itu dia datang menghampiriku dan berbisik
" ikut makan nggak?"
Aku menggeleng. " nggak enak, baru datang ..."
" yo wis!"
Aku cuma mengawasinya saja ketika mereka serombongan keluar dari deretan kursi belakang. Aku kembali ngobrol dengan bude dan bulik yoyok tentang rencana tahlil malam nanti. Shenny memang tidak tahu apa apa karena ia nasrani sedang yoyok Islam. jadi semua ritual mulai malam nanti sampai malam ke empat puluh diambil alih oleh keluarga ibunya.

Sedang enaknya ngobrol begitu , Rani kelihatan berjalan dari ujung lorong. Langkahnya cepat dan mukanya keruh. Sepertinya lagi tidak enak hati.
" bojomu lho mbak!" katanya ketus sambil duduk di kursi sebelahku dengan kesal.
" ada apa ?!", kataku sambil menggandengnya, mengajak duduk menjauh dari bude dan bulik yoyok,' nang kene ae , gak enak dirungokno uwong"kataku lagi
"mosok aku diilok ilokno! mangkel aku! "
" dilokno opo?!"
" mosok aku di pelacur pelacurno"
" subhanalloh... "
" omongono , to mbak!"
Aku terdiam. Amran memang sangat ringan mulut.Tidak peduli dimana , asal dia mau ngomong ya langsung ngomong saja. Gak main!. Sikapnya itu juga sangat menggangguku. Aku tidak pernah tega untuk bicara kasar atau yang sekiranya tidak pentas untuk diucapkan , tetapi ia selalu tega mengeluarkan kata kata yang bahkan bisa membuat muka kami merah padam.

Kami duduk berdampingan dan tidak saling bicara. Rani kelihatan sangat jengkel!. Bibirnya terkatup dan matanya sedih. Ia kelihatan sedang menahan kejengkelannya. Aku membiarkan saja karena memang tidak tahu harus bagaimana. Aku juga tidak berusaha merayu dan mengelus hatinya.Tidak!. Rani itu lebih punya banyak waktu bersama Amran karena memang mereka sekantor. Pulang kantorpun mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Dugem , jalan jalan ke moll atau apa saja. Lagi pula ini bukan kali pertama dia tersinggung seperti itu. Seperti yang lalu lalu , aku yakin semua akan biasa lagi. Sebetulnya , dimataku , mereka sama gilanya. se level!.
Kira kira dua puluh menit kemudian, Amran cs kembali. Dia menghampiriku sambil menenteng satu bungkusan.
' gado gado, dek"
" tq"
"mbak Rani mau", kataku menawarinya
" nggak mbak, suwun... "
Karena cuma satu bungkus dan disana ada banyak orang, gado gado itu kumasukkan tasku.Rani berdiri ikut dibelakang Amran yang meninggalkanku.Ia ikut bergabung dengan anak anak kantor. Aku tidak menghalanginya meski akhirnya aku duduk sendiri.Jujur hatiku perih melihat pemandangan ini. Rani lebih leluasa ikut Amran. Seolah ia merasa lebih berhak untuk bersama suamiku. Mungkin tidak begitu.... yang benar , aku lebih merasa sungkan untuk bergabung dengan mereka, iu saja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS